kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Kisah Parjo dan Orang Gila

“Karena selalu ada kasih di balik kisah hidup manusia.”


Oleh Ziyad Ahfi

Sore itu, di balkon atas kontrakan yang hampir sepi, terjadilah diskusi yang tak berkesudahan antara semesta dan alam pikiran Parjo. Anak muda yang masih mempunyai beberapa tetes militansi itu selalu berupaya mempertanyakan apa yang menjadi keraguannya selama ini. Sebab, setiap petang ia selalu terlena oleh berbagai macam sihir kota Jogja. Sebab itu pula ia selalu nyaman dengan kesendirian. Dari kicau burung yang bergerombol terbang, hembusan angin yang menyelinap di sela-sela pepohonan, hingga menunggu terbenamnya matahari, lalu azan magrib yang saling bersahut-sahutan di antara masjid-masjid.

Langit mulai menghitam, di atas bumi Jogja tampak bulan mulai menyembul. Bergegaslah Parjo mengenakan sarung kebanggaannya, koko putih, peci rotan kesayangan, dan sandal jepit polos hitam. Barangkali itulah pakaian kebesaran layaknya seorang raja yang akan menghadiri acara perhelatan besar kenegaraan.

Setibanya di masjid, Parjo melihat salah seorang jamaah yang bergaya seperti orang gila. Rambut berantakan, pakaian kumuh, air liur menetes di sela-sela mulut, dan berdiri tepat di samping pintu masuk masjid. Berkumandanglah iqomah. Jamaah mulai merapatkan shaf sesuai perintah imam. Dalam benak Parjo, “saya tidak mau dekat-dekat orang itu. Orang gila pasti bau.”

Selesai salam tahiyyat akhir, orang-orang berzikir dan berdoa sesuai kehendak masing-masing. Lalu, pulanglah Parjo ke rumah. Kembali menyelusup ke balkon, tempat ia kembali menghitung bintang-bintang yang selalu dianggapnya sebagai impian yang suatu hari nanti akan ia petik satu persatu.

Parjo adalah mahasiswa yang masih mencari jati diri. Sholat pun tidak selalu ke masjid. Kadang ada malasnya, kadang ada telatnya juga. Sepulang kuliah, Parjo selalu melakukan ritual tidur siang untuk menjaga agar tubuhnya tetap fit. Jika tidak melakukan ritual tidur siang, tubuh dan pikirannya mungkin tidak sanggup memikul beban hidup yang penuh tanda tanya ini. Penuh dengan pelbagai macam teka-teki yang kadang membuat pikirannya habis tersia-siakan. Seperti masa muda yang tak berguna.

Terjagalah Parjo di waktu ashar. Karena rumah kontrakannya sangat dekat dengan masjid, kumandang azanlah yang selalu menjadi alarm. Berat rasanya ia meninggalkan kasur empuk dan sepoi kipas angin kamar, tetapi kegigihan ingin solat ashar di masjid tetap terlaksana. Setiba di masjid, Parjo kembali melihat orang yang bergaya gila itu di waktu magrib kemarin. Tempat ngetem orang itu tetap di dekat pintu masjid. Semacam halte pemberhentian bus bagi sopir yang hendak menurunkan sekaligus menaikkan penumpang.

Kembali Parjo menggerutu dalam hati, “ah, dia lagi dia lagi si Bau Dekil, malas sekali dekat dengannya.”

Ternyata setelah pertama kalinya Parjo melihat orang itu di magrib kemarin, ia melihat lagi di waktu ashar keesokan harinya. Dan, begitu seterusnya saban ke masjid, tak pernah Parjo tak melihat orang gila itu.

Sekembalinya ke kontrakan, entah kenapa rak buku yang tiga tingkat terpampang di sudut kamar itu menyihir Parjo untuk kembali ingin membuka lembaran-lembaran itu. Ia comot aja sembarang buku. Terpilihlah buku hijau setengah rusak bahkan hampir robek. Buku itu berjudul Nashaihul Ibad (Nasihat Ibadah) karya Imam an-Nawawi Albantany. Lama membaca, bertemu nasihat Sayyidina Umar bin Khattab Radiyallahu Anhu yang menusuk-nusuk kesombongan yang ada di dalam diri Parjo.

Sayyidina Umar berkata bahwa ada enam perkara yang dirahasiakan oleh Allah SWT;

Pertama, Allah Swt menyembunyikan keridhaan-Nya dalam ketaatan kepada-Nya. Allah Swt sengaja menyembunyikan keridhoan itu agar manusia tetap terus dalam ketaatannya dan tidak meremehkan ketaatan meskipun sangat kecil. Siapa tahu di antara ketaatan yang kecil itu terdapat keridhoan Allah Swt.

Kedua, Allah Swt menyembunyikan murka-Nya dalam kemaksiatan seorang hamba-Nya. Allah Swt sengaja merahasiakannya agar manusia tidak meremehkan sekecil apapun kemaksiatan, sebab boleh jadi justru kemaksiatan yang dianggap sangat kecil itu terdapat murka Allah Swt di dalamnya.

Ketiga, Allah Swt menyembunyikan Lailatul Qodar dalam bulan Ramadhan, agar setiap hari di bulan ramadhan hamba-Nya selalu menghidupkan ibadah malam. Sebab, jika tidak dirahasiakan Allah Swt, pastilah hamba-Nya hanya menghidupkan ibadah malam pada hari yang ditetapkan itu saja.

Keempat, Allah Swt menyembunyikan para wali di antara manusia, agar manusia tidak pilih kasih dalam menghormati sesama manusia lainnya. Sebab, kalau seseorang meremehkan orang lain, boleh jadi yang diremehkannya itu adalah Wali Allah.

Kelima, Allah Swt menyembunyikan kematian dalam umur, agar manusia selalu mempersiapkan diri untuk menyambut kematiannya.

Keenam, Allah Swt menyembunyikan sholat yang paling utama dalam sholat lima waktu. Karena di antara sholat lima waktu itu ada satu sholat yang paling Allah ridhoi jika kita sungguh-sungguh melaksanakannya. Dan, Allah Swt sengaja tidak memberi tahu hal itu, agar manusia selalu memelihara sholat lima waktunya.

Selesai membaca enam perkara itu, merenunglah Parjo dalam kesendiriannya di balkon atas rumah kontrakannya. Seperti tersambar geledek di siang bolong, sekonyong-konyong muka Parjo pucat ditambah lagi jidatnya jadi mengkerut.

Azan magrib kembali berkumandang. Suasana itu membawa imajinasi Parjo kepada kisah sahabat Bilal bin Rabah yang menangis ketika mengumandangkan azan sepeninggal Nabi Muhammad Saw. Tak lama kemudian Parjo bersiap-siap mengenakan pakaian kebanggaannya, sarung hitam bergaris merah, koko biru dongker berlipat lengan, dan peci rotan bak mahkota raja. Di lorong gang yang mengarah ke masjid telah pula ramai terdengar suara gesekan sandal. Pak Haji mengayuh sepeda ontel dan suara anak-anak bercengkrama sambil menenteng buku Iqro di tangan.

Barangkali itu adalah suasana romantisme yang jarang dijumpai di perkotaan. Suasana sekitaran masjid masih seperti biasa. Dan tak heran lagi, si Bau Dekil yang sering diejek Parjo dalam hati itu tetap hadir di posisi ngetem yang tak asing lagi, yaitu di samping pintu masjid. Tetapi, kali ini suasana hati Parjo agak berbeda dari sebelum-sebelumnya. Ia tak lagi menggerutu, bersuuzhon. Karena ia ingat pesan di kitab Nasihat Ibadah itu bahwa Allah Swt merahasiakan wali-Nya. Siapa tahu orang yang dianggap gila oleh Parjo adalah Wali Allah. Sebab ia sangat teguh menegakkan syariat Allah. Di tiap sholat berjamaah yang dihadiri Parjo, pasti selalu ada dia, bahkan datangnya lebih dulu.

Allah Swt juga merahasiakan keridhoan dan kemurkaan-Nya. Sebab, boleh jadi Parjo yang berpakaian rapi tapi susah berjalan ke masjid itu tidak diridhoi Allah Swt atau bahkan dimurkai oleh Allah Swt (na’udzubillah). Bisa jadi Allah Swt dan para malaikat tengah mencibir ke arah Parjo karena kebusukan hatinya, prasangka buruknya kepada orang yang tak ia kenal. Yang hanya ia lihat dari tampak luarnya saja.

Keesokan harinya Parjo selalu merenung dan mulai rajin mengerjakan sholat berjamaah di masjid. Tidak hanya di waktu yang dia mau saja, tetapi di tiap waktu yang ia mampu berangkatkan sendalnya. Di setiap renungan ia selalu introspeksi diri. Mulai tidak banyak bicara. Mulai berhati-hati pada sesuatu yang dianggap sepele. Sebab, Parjo sangat takut pada ajalnya dan saat ajalnya tiba, ia sedang bermaksiat kepada Allah Swt.

Karena Allah Swt menyembunyikan kematian dalam umur setiap hamba, bersebab itulah Parjo selalu katakan pada teman-temannya, “hati-hatilah dalam berprasangka. Kita tak tahu isi hati seorang hamba. Boleh jadi yang kita anggap seorang yang lebih hina dari kita itu adalah Wali Allah. Dan secara tak langsung, prasangka buruk kita itulah yang sebetulnya sudah jelas-jelas melabeli diri kita sebagai orang yang tak baik.”

Itulah sedikit dari kisah Parjo. Karena selalu ada kasih di balik kisah hidup manusia. Yang akan membelai lembut hatimu yang keras membatu. Meneteskan air kesejukan di palung terdalam hati kita yang kering kerontang.

Semoga Parjo mau kembali menuliskan sedikit kisahnya lagi di kemudian hari. Sembari merenungi senja yang temaram dan matahari yang berangsur pulang ke rumah malam. Salam hormat.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai