kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Hidup Tak Melulu tentang Hikmah

“Hmm, hidup adalah menunggu honor penulisan.”


Oleh Herman Attaqi

Di suatu senja yang berasap, kami duduk bertiga di saung seorang kawan. Saung itu dipenuhi segala pernik foto yang menggambarkan kisah-kisah heroik yang tertangkap kamera kawanku ini, yang memang berprofesi sebagai jurnalis. Sebut saja nama kawan kita ini Ipul.

Kawan yang kedua adalah seorang yang berjiwa sastra, tapi mati-matian pengen jadi seorang jurnalis. Manusia memang begitu. Mereka bertungkus lumus ingin jadi sesuatu, meskipun mereka tahu yang mereka inginkan bukan itu. Bolehlah sekiranya kita simpulkan dengan ungkapan, “hidup adalah perjuangan yang panjang untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan untuk kemudian tidak diinginkan lagi.”

Nama kawan ini adalah Iben. Tapi apapun, mereka adalah kawan yang ajaib. Ajaibnya lagi ternyata dulu kami pernah bekerja dalam satu media yang sama, sebut saja nama medianya Sanggam, biar tak terkesan terlalu vulgar.

Pembicaraan sore itu diawali dengan mendiskusikan dua buah cerpen yang baru ditulis oleh kawan Ipul. Kalau menurut saya, cerpen itu ‘lumayanlah’ jika secara obyektif dianalisis dengan menggunakan pendekatan teori sastra paling dasar. Oya, sebagai seorang Sarjana Sastra, tentu saya punya legalitas untuk mengatakan demikian. Meskipun saya tahu, legalitas takkan pernah dianggap hebat oleh dua kawan saya ini yang sudah lebih dulu memilih tamat kuliah justru pada saat kuliah mereka belum tamat. Etapi, kawan Ipul akhirnya menyelesaikan studi sarjananya, lho. Hehe..

Sebagai seorang jurnalis, Ipul memilih gaya bahasa mirip-mirip reportase. Ia bercerita seperti gaya seorang jurnalis melaporkan kejadian. Itu gaya dia. Terserah dia. Yang saya kritik justru cerpen itu tidak pernah memberikan gambaran tentang tokoh-tokoh yang diceritakan. Saya sebagai pembaca tidak mengerti tentang maksud cerita itu, karena tidak ‘mengenal’ para tokohnya.

Meskipun semua tokoh itu saya kenali dalam kehidupan nyata dan memang ada. Tapi, sebagai pembaca saya mesti membebaskan diri dari pengetahuan saya di luar tentang tokoh-tokoh itu. Saya butuh deskripsi yang jelas dari narasi yang dibangun dari cerita itu. Saya katakan, anda sebenarnya tidak sedang bercerita kepada kami, tapi kepada diri sendiri dan hanya anda sendiri yang tahu, yang lain tempe.

Tapi, kemudian kritik saya itu saya kritik juga. Saya mengkritik pemikiran saya yang seolah-olah berharap cerpen Ipul ini seperti cerpen penulis lain. Saya kok kesannya sudah membatasi pemikiran saya sesuai batasan-batasan pemikiran umum. Inilah masalahnya. Teori maupun pemikiran yang kita punya harusnya jadi alat pemikiran, bukan alat untuk menghakimi atau seolah-olah kita benar dan yang lain salah.

Kita sekonyong-konyong menjadikan pengetahuan sebagai senjata pembunuh. Semakin kita berpengetahuan, semakin kita merasa punya kemampuan lebih untuk menguasai dan mendominasi. Atau apakah pengetahuan memang diciptakan untuk itu? Entahlah. Atau apakah juga pengetahuan tidak diperbolehkan untuk menilai pemikiran orang? Kurang tahu juga.

Kemudian saya menumpang untuk sholat Ashar di rumah kawan Ipul ini. (Maafkan hamba yang ga sengaja riya ya Rabb). Dalam doa setelah sholat, saya mohon ampun pada Allah dan memohon diberikan pengetahuan dan kebijaksanaan sekaligus agar memahami hidup dengan lebih baik setelah membaca cerpen itu.

Saya memang terkesan terlalu ambisius dengan sesuatu. Itu tampak sekali ketika kemudian saya sadari bahwa tidak semua hal yang tertulis maupun tidak mesti memiliki hikmah yang bisa dipelajari. Jika semua hal yang berlaku dalam hidup ini dibaca hanya dalam rangka mengambil hikmah, betapa kita-kita telah terjebak pada dua hal, pertama hal yang baik, kedua hal yang buruk.

Apakah hidup hanya tentang dua hal ini? Lalu bagaimana kita bisa menyimpulkan hal ini baik dan hal itu buruk sebelum kita menguji hal-hal tersebut dalam dimensi kehidupan yang lebih kompleks ini? Bisa jadi sesuatu itu baik diterapkan pada hari ini, tapi tak baik dipakai untuk waktu yang akan datang.

Iben tak banyak berkomentar, dia hanya mengirimkan cerpen terbarunya ke email saya untuk dibaca sembari mengingatkan untuk jangan dishare dulu. Karena cerpen itu baru saja dikirim untuk dimuat di sebuah media.

Tiba-tiba saya bergumam dalam hati, “hmm, hidup adalah menunggu honor penulisan.”

Sesimpel itu.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai