kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Hidup Bagai Buah-Buahan

“Manusia ‘menemukan’ dirinya di dalam ruang.”


Oleh Herman Attaqi

Pernahkah kita merasakan diri kita lebih baik dari orang lain? Dalam hal ibadah, misalnya. Saat semangat beribadah dan menuntut ilmu agama demikian tingginya. Lalu kita merasakan kekhusyukan yang begitu mendamaikan relung hati.

Pengetahuan yang meningkat dan ibadah yang bertambah kadang justru menimbulkan satu perasaan bangga pada diri kita. Perasaan yang jikalau tak terkendali justru menimbulkan perasaan tinggi hati. Cenderung melihat orang lain lebih rendah. Oh, dia ilmunya masih segitu. Hmm, ibadahnya belum khusyuk. Bermacam ungkapan batin yang sesungguhnya bisa merusak amalan. Seperti meme di bawah ini 👇

Cermin Retak

Cobalah ambil cermin. Lihat siapa yang ada di cermin itu. Wajah kita sendiri bukan? Jadi, makna ungkapan “bercerminlah” itu melihat diri sendiri. Melihat kekurangan diri. Bedakmu ketebalan, tipiskan. Kalau kerjamu cuma melihat bedak orang lain, bedak siapa yang akan kau tipiskan?

Bercermin diri bukan melihat kelebihan. Untuk apa? Yang selalu kita lihat kekurangan agar kita bisa sempurnakan. Kalau hanya fokus bercermin diri untuk melihat kelebihan, kapan lagi kita akan memperbaiki kekurangan? Dalam hal bercermin diri, fokuslah pada kekurangan. Biarlah orang yang akan menilai kelebihan diri kita. Karena mereka membutuhkan kelebihan kita untuk belajar memperbaiki dirinya, sebagaimana kita pun begitu pula terhadap mereka.

Ketahuilah, pada saat kita bercermin diri, kita tak kan pernah menemukan kesempurnaan diri pada pantulan cermin itu. Bukan cerminnya yang retak. Bukan. Tapi, karena masih ada jarak antara dirimu dan ‘seseorang’ di balik cermin itu. Masih ada ruang yang belum bisa dijelaskan antara diri kita dengan bayangan di cermin tersebut. Karena kita masih menganggap cermin itu sebagai objek luar dari diri kita.

Bagaimana menjelaskan ruang itu? Inilah rahasianya.

Tafsir Ruang

Setiap kita membutuhkan ruang; ruang kelas, ruang bermain, ruang menyendiri, bahkan ruang hati. Ruang adalah tempat di mana eksistensi kita berada di dalamnya. Saat bernafas, kita membutuhkan oksigen. Jika ruang yang kita tempati tak menyediakan oksigen sebagai sumber pernapasan, maka bisa diprediksi apa yang akan terjadi.

Manusia ‘menemukan’ dirinya di dalam ruang. Saat kita merindukan orang tua yang telah tiada, artinya bahwa di hati kita ada ruang untuk berkasih sayang dengan kedua orang tua kita. Ketiadaannya menimbulkan kerinduan. Ruang hati yang rindu itu, berisi pada satu sisi dan kosong pada sisi lainnya. Ia berisi kasih sayang. Namun juga kosong karena ketiadaannya. Jadi, ruang selalu ada ‘isi’ dan ‘kosong’.

Bagaimana kita memaknainya?

Adalah mustahil semua hal itu sempurna, baik dalam wujud maupun hakikat yang bisa kita raih. Sempurna adalah sesuatu yang kita ingini. Sisi lain, ketidaksempurnaan adalah kenyataan yang disadari. Kesadaran isi dan kosong memunculkan kerinduan, harapan dan motivasi. Terlebih lagi kesadaran bahwa kita makhluk yang menemukan eksistensinya dalam ruang-ruang.

Manusia hidup dalam kenyataan, membangun pengalaman dan membawa serta sekaligus kenangan. Ada pengetahuan, ada ketidaktahuan. Ada kesulitan, ada kemudahan. Semua tak berdiri sendiri, tapi berbarengan.

Dalam al-Quran surat asy-Syarh ayat ke-5, Tuhan berfirman:

فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”

Kesulitan dan kemudahan itu ada bersama. Tidak sendiri-sendiri. Sama persis seperti kamu yang akan bersama orang yang kamu cintai. Mungkin sekarang belum ada. Tapi, kamu harus mencari ruang di mana kamu akan bisa bertemu siapa yang kau rindui. Bertemu dalam wujud badan atau batin. Perbanyak mengenalinya, sebut-sebut namanya, buatlah puji-pujian untuknya, lafazkan namanya, senandungkan rindumu. Semua energi itu akan mengantarkanmu pada “menemukan dirimu di dalam ruang”.

Dengan segala hormat, saya hendak mengetengahkan kepada kita bahwa kelebihan dan kekurangan itu ada pada setiap orang atau segala sesuatunya. Bahkan pada masing-masing kelebihan dan kekurangan itulah manusia menemukan eksistensinya. Manusia itu sebagai individu yang unik, tapi juga sekaligus merupakan makhluk sosial.

Antara Individualitas dan Makhluk Sosial

Perjalanan hidup manusia siapa yang tahu? Tak ada yang tahu persis apa yang akan terjadi pada hidup kita di masa yang akan datang. Persis pada saat saya menulis hal ini saya tak tahu apa-apa tentang masa depan saya. Manusia hanya bisa menduga, mem-firasati sekaligus mencoba menangkap intuisi batinnya. Namun, semuanya hanya praduga. Sesuatu yang oleh para ilmuwan menyebutnya dengan asumsi.

Asumsi ataupun dugaan adalah sesuatu yang perlu diuji kebenarannya. Untuk itulah manusia memerlukan satu kata penting, yakni ‘perjuangan’. Perjuangan menjalani ujian kebenaran inilah hakikat hidup manusia di dunia ini. Kita diberi seperangkat pengetahuan, yang orang beriman menyebutnya agama. Pengetahuan yang harus diuji tingkat kebenarannya dalam pergolakan hidup, pergolakan lahir maupun batin. Di situlah manusia bergumul dalam ujian moral sembari berkreasi mempertahankan hidup.

Tapi, manusia tidak bisa hidup sendiri atau bersikap individualistik. Bahkan Tarzan di hutan belantara juga memerlukan kawan meski para hewan. Dan, bersosialisasi inilah ujian berikutnya. Ujian yang meningkat dari urusan moral kepada urusan budaya, atau apa yang harus kita sepakati bersama dan apa yang harus kita bertoleransi, saling tenggang menenggang. Di sinilah dasar argumentasi bagaimana kita tidak boleh merasa ‘lebih’ dari orang lain.

Dan, di antara semua hal itulah kita hidup. Menghirup napas. Memaksimalkan diri kita yang pun masih saja kita harus mengenalinya lebih jauh, sembari juga mengenali lingkungan. Pada akhirnya manusia banyak yang berhasil menjalani semua liku hidup ini. Meski banyak juga yang gagal. Menapaki masa depan yang dulu masih berupa dugaan. Sampai di satu titik yang kini telah menjadi masa kini. Dengan segala makna dari kata ‘perjuangan’, manusia mengumpulkan segenap pengetahuan yang diperoleh. Ibarat buah-buahan, ada manusia yang semakin matang. Ada juga yang akhirnya busuk. Masa depan kita hanya akan ditentukan oleh dua hal itu; Menjadi matang atau busuk.

Jika demikian adanya, maka logikanya kita ini tidak punya cukup waktu untuk menilai rendah orang lain, sebab waktu kita tersita habis untuk memperbaiki kualitas hidup kita, baik sebagai individu maupun dalam konteks sosial. Apalagi secara etika, tentu makin tidak patut untuk menilai orang lain lebih rendah dari diri kita. Inilah konsepsi yang sekaligus jawaban atas pertanyaan awal dari tulisan ini.

Oya, jika kamu sedang bersama dengan secangkir kopi, coba bicara kepadanya, “hai, secangkir isi kopi, terima kasih sudah mau menjadi kawanku.” Semoga dicurahkan bahagia buat kita. Salam.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai