kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Andai Dia Bukan Abangmu

“Kamulah bunga melati di kolam belakang rumah emakku.”


Oleh Heri Prasetiawan

Kawan,

Ini sebenarnya kisah nyata yang pernah aku alami. Tapi, aku malu mau cerita. Makanya aku pakai nama samaran saja, ya. Biar ceritanya lebih lepas.

Namaku Bagas Diningrat. Aku seorang mahasiswa jurusan Sastra di salah satu perguruan tinggi di Kota Pekanbaru. Namun SMA-ku tidak di kota ini, melainkan di tanah kelahiranku, yakni di pulau Jawa.

Lama di perantauan membuat rindu akan tanah kelahiran tak bisa dibendung lagi. Rasanya ingin sekali pulang ke sana seminggu sekali. Tapi, apalah daya. Beginilah kalau rindu berat diongkos.

Libur Telah Tiba

Waktu liburan semester pun tiba. Selesai Ujian Akhir Semester (UAS) aku tidak menyia-nyiakan waktu liburku ini. Bergegas kukemas barang-barangku untuk keberangkatan ke Jawa. Hari itu juga aku capcus ke Kota Surabaya, kampuang nan jauah di mato. (Eh, jadi bahasa Minang).

Tak sabar rasanya pengen segera berjumpa dengan karib kerabat serta kawan-kawan kecilku. Apakah kalian merindukanku sebagaimana aku merindukan kalian? Dan, sesampainya di kediamanku, aku disambut bak raja yang lama tak pulang ke istana oleh seluruh keluarga, sanak family, handai tolan, teman sekolah, seluruh warga se-kecamatan, anggota DPRD, paguyuban ojek onlen, supporter sepak bola, mba2 bakul jamu, ikatan penjaga warnet dan semua menyambut dengan suka cita.

Salah seorang kawan SMA-ku, Yuda, juga datang ke rumah. Kami berbincang-bincang tentang hal yang gak penting sih sebenarnya. Tentang kenapa bulu hidung tumbuhnya lebih lambat dari rambut? Ga penting banget kan? Lalu, Yuda mengajakku untuk hadir dalam acara ultah SMA kami yang ke-15. Karena seluruh alumni juga diundang, maka akupun bersedia hadir. Semoga bisa ketemu banyak kawan yang memang udah lama ga bertemu.

Keesokan harinya, aku berangkat bersama Yuda menuju SMA tercinta yang telah lama kutinggalkan. Di tengah acara, secara tak sengaja ada wanita cantik lewat di depanku. Aduh, cantik dan mempesona kawan. Kalau bisa dilukiskan, aku akan melukis gunung dan sawah yang menghijau untuk melukiskan keindahannya. (Dari SD kalau disuruh ngelukis bisanya lukisan itu doang sih).

👦 : Eh Yud, itu siapa?

👲 : Itu kak Ria, senior kita dulu.

👦 : Kak Ria anak jurusan IPS itu? Yang jadi idola para pria waktu sekolah dulu, ya?

👲 : Ho oh.

👦 : Masya Allah, kak. Makin cantik saja penampakanmu, batinku sambil melangkah menghampirinya.

Dan, you know-lah kawan. Aku langsung sok akrab dengan kak Ria dan seperti biasa, minta nomor whatsapp untuk meningkatkan ukhuwah Islamiyah sesama jemaah kaum muslimin dan muslimat.

Singkat cerita, aku makin akrab dengan kak Ria meski hanya sebatas chat di whatsapp. Hingga suatu hari aku mencoba memberanikan diri ngajak jalan-jalan.

👦 : Kak, kita jalan-jalan yuk. Kemana kek..

🙍 : Kita?

👦 : Kita adalah kata dengan empat aksara yang terkandung makna dan rasa yang sama. Persis sebagaimana aku memaknaimu dan ingin pula kau memiliki rasa yang sama denganku.

🙍 : Wow.. so sweet bangettt Bagas. Rasa pengen muntah, eh, martabak ding.

👦 : Hihi..

🙍 : Oh iya, Gas. Besok ada pasar malam di desa kakak. Main ke sana, yuk.

👦 : Ahsyiaapp, Kak.

Di Pasar Malam

Di sepanjang jalan kak Ria bercerita banyak, mulai tentang kepribadian, pendidikan, karir, koleksi boneka dan peralatan make up. Ternyata kak Ria adalah lulusan sarjana ekonomi terbaik di salah satu universitas di Yogyakarta. Memang sempurna kau sebagai ibu bagi anak-anakku kelak kak, batinku.

Setelah memarkirkan sepeda motorku, aku mengajaknya berkeliling menikmati wahana yang ada; mulai dari tong setan, rumah hantu, baling-baling dan terakhir kami menuju ke permainan lempar gelang. Di permainan ini kulihat kak Ria sangat bersemangat sekali dikarenakan salah satu hadiahnya adalah boneka panda yang besar dan lucu. Akhirnya boneka panda itu berhasil diraih kak Ria. Aku senang melihat wajahnya yang bahagia mendapatkan boneka itu. Meski bukan karena berhasil melempar gelang. Tapi, aku langsung beli aja bonekanya sama si Bapak. Hehe.. Begitulah lelaki kalo ada maunya. Semua akan dilakukannya.. Hihi..

Kak Ria antri beli martabak, akupun menuju parkiran sambil ngambil motor biar ga kelamaan. Aku melihat ada seorang laki-laki yang duduk di bangku di dekat motorku. Ah, mungkin ini tukang parkirnya ujarku dalam hati.

👦 : Mas, ini uang parkirnya. (Nyodorin uang dua ribu)

👴 : Gratis kok. Bawa aja motornya. Ga usah bayar.

👦 : Baik kali kamu mas.. Makasih loh ya.. Semoga murah rezki ya mas..

Lalu, kami pulang dengan senang hati. Apalagi aku tentunya. Malam ini akan kutulis sebagai malam yang paling indah dalam hidupku. Dan, akan aku ukir tulisan itu di antara bintang-bintang di langit. Agar semesta tahu betapa beruntungnya aku menemukanmu kak Ria. Akan aku penuhi langit malam dengan bujuk rayuku padamu duhai belahan jantungku. Kamulah bintang malamku. Kamulah bunga melati di kolam belakang rumah emakku. Tiba-tiba kami udah sampai aja di pekarangan rumah kak Ria. Khayalanku ikut bubar.

Aku terkejut dan terheran-heran melihat si Mas tukang parkir tadi duduk manis sambil ngopi nyantai di depan rumah kak Ria. Sontak aku kaget dan bertanya- tanya dalam hati, ini mas ajaib betul bisa ngopi di mari.

👦 : Eh, Mas yang jaga parkir tadi kan?

👴 : Eh, kamu. Hey, Ria. Cowo ini siapa? bukan pacarmu, toh?

🙍 : Ini Bagas, Mas. Junior aku di SMA. Kenapa, Mas?

👴 : Jangan jadiin anak ini pacarmu deh. Anak ga tahu sopan santun. Masak masmu yang seganteng ini di bilang tukang parkir? Padahal mas lagi nungguin kawan. Bukannya nanya dulu. Asal njeplak aja tuh mulut. Mana pake mau ngasih duit dua ribu lagi. Hadehh..

👦 : Mm..maaf kak Ria. Mas ini siapa?

🙍 : Dia itu Abang kakak yang pertama Gas. Baru pulang dari Jakarta kemarin lusa.

Tiba-tiba langit mendung. Ga ada bintang-bintang. Puisi nan indah yang kutulis di langit tadi ikut-ikutan menghilang. Kompak banget ya kalian. Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi. Aku tenggelam dalam lautan luka dalam. Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang.

Aku melihat di kejauhan tatapan sinis mas parkir. Wajah datar kak Ria, meski masih teramat manis bagiku. Dan, akupun melihat diriku.

Aku melihat butiran debu.

Nasib.

Apes mulu.

Begini amat hidup.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai