kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Apa Beda Malam Minggu dengan Sabtu Malam?

“Sehingga kita ga boleh menganggap biasa satu hal yang menurut kita biasa.”


Oleh Herman Attaqi

Ini adalah pertanyaan falsafati! (Serius). Tanpa tendensi apapun kepada siapapun. Dan, seberapa paham kita memaknai makna dari satu momen yang mungkin biasa saja.

Momen yang biasa adalah momen yang berulang semacam siklus, tapi kita tetap sibuk untuk memikirkan pikiran orang lain daripada mencoba memahami pikiran sendiri. Momen yang biasa itu ibarat mencium wewangian pas hidung lagi mampet, akan tetapi sesungguhnya kita ga tahu juga bagaimana bau wangi itu. Jadi meaningless, tak bermakna.

Wait..

Ngupil dulu bentar..

Jadi gini…

Konon suatu ketika seorang guru para Shaolin pernah mengajukan pertanyaan kepada murid-muridnya. Sang Guru bertanya, “ini ada sebuah botol, berisi air setengah botolnya, bagaimana kalian menjelaskan fakta ini?”

Sang Murid-pun terbelah menjadi dua kubu. Kubu pertama mengatakan, “ini adalah botol yang setengah kosong.” Sedangkan kubu yang kedua berpendapat, “ini adalah botol yang setengah isi.

Dari satu fakta itu saja orang bisa berbeda pendapat yang kalo tanpa dipikir-pikir sebenarnya ga ada yang perlu diperdebatkan. Akan tetapi sesungguhnya pandangan “setengah kosong” dan “setengah isi” itu punya perspektif yang berbeda secara diametral. Yang satu lebih kepada melihat yang kosong, sedangkan yang lain pada isi. Menurutmu, mana yang lebih punya perspektif positif?

Perspektif itu adalah sudut pandang, atau point of view. Orang tidak bisa sekonyong-konyong punya perspektif tanpa melalui sebuah proses yang disebut berpikir. Alam pikirlah yang membangun perspektif. Jadi ‘kosong’ dan ‘isi’ bersandar pada alam pikiran.

Sementara itu alam pikiran adalah akumulasi informasi yang berhasil diserap otak. Sedangkan otak manusia berkembang memerlukan beberapa aspek, di antaranya; asupan nutrisi, olah raga yang teratur dan selebihnya dibutuhkan piknik yang cukup. Jadi, jika dibuat alur prosesnya, perspektif itu muncul kira-kira akan seperti ini;

Nah, dari uraian alur perspektif di atas, setiap orang bisa mendiagnosa jika sewaktu-waktu ada masalah dengan pikirannya. Apakah masalahnya disebabkan oleh kurang piknik, kurang olah raga, ̶k̶u̶r̶a̶n̶g̶ ̶k̶a̶s̶i̶h̶ ̶s̶a̶y̶a̶n̶g̶, kurang nutrisi dan seterusnya?

Sehingga kita ga boleh menganggap biasa satu hal yang menurut kita biasa. Loh? Intinya, kamu boleh selow, santai (jodoh takkan kemana). Serah deh. Tapi juga, jangan pernah menyepelekan sesuatu.

Jadi, maksud saya mengurai analisis yang meski kurang berkenan secara ilmiah seperti di atas adalah sekedar ingin memberikan pijakan bagi sidang pembaca budiman, tentang bagaimana mesti menjawab pertanyaan inti dari tulisan ini; Apa beda ‘malam minggu’ dengan ‘sabtu malam’-mu?

Selamat menjawab! Intelektualitas memang tak berjarak ya galauers? 😉😅

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai