“Kawan, sejatinya kita tak pernah benar-benar kehilangan, karena kita tak pernah benar-benar memiliki.”
Oleh Herman Attaqi
Semua orang pantas bersedih atas kehilangan sesuatu yang teramat berharga dalam hidupnya. Ada duka di setiap kehilangan. Bahkan bisa jadi hal yang paling ditakutkan orang ketika berpikir tentang kematian bukanlah bagaimana kehidupannya setelah kematian itu, tetapi bagaimana dia mesti berpisah dengan sesuatu yang sangat dicintainya?
Filsuf materialisme berpendapat bahwa kehidupan ini hanyalah dialektika materi yang terus berkontradiksi, bermakna bahwa segala sesuatu tak pernah benar-benar punah, akan tetapi dia lebur akibat persinggungannya dengan materi lainnya dan hasil dari peleburan itu menciptakan satu materi baru pula dengan kuantitas dan kualitas yang berbeda dari sebelumnya. Begitulah dunia ini berkembang menurut pendapat mereka. Kehidupan kita hari ini adalah hasil dari proses kehidupan sebelumnya. Bahkan diri kita ini adalah hasil dari evolusi kita sebelumnya. Siklus sejarah manusia ini jadi seperti spiral, bukan bergerak lurus.
Tapi, di sinilah letak masalahnya. Coba perhatikan diri kita. Kita sebagai manusia (al insan). Jika manusia hanya dilihat sebagai materi tunggal yang bersifat dan bermaujud jasad saja, mungkin pendapat di atas bisa dibenarkan. Sayangnya manusia bukan diciptakan dengan materi tunggal jasad belaka. Justru yang memberi kehidupan adalah ruh.
Apakah ruh manusia bisa melebur atau hancur? Coba deh baca kitab-kitab para ulama tentang ruh terutama karangan Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyah. Perjalanan ruh itu justru akan terus berlanjut terus sampai kepada fase kehidupan selanjutnya, bahkan harus mempertanggungjawabkan setiap perbuatan yang dilakukan oleh manusia selama di dunia. Jadi, ruh itu tetap dan tidak berkembang sebagaimana siklus dialektika kaum materialis.
Lalu, apa makna kehilangan sebagaimana yang dibicarakan di atas? Jawabannya, jika hal yang berwujud materi itu sesuatu yang bisa habis (fana), maka kesadaran akan kefanaan itu harus dihadirkan dalam diri. Sementara kesadaran akan kesejatian dan keabadian ruh juga harus melekat dalam diri tiap insan.
Itulah hakikat keberimanan. Iman adalah memunculkan kesadaran bahwa segenap kepemilikan kita atas harta, kekuasaan, bahkan keluarga akan musnah dalam wujud materinya. Adapun kepada manusia, tak akan pernah benar-benar kehilangan jika yang menyatukan itu adalah ruh yang abadi.
Saat kau berkata, “aku mencintaimu, wahai isteriku”, sadarilah bahwa yang kau cintai bukan jasadnya yang cantik dan mempesona. Karena jika yang kau cintai hanya itu saja, maka kau akan cepat kehilangannya.
Namun, jika cinta itu dikarenakan cinta atas ruh yang diikuti oleh pemahaman atas tanggung jawab ruh kepada hari-hari kemudian, maka akan ada cinta yang bertanggung jawab. ‘Merasakan’ dan ‘mendalami’ sesuatu dengan ruh itu akan lebih dalam, lebih intens. Hingga saat jasadnya tiada, kita takkan pernah benar-benar kehilangan. Justru doa kita adalah, “Aku akan meminta kepada Tuhanku agar kita dipertemukan dua kali. Pertama di dunia ini dan yang kedua saat nanti di surga.”

Agama mengajarkan untuk tak meletakkan cinta kepada dunia ini lebih tinggi dari pada cinta kepada Tuhan. Agar dengan pengajaran itu manusia tak senantiasa menjadi makhluk yang berkeluh kesah.
Kawan, sejatinya kita tak pernah benar-benar kehilangan, karena kita tak pernah benar-benar memiliki. Jika diri kita dan semua yang ada di dunia ini milik Tuhan, maka kepada-Nya-lah kita berserah diri.
Demikianlah agama ini telah disiapkan dengan begitu sempurna agar makhluk bisa merasakan apa itu bahagia, meski tak pernah memiliki. Sudahi sedihmu. Takutlah hanya jika yang hilang dalam diri ini justru Tuhan. Kemana nanti kau akan mengadu?
