“Bodo amat adalah kunci.”
Oleh Herman Attaqi
Saya hendak membagi pengalaman membaca buku yang menyegarkan. Buku yang ditulis oleh blogger kenamaan Mark Manson yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat.
Awalnya saya ditawari buku ini oleh Ziyad Ahfi, dan seperti biasanya saya tidak begitu tertarik dengan buku-buku bergenre psikologi populer model begini. Ah, paling isinya seperti ceramah-ceramah Mario Teguh, saya pikir. Spontan saya katakan itu buku orang jual obat.

Ziyad Ahfi dan Buku “Bodo Amat”
Hingga suatu hari via akun twitter pribadi, saya tertarik dengan cuitan seorang penulis terkenal Indonesia (tak perlulah saya sebut namanya), bagaimana dia menyukai buku ini, dan kemudian spontan saya tag ke Ziyad Ahfi untuk dikirimkan buku yang pernah ditawarinya ini. Entah karena penasaran dengan isi bukunya atau mungkin juga karena sedang dalam kegalauan hidup, saya merasa perlu secara spiritual mencari sesuatu yang mungkin bisa memperkaya dimensi spiritual itu. Toh, jugakan, sebagaimana hidup, kita mestinya punya bacaan yang variatif agar tidak terlalu jumud dan membosankan.
Usai membaca, saya malah jadi bersemangat untuk menulis sesuatu. Sekadar ingin berbagi pengalaman dan sekalian menguatkan ingatan tentang pengalaman yang saya peroleh dari membaca buku ini.
Jangan Berusaha
Itulah frasa pertama yang saya temui di awal, Jangan Berusaha. Kemudian dibuka dengan kisah Charles Bukowski yang dulunya adalah seorang lelaki yang hancur lebur. Ia seorang pecandu alkohol, senang main perempuan, penjudi kronis, kasar, kikir, tukang utang dan–dalam hari-hari terburuknya–seorang penyair. Saking parahnya si Bukowski ini, sampai-sampai Mark menggambarkan dia barangkali adalah manusia terakhir di muka bumi yang bakal Anda mintai nasihat tentang kehidupan, atau nama terakhir yang ingin Anda lihat dalam deretan buku motivasi jenis apa pun.
Kasihan betul rasanya menjadi Bukowski ini. Saya lantas melihat ke dalam diri saya, ada sesuatu yang relate di situ dari apa yang ditulis oleh Mark di bukunya. Meski demikian saya tak berani menyimpulkan kehidupan siapakah yang lebih tragis di antara kami.
Yang menarik dari kisah Bukowski yang malang ini, yang senasib banyak penanggungan ini adalah selama tiga puluh tahun kehidupan dewasanya yang berjalan tanpa arti itu, hampir seluruh waktunya ada dalam bayang-bayang alkohol, narkoba, judi, dan pelacuran. Tapi, ia tak pernah berhenti bermimpi dan berusaha dengan caranya untuk menjadi seorang penulis. Hingga saat berusia 50 tahun akhirnya kesempatan itu datang.
Novel pertamanya ditulis hanya dalam tiga minggu yang berjudul Post Office diterbitkan oleh penerbit independen. Di dalamnya ia menulis, “Didedikasikan untuk tak seorang pun.” (Pada titik ini saya merasakan betul kesepiannya).
Kelak Bukowski mencatatkan diri sebagai penulis novel dan puisi yang sukses. Lalu, apa yang ditulis oleh Mark mengenai kisah Bukowski ini akan menjadi inti dari buku renyah ini, yakni; Lihat, meski nyatanya bukunya laris manis dan sosoknya terkenal, Bukowski dulunya adalah seorang pecundang. Ia tahu benar itu. Dan, keberhasilannya bukan hasil kegigihannya untuk menjadi seorang pemenang, namun dari kenyataan bahwa ia tahu kalau dirinya seorang pecundang, menerimanya, dan kemudian menulis secara jujur tentangnya. Ia tidak pernah mencoba untuk menjadi selain dirinya sendiri. Kecerdasan dalam tulisan Bukowski bukan soal memanfaatkan peluang yang luar biasa atau mengembangkan dirinya menjadi seorang sastrawan yang gemilang. Yang ada adalah kebalikannya. Ia hebat karena kemampuan sederhananya untuk jujur pada diri sendiri sepenuhnya dan setulusnya–terutama mengakui hal-hal paling buruk yang ada pada dirinya sekalipun–dan untuk membagikan perasaannya tanpa ragu.
Agak lama saya tercenung dengan kisah Bukowski ini. Pikiran saya dihenyakkan oleh satu hal penting, kamu sebenarnya tak perlu berpikir keras tentang keburukanmu dan bagaimana merubahnya, tapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana kamu menyadari posisimu sekarang dan cukup menerimanya. Ini adalah masalah mindset, mental dan juga menghindari satu kondisi idealistis yang justru meninggalkan begitu jauh basis materinya. Maksud saya begini, kita terlalu memikirkan kegagalan kita dan terlalu memikirkan bagaimana beranjak menuju kesuksesan. Akan tetapi pikiran-pikiran itu justru menimbulkan kecemasan-kecemasan yang lain. Atau ada juga orang yang terpengaruh dengan segala macam sugesti para motivator, “Saya Juara!” “Saya Hebat!” “Saya Sukses!” Padahal kenyataan berlaku sebaliknya. Inilah, saya kira, yang membedakan buku ini dengan delusi buku motivasi psikologis lainnya.
Bodo Amat
Baiklah, saya coba menulis dengan bahasa sendiri dari apa yang saya tangkap tentang makna Bodo Amat yang dimaksud oleh Mark Manson.
Masyarakat kita sekarang ini tak pernah lepas dari interaksi di media sosial, katakanlah facebook atau instagram. Dan media sosial itu telah menjadi semacam ajang unjuk pamer dan bahkan melahirkan generasi manusia yang sangat meyakini bahwa memiliki pengalaman negatif–seperti rasa cemas, bersalah, berkekurangan dalam materi, dll–adalah sesuatu yang menakutkan. Coba lihat status facebook atau instagram orang-orang; Ada banyak sekali yang menikah bulan ini, keluarga yang sangat bahagia, bisa jalan-jalan dan makan-makan, sahabat yang dipromosikan di kantor, anak-anak yang mendapatkan hadiah yang beraneka jenis, dan lain sebagainya. Sementara itu, Anda mencoba melihat diri Anda seperti kaleng Khong Guan kosong teronggok di rumah, sedang memperbaiki loteng yang bocor atau saluran wc yang mampat. Mau tak mau Anda pasti merasakan betapa menyebalkannya hidup Anda, bukan? Di saat status postingan orang OTW (on the way) dan, sialnya, Anda terjebak di rumah tanpa atau dengan kegiatan ‘tak bermakna’. Ini adalah situasi yang sangat menekan. Berbeda misalnya dengan orang tua kita dulu yang pada saat tertekan begitu, paling mereka hanya ngomel sebentar dan setelah itu kembali melanjutkan pekerjaan mereka. Masalah hidup, ya, masalah hidup. Setelah itu kau harus melanjutkan hidup. Tingkat depresi mereka saya kira tak separah manusia di zaman kiwari.
Oya, saya juga pernah merasakan pengalaman demikian yang membuat saya harus membunuh akun facebook saya. Saat kita tak bisa ke-mana-mana. Saat kita merasa seperti umang-umang terbalik dan megap-megap memperbaiki posisi berdiri, eee, pada saat yang bersamaan kita melihat status facebook orang-orang yang dengan suka cita memamerkan kebebasan dan kebahagiaannya. Maaf, saya terpaksa harus ngomong, betapa TAIK-nya hidup yang sedang saya alami. Dan inilah, kata Mark, yang menjadi sumber kekacauan. Kita kecewa atas kekecewaan itu sendiri. Kita merasa bersalah atas rasa bersalah itu sendiri. Kita jadi marah gara-gara amarah yang menyulut. Kita jadi cemas karena perasaan cemas itu sendiri. Apa yang salah dengan saya? Lalu, Mark menyimpulkan, bersikap masa bodoh, adalah kuncinya.
Inilah alasan mengapa hal itu akan menyelamatkan dunia. Kuncinya adalah jika kita bisa menerima bahwa dunia ini benar-benar keparat dan itu tidak mengapa, karena memang seperti itu, dan akan seperti itu adanya. Kau boleh merasa hidupmu sangat buruk, saya kira. Lantas, kenapa memangnya?
Bagaimana seterusnya sikap Bodo Amat yang baik itu? Bagaimana pula kita menyiapkan tools itu ke dalam diri kita? Apa yang dimaksud dengan tanggung jawab? Itulah mengapa buku yang dihadiahkan bung Ziyad ini sangat layak untuk dibaca. Tapi maaf, betapa pun bokeknya saya saat ini, saya tak ada niat menjualnya. Atau lebih tepatnya, belum.
