“Mungkin Tuhan tahu kau sedang kesepian.”
Oleh Taqiya Herman
Tiiittt…
Garis lurus di mesin itulah yang mengantarku ke jalan yang panjang ini. Aku berjalan sendirian hanya dengan sebuah lentera di tangan. Baiklah, meskipun jalannya panjang akan aku lewati juga. Tiba-tiba, pada ujung jalan es tersebut, aku melihat cahaya api unggun dengan seorang laki-laki bermantel tebal di depannya. Dengan berlari aku lalu menghampiri lelaki itu.
“Hey, apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku padanya.
Rasanya aku seperti pernah melihat orang ini. Dia lalu berbalik dan memandang ke arahku. Aku terkejut bukan kepalang. Orang itu, dengan tinggi 183 cm, berwajah pucat dan kurus seperti tengkorak memandang lurus ke arah ku. Jonghyun Kim! Idola yang telah meninggal dunia itu tersenyum padaku.
“Kemarilah, akan aku ceritakan padamu kisahku. Tentang seorang yang tak dihargai sikap baiknya,” katanya.
Aku menurut saja dan duduk di atas batang kayu lembab, tepat di sampingnya.
“Aku hancur, depresi yang menggerogotiku membuatku tak bisa mengontrol diriku sendiri. Aku benci pada diriku sendiri. Aku berusaha mengubahnya tetapi tak ada yang merespon.” Ia menarik nafas lalu kembali bercerita, “jika aku tak bisa membuat diriku bernafas dengan benar, ada baiknya aku berhenti bernafas saja. Mungkin itulah yang mereka inginkan. Aku benar-benar sendirian. Mereka bahkan tak pernah memperhatikanku.”
Dia mematahkan ranting kayu di sampingnya. Lalu memandang ke arahku, “apa kau ke sini untuk mengikutiku?” tanyanya.
Aku mengangkat bahu dan menunjuk langit yang gelap. “Mungkin Tuhan tahu kau sedang kesepian,” ujarku.
Dia tertawa dan menepuk pundakku keras dan aku pikir itu agak sakit.
“Sebelum aku mati, aku bertanya-tanya kenapa aku mati? Dan, aku akan menjawab karena aku lelah. Biarlah aku merelakan kehidupan untuk kebahagiaan. Gadis kecil, kau tahu, janganlah kau ikuti jalanku ini. Janganlah kau ikuti aku. Hiduplah dengan bahagia,” katanya.
Kim Jonghyun menangis dan berdiri. Dia menarik tanganku dan berkata, “Aku pikir ini bukan saatnya. Terima kasih karena hari ini aku tak kesepian.”
Dengan cepat cahaya kilat kembali membawaku pergi dan lenyap dari hadapannya.
(Tulisan ini terinspirasi dari surat terakhir Jonghyun)
