kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

A Halu Story (Part 2) : Taqiya Meet Jonghyun

“Setelah aku mati, aku sadar, bunuh diri tak menyelesaikan rasa sakit.”


Oleh Taqiya Herman

“Mengapa kau kemari? Apakah kau sedang bersedih?” laki-laki itu bertanya padaku.

Malam ini, entah bagaimana caranya, aku bertemu kembali dengannya.

“Entahlah, aku tidak tahu. Mungkin setiap aku sedih dan kesepian, Tuhan mengirimkanmu padaku,” jawabku asal.

Ketika mengatakan itu, tubuhku masih saja meringkuk. Bukan karena aku sedih, tapi di sini sangat dingin. Aku tidak berbohong.

Mendengar itu dia terkekeh.

“Saat kau sedih, pada siapa kau tumpahkan?” tanyanya sambil mendekat ke arahku.

Aku melirik ke arahnya. Mungkin malam ini dia memang sedikit banyak tanya. Tapi, percayalah memang dia orang yang kubutuhkan saat ini.

“Aku meneriakinya ke langit. Lalu mungkin karena langitnya kepenuhan dia menumpahkannya padamu,” aku tertawa hambar. Ini memang sangat sulit.

“Kau tak perlu bunuh diri. Setelah aku mati, aku sadar bunuh diri tak menyelesaikan rasa sakit. Rasa sakit itu tetap ada. Dia hanya diteruskan pada orang lain..,” katanya dengan suara serak. Mungkin dia ingin menangis.

“Maafkan aku, mungkin rasa sakit yang tak kuselesaikan itu kini kau yang Tuhan suruh selesaikan. Lupakanlah masalah yang menyakitimu, yang membuatmu kecewa dan tak habis pikir karenanya,” ia mengakhiri kata-katanya.

Tapi aku masih saja terus menatapnya. Ia menyadarinya. Menatap, lalu bertanya, “apa yang kau tunggu? Kan sudah selesai masalahmu?” katanya.

Aku terkekeh.

“Bisakah kau nyanyikan sebuah lagu?” pintaku.

Ia menarik napas pasrah.

“Kalau hanya itu yang bisa membuatmu kembali ke duniamu, maka aku bersedia.”

Mendengar itu, aku mengangguk senang.

Baby, i am so lonely..
Nado honja issneun geosman gatayo
Geuraedo neoege ti naegi silheo
Naneun honja chamneun ge deo iksukhae…

Lirik terakhir habis terbawa salju yang berhembus kencang. Menubruk tubuh Kim Jonghyun yang kini telah tinggal sendirian lagi.

Aku mengatur ritme pernapasanku. Seperti adegan pendinginan dalam senam. Tapi, ada satu dialog kami yang tak pernah kulupa.

“Kalau kau ingin jadi psikolog, kau tentu tak boleh menyerah gadis kecil. Tak boleh banyak keluh,” ucap lelaki itu. Iapun menanyakan apa yang ingin aku lakukan di masa depan.

Demi mendengar kalimat barusan, aku lalu bangkit dan berdiri tepat di sampingnya.

“Tentu saja! Bagaimana aku akan menyerah, sedangkan ada banyak jiwa yang akan bersandar di pundakku,” jawabku.

Ia tersenyum. Menunduk agar tubuh tingginya sejajar denganku.

“Kau ingin jadi psikolog bukan?” Ia melirikku dan berujar, “untuk jadi seorang psikolog, wajar kau diberi ujian hidup seperti ini. Kalau seorang psikolog tak pernah mendapat masalah, tak pernah mendapat goncangan yang membuatnya jatuh hingga ke titik terendah, bagaimana pula kau akan memahami masalah hidup pasienmu? Sedangkan kau sendiri saja tak pernah mengalaminya?” ia mengakhiri kalimatnya.

Aku tertegun. Bukan karena marah. Tapi, karena ia benar. Ia selalu benar. Kim Jonghyun memang yang paling mengerti urusan ini.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai