“Aku percaya bintang film India akan menemukan kebahagiaan di akhir adegannya.”
Oleh Heri Prasetiawan
Kawan, tulisan ini aku mulai dari satu pertanyaan yang kalau ditanya kepada semua orang bisa jadi masing-masing punya jawaban yang berbeda-beda. Karena pertanyaan ini hanya bisa dijawab oleh pengalaman pribadi kita sendiri.
Apa Itu Cinta?
Kamu dan aku tentu memiliki jawaban yang berbeda bukan? Ada orang yang mengatakan, cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat yang muncul dari ketertarikan pribadi. Cinta juga diartikan sebagai suatu perasaan dalam diri seseorang akibat faktor pembentuknya. Dalam konteks filosofis, cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Cinta juga bla bla bla en buanyakk banget yang bisa disampaikan. Karena kalau ngomongin cinta, orang pasti akan melibatkan sisi emosionalnya yang paling dalam. Intinya, cinta adalah pengalaman batin seseorang yang terikat kepada seseorang atau sesuatu yang dipujanya. Seperti kisah yang akan aku bagikan ini.
Kenalkan namaku, sebut saja Kumbang (walah kaya berita kriminal). Aku adalah seorang mahasiswa di salah satu Perguruan Tinggi di Provinsi Riau. Menjadi mahasiswa merupakan idaman anak muda sepertiku yang selalu semangat menimba ilmu lebih tinggi.
Kulangkahkan kaki dan kuayunkan tangan, serta kukembangkan senyum sambil mendendangkan rasa syukur atas nikmat dan kesempatan bisa mencicipi bangku perkuliahan ini. Aku ingin melompat lebih tinggi dan berlari lebih kencang lagi. Semester demi semester pun telah aku lalui dengan belajar keras dan tentunya tetap riang gembira bersenda gurau dengan kawan-kawanku.
Hingga tibalah waktu untuk KKN (Kuliah Kerja Nyata). Kata sebagian mahasiswa, KKN itu adalah ajang pencarian jodoh. Kawan boleh percaya, boleh ga deh. Tapi, ini bukan aliran kepercayaan yang diakui oleh negara lho. Hanya kok sepertinya mendengar cerita turun temurun memang banyak yang menemukan jodohnya saat KKN itu. Yah, semacam cinlok bak kaum selebritislah. Hehe..
Setelah semua tahapan proses, mulai pemilihan lokasi KKN hingga pembekalan KKN dijalani, tibalah hari keberangkatan kami bersama kawan-kawan mahasiswa lainnya menuju tempat pengabdian. Sedikit bocoran, aku KKN di salah satu desa di kabupaten Siak. Hehehe.. (sorry, cengengesan mulu, nih).
Kisah Cinta pun Dimulai
Singkat cerita, hari demi hari telah kami lalui bersama kawan-kawan mahasiswa yang kebanyakan baru di sinilah kami saling mengenal. Mitos KKN adalah ajang pencarian ̶b̶a̶k̶a̶t̶ jodoh, sedikit demi sedikit mulai terbukti kebenarannya. Akupun mulai baper ngeliat kawanku yang malah sampai bertunangan. So suittt banget deh pokoknya. Dan, ga hanya sepasang kawan itu saja yang menemukan jodohnya, ternyata beberapa hari kemudian di desa tetangga, rekan sengkatanku di kampus juga meresmikan pertunangannya. Bisalah kawan merasakan perasaanku waktu itu. (Paitttt).. Coba deh berempati dikit. Sebagai seorang jomblo, tentu aku merasa seperti koran berita kriminal bekas bungkusan bawang yang dicampakkan emak-emak begitu saja ke dalam got belakang rumah. Sedih kawan. Remuk. Becek.
Tapi, aku berusaha menenangkan hatiku. Mencoba untuk tegar sambil menyanyikan lagu, “Aku yang dulu bukanlah yang sekarang. Duluku dibuang sekarang ku ditendang….” Sorry kawan, salah lagu. 😁
Detik berganti menit, jam berganti hari, hari berganti bulan, bulan berganti tahun, tahun berganti abad, dan dunia berganti akhirat. Itulah nama-nama pergantian waktu. Waktu silih berganti. Tibalah saatnya kisah asmaraku dimulai.
Gini kisahnya..
Pada suatu event perayaan HUT RI di lapangan kantor desa, di antara ratusan warga yang hadir, baik tua maupun muda, pandanganku tertuju pada gadis desa cantik berjilbab putih yang menurut perkiraanku seusia denganku. Tiba-tiba saja senyum gadis itu mulai membanjiri pikiranku. Bahkan sampai larut malam pikiranku tetap saja masih dihantui oleh senyumnya. Aduuuuuhhh jatuh cinta deh kayaknya aku ini.. (ujarku dalam hati). Rasa penasaranku mulai akut, di pagi harinya aku memberanikan diri untuk bertanya kepada warga yang tinggal di sekitar posko KKN.
👦 : Bang
🤓 : Yupz
👦 : Ini siapa (nyodorin foto di handphone yang sempat kuambil saat acara di kantor desa)
🤓 : Oh, ini mak gw. Knp?
👦 : Loh?
🤓 : Hehe becanda. Ini namanya Fitri anak dusun tiga. Kamu mau kenalan? Mau aku kasih tahu akun fesbuk dan nomor whatsappnya?
👦 : Boleh bang. Untuk nambah kawan dan meningkatkan ukhuwah Islamiyah.
🤓 : Buset.
👦 : Hihi..
Sayangnya, rasa kegembiraanku tak bisa kusembunyikan. Aku berjingkrak-jingkrak sambil senyum-senyum sendiri menuju kembali ke posko. Sambil bergaya bak Cristiano Ronaldo habis mencetak gol. (Norak banget, ya).
Malam harinya aku memberanikan diri untuk mengirim pesan singkat via wa kepadanya.
👦 : Assalamualaikum. Benar ini dengan Fitri?
👧 : Waalaikumsalam. Iya benar. Ini dengan siapa ya?
👦 : Aku nganu bla bla bla..
Komunikasi kami semakin lancar setiap harinya. Seolah-olah dunia sudah menjadi milik kami berdua sebagai kapitalis dan yang lain cuma kaum buruh kontrak. Kalau seperti ini, aku makin bersemangat dong KKN di sini sampai 6 bulan pun tak apa hehehe..
Namun waktu terus berjalan maju.. (emang bisa jalan mundur?). Bulan pun berganti.. (ini maksudnya sebulan kemudian). Tak terasa sebentar lagi masa bakti kami di desa ini akan segera berakhir. Pada suatu hari aku beranikan diri untuk berkunjung ke rumah Fitri dengan alasan mau meminta buah jambu, karena kebetulan di rumahnya pohon jambu sedang berbuah lebat. Selebat perasaanku padamu Fitri, mailov.
Tak disangka tak kuduga, Fitri keluar dari rumahnya sambil membawa kue ulang tahun dan bernyanyi, “Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday to youuu..” Sontak aku kaget dan terharu dengan surprise yang dilakukannya. Ternyata dia tahu hari ulang tahunku dari fesbuk. Ah, aku harus mengucapkan terima kasih pada fesbuk yang udah baik banget ngasih tahu Fitri.
Dengan kondisi hati yang sedang berbunga-bunga, aku memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanku. Berharap dia juga memiliki rasa yang sama seperti yang aku rasakan.
👦 : Fit, aku mencintaimu. Apakah kamu mau menjadi pacarku?
👧 : Aku belum bisa jawab sekarang. Kasih waktu ya aku pikir dulu.
Aku menangkap kebimbangan pada wajah Fitri. Seperti ada sesuatu yang belum bisa dia ungkapkan. Dan, benar saja, malam harinya aku mendapatkan balesan chatingan wa dengannya yang mengatakan ga bisa nerima permintaan aku. Karena esok hari dia akan bertunangan.
Kawan, aku tiba-tiba merasa diri ini hanya sampah kuaci yang berserakan. Mau nangis malu, tapi air mata ga bisa dibendung. Namun aku tetap berusaha tegar. Aku percaya bintang film India akan menemukan kebahagiaan di akhir adegannya. Maksudnya, aku percaya kepada Tuhan, bahwa ada takdir yang lebih indah daripada Fitri. Benar kata Rocky Gerung, “wanita itu indah sebagai fiksi, namun menyedihkan sebagai realita.”
Etapi, lelaki itu lebih menyedihkan sebagai fiksi, dan memilukan sebagai realita. Huhuhu~~

