“Tuhanku, bawalah jiwaku ke suatu tempat, yang di dalamnya aku bisa bercakap-cakap tanpa kata-kata.”
Oleh Herman Attaqi
Inilah salah satu kalimat yang sangat indah dan sarat makna dari seorang sufi termasyhur, Jalaluddin Rumi.
Apa yang bisa dimaknai dari kalimat di atas adalah bahwa ‘makna’ itu sendiri, meskipun bisa dijelaskan dalam huruf dan kalimat, tetapi tetap tak bisa menjelaskan keseluruhan inti terdalam dari pesan yang bisa ditangkap oleh hati dan pikiran.
Bahasa tak cukup representatif mengungkap rasa, apalagi jika itu berkenaan dengan hubungan yang kontemplatif dengan Tuhan. Maka biarlah itu menjadi bagian sesuatu yang hanya bisa dimengerti, tidak lewat kata-kata.
Pernah dengar ungkapan Rumi yang terkenal ini?, “Semakin kau diam, semakin banyak yang kau dengar.” Ya. Tanpa kata-kata bisa jadi banyak yang kita pahami. Karena ada satu kesempatan kita bicara banyak hal yang tak bisa diungkapkan saat mulut masih berkata-kata.
Ada satu penggalan dalam Surat al-Hajj dalam Al Quran, “Bukanlah mata yang ada di kepala ini yang buta, tapi mata yang ada di dalam dada.” Sebagaimana mata, kita akan bisa melihat lebih banyak justru saat mata dipejamkan dan mata hati dibuka lebar-lebar.
Begitulah kiranya mulut, saat ia dikunci, justru kita bisa bercakap-cakap lebih banyak, lebih baik dan lebih dalam. Pengertian yang baik akan datang dari bagian terdalam diri. Bukan dari sesuatu yang terlihat kasat dan indrawi. Cinta itu hakikat. Kau tak bisa melihat, merasa dan memahaminya hanya dengan raga, tapi sepenuh jiwa.

Simbol dan Tirai
Simbol adalah bahasa yang digunakan untuk memahami sesuatu yang tak bisa diungkap oleh kata atau kalimat. Memahami di sini berarti mengetahui makna yang terkandung. Mengerti dengan pesan yang tampak atau tersembunyi. Sayangnya, banyak sekali orang justru terjebak atau terpukau dengan simbol tanpa memahami makna dari simbol itu. Jika itu yang terjadi, maka seseorang tak akan pernah mengerti hakikat. Malah semakin jauh melenceng dari apa yang diharap.
Syaikh Abu Madyan mengatakan,
من لم يجلع العذار لم ترفغ له الاستار
“Sesiapa tak melepas simbol, ia akan terbelenggu oleh tirai.”
Simbol itu sejatinya adalah tanda ataupun petanda yang memudahkan seseorang berkomunikasi dengan lingkungannya. Ia hanya identitas untuk mengenali atau dikenali oleh orang lain. Namun, yang jadi masalah adalah ketika manusia justru menjadikan simbol-simbol itu begitu sakral, bahkan menjadikannya bahagian yang sangat penting dalam laku hidup dan ibadahnya (ubudiyah).
Manusia membangun fanatismenya dari simbol-simbol tersebut. Berjuang hidup mati justru karena ingin menegakkan dan menegaskan kuasa simbolitasnya itu. Bagaimana mungkin bisa mencapai kondisi yang memungkinkan kita tersinari oleh cahaya Ilahi ketika kita justru terjebak oleh tirai dan terkekang oleh hijab?
Syariat mengajarkan untuk menjalankan ritual ibadah dengan benar, sesuai tuntunan baginda Nabi. Puncak ubudiyah adalah bagaimana kita bisa sampai kepada keagungan rububiyah, kepada Allah Jalla wa Azza.
Bagaimana batin merasakan kedekatan dengan-Nya. Bagaimana kita (ruh) meyakini bahwa Allah itu sangat dekat, bahkan lebih dekat dari urat nadi, yang bermakna, Allah itu justru lebih dekat dengan diri (ruh) kita dibandingkan diri (jasad) kita dengan diri (ruh) kita sendiri.
Sudahkah kita menuju kepada jalan salik ini? Semakin kita salik merealisasikan jalan ubudiyah, semakin cepat langkahnya di jalan ruhani dan semakin ringan terasa segala kesulitan, semakin sabar terhadap beban, hingga semakin paham makna cinta (mahabbah).
Ampunilah hamba yang fakir ilmu dan jahil akhlaq ini. Maafkan jika terlalu lancang menulis hal ini. Wallahua’lam.
