kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Kisah Kasih Nabi Muhammad yang Tak Sampai

“Semua cinta pada akhirnya akan dikembalikan kepada pemiliknya.”


Oleh Herman Attaqi

Pernahkah kamu menginginkan seseorang untuk hidup bersama mendayung biduk rumah tangga, dan kemudian mendapatkan penolakan? Apakah kamu pernah merasa sangat hancur saat ditolak cintamu? Perih? Mungkin saja kamu merasa yang paling hancur berderai di antara milyaran debit air hujan yang jatuh. Hidup kok begini amat yak?

Tapi, tenang saja. Kamu ga sendirian. Karena nabi Muhammad yang mulia saja pernah ditolak lamarannya.

Masa sih?

Iya!

Begini kisahnya..

Saya awali dengan sebuah hadits shohih riwayat Imam Bukhori dan Muslim, Rasulullah saw bersabda, “Sebaik-baik wanita yang mengendarai unta adalah wanita sholeha dari suku Quraisy; paling lembut kepada anak di usia kecil dan paling menjaga pada harta suami.”

Asbabun nuzul hadits ini adalah, di dalam kitab Shohih Muslim diriwayatkan dari Abu Hurairoh ra, Rasulullah saw melamar seorang wanita Quraisy, Ummu Hani’. Ummu Hani’ bukanlah orang lain bagi baginda Nabi. Karena beliau adalah putri dari paman nabi Abi Thalib bin Abdul Mutholib yang sekaligus kakak dari dua sahabat mulia Ali bin Abi Tholib dan Ja’far bin Abi Tholib. Sebagaimana kita ketahui bahwa Nabi pernah diasuh oleh pamannya Abi Tholib, tentu beliau sangat mengenal wanita yang hendak dilamarnya tersebut.

Namun sayangnya, manusia hanya bisa berharap, perkara jodoh tetaplah Allah swt yang menentukan. Ummu Hani’ menolak pinangan Rasulullah dengan bahasa yang sangat halus. Beliau mengatakan kepada Nabi, “Ya Rasulullah, engkau lebih aku cintai daripada penglihatan dan pendengaranku. Sementara hak suami itu besar. Aku takut jika sedang melayani suamiku, aku melalaikan urusanku dan anak-anakku. Jika aku sedang mengurus anakku, aku melalaikan hak suamiku.”

Saya ga bisa membayangkan jika hal ini terjadi pada diri saya. Pasti otomatis akan nulis status di fesbuk, “Kau adalah aminku yang tak bisa kusemogakan.”

Sayup-sayup terdengar suara nyanyian Dewa 19..

Baru kusadari.. Cintaku bertepuk sebelah tangan.. Kau buat remuk seluruh hatiku..

Ya Allah sedihnyaa 😥😭

Namun, Rasulullah beda. Beliau adalah lelaki tangguh sekaligus manusia paling berakhlak mulia ini justru mengeluarkan kalimat sebagaimana hadits yang ditulis di atas, yang memberikan pujian kepada Ummu Hani’, “Sebaik-baik wanita yang mengendarai unta adalah wanita sholeha dari suku Quraisy; paling lembut kepada anak di usia kecil dan paling menjaga pada harta suami.”

Fiuhhhh..

Wahai kau lelaki patah hati, jangan lemah kalian jika ditolak. Semangat!

Namun, ada yang lebih mengejutkan lagi. Ternyata penolakan Ummu Hani’ terhadap pinangan Rasulullah adalah untuk yang kedua kalinya. Dan Ummu Hani’ adalah cinta pertama Nabi.

Nabi pernah memberanikan diri menghadap pamannya Abi Tholib untuk melamar Ummu Hani’. Kejadian ini jauh sebelun turun nubuwwat bahkan sebelum Muhammad saw bertemu dan menikah dengan Khadijah al-Kubro. Namun apa hendak dikata, lamaran nabi ditolak oleh pamannya karena Ummu Hani’ sudah terlebih dahulu dilamar oleh orang lain.

Sedih ga sih?

Tiba-tiba saya pengen nulis puisi..

puisi yang tak selesai, telah kulipat jadi bahtera. ia berlayar di selokan pada genangan sisa hujan semalam.

Sambil diiringi lagu Sheila on 7..

Kenapa ada derita, bila bahagia tercipta. Kenapa ada sang hitam bila putih menyenangkan.
Aku pulang… Tanpa dendam… Kuterima kekalahanku…

Sekali lagi, Muhammad al-Amin beda. Beliau adalah lelaki tahan banting dan tetap membujuk sang paman agar menerima lamarannya.

Kalo kata anak zaman now.. Petrus Jankador… Pepet terus jangan kasih kendor…

Sang paman yang juga sangat menyayangi ponakannya itu tetap menolak dengan mengatakan, “Bahwa mereka telah menyerahkan putri mereka untuk dinikahi.” Maksud perkataan Abi Tholib itu adalah ibunda Rasulullah berasal dari suku yang sama dengan Hubayroh yang melamar Ummu Hani’. Abi Tholib melanjutkan, “Maka, seseorang yang baik haruslah membalas dengan perlakuan yang sama atas kebaikan yang telah mereka lakukan kepada kita.”

Begitu lah keluhuran budaya Arab waktu itu.. Klan Bani Makhzum, asal keluarga Hubayroh bin Abi Wahb pernah menikahkan putri mereka dengan salah seorang dari Bani Abi Tholib. Sehingga tertutuplah kemungkinan Rasulullah bisa bersanding dengan wanita pilihan hatinya.

Betapa sedihnya.. 😥😭

Sayangnya, penikahan Ummu Hani’ dengan Hubayroh harus dipisahkan oleh perbedaan keyakinan. Ummu Hani’ memutuskan memeluk agama Islam, sedangkan Hubayroh tetap setia dengan agama nenek moyangnya. Itulah kenapa Nabi melamar Ummu Hani’ untuk kedua kalinya dan mendapat penolakan pula untuk yang kedua kalinya. Hikz.

Terakhir, saya ingin mengatakan kepada kalian semua para pembaca budiman. Kepada bani patah hati. Belajarlah dari kisah ini. Jadikan Nabi Muhammad saw sebagai uswatun hasanah, tauladan yang mulia. Penolakan cinta bukanlah sesuatu yang mesti ditangisi.

“Patah hati bukan sifatnya lelaki, apalagi sampai nekat bunuh diri.” (Joni Iskandar)

Ga. Patah hati ga boleh menjadikan kita lemah, merana dan terluka. Kuatlah. Karena kalo seseorang yang kau harapkan akan jadi jodohmu, tapi takdir menetapkan bukan, maka, akan ada jodoh yang lebih baik yang sedang disiapkan oleh Allah untukmu. Lihatlah, akhirnya Rasulullah mendapatkan kekasih yang sangat dicintainya dunia dan akhirat, yakni Ummul Mukminin Khadijah al-Kubro.

Dan pelajaran penting kedua kita dapatkan dari Ummu Hani’, yakni sebagai mukminah tentu ia sangat mencintai Rasulullah. Perempuan mana yang tak menginginkan bersanding dengan manusia paling mulia? Dengan kekasih Allah? Tapi, ia tak mau jadi penghambat dakwah Rasulullah. Ia bahkan menahan egonya demi kemaslahatan yang jauh lebih besar.

Sampai akhir hayatnya, Ummu Hani’ dikenal sebagai shohabiyah yang meriwayatkan banyak hadits. Bisa kita baca dalam kitab Imam Bukhori, Muslim ataupun dalam kitab Riyadush Sholihin karya Imam Nawawi.

Bahkan saking istimewanya Ummu Hani’ dan keluarganya, pada peristiwa bersejarah Isra’ Mi’raj-nya Rasululullah sedang berada di rumah Ummu Hani’ dan keluarga. Ummu Hani’ juga orang yang pertama diceritakan oleh Nabi tentang perjalanan Isra’ dan Mi’raj tersebut.

Semua cinta pada akhirnya akan dikembalikan kepada pemiliknya, yakni Allah ‘Azza wa Jalla. Ia-lah Allah yang menciptakan langit dan bumi, yang menciptakan siang dan malam, yang menciptakan senja yang jingga, yang menciptakan kenangan, air mata dan senyuman. Agar manusia belajar sembari mengambil hikmah dari setiap kejadian. Melangkah dengan keyakinan penuh, bahwa Allah akan mengokohkan pijakan dan langkah kaki-kaki kecil kita menuju pelukan-Nya. Allahu Robbi..

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai