kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

[Book Review] Novel Origin Karya Dan Brown

“The dark religions are departed and sweet science reigns.”


Oleh Herman Attaqi

Jadi gini,

Seorang Presiden bernama Donald Trump pernah berkata, “Islam hates us..” Islam membenci kita..

Adalagi orang namanya Sam Harris, seorang penulis non fiksi berasal dari Amerika Serikat. Ia adalah penulis buku The End of Faith yang memenangkan penghargaan PEN/Martha Albrand dan Letter to a Christian Nation. Ia berkata, “It is a time we admitted that we are not at war with terrorism. We are at war with Islam.” Inilah saatnya kita mengakui bahwa kita bukan berperang dengan terorisme. Kita sedang berperang dengan Islam.

Dan, banyak lagi pernyataan para tokoh yang menyatakan dengan sangat jelas dan provokatif dengan menempatkan Islam sebagai musuh yang nyata. Sekali lagi mereka menyatakan Islam.

Saya ingin mengutip satu pernyataan dalam sebuah Novel karya Dan Brown, yakni Origin. Pernyataan dari seorang Regent pengikut Gereja Ortodoks Palmarian. Pada novel terjemahan Bahasa Indonesia halaman 374 sebelah kiri paling atas sang Regent berkata, “Teroris paling keji bukanlah orang yang merakit bom, melainkan pemimpin berpengaruh yang membangkitkan kebencian di antara massa yang berputus asa, menginspirasi serdadu mereka untuk melakukan tindak kekerasan. Hanya perlu satu orang jahat yang berkuasa untuk mengacaukan dunia dengan menginspirasi intoleransi spiritual, nasionalisme, atau kebencian di kalangan orang yang mudah terpengaruh.”

Kemudian pada Jumat 15 Maret 2019 pukul 1.40 siang waktu setempat di kota Christchurch, Selandia Baru, terjadi pembantaian kepada umat Islam yang sedang menjalankan ibadah Sholat Jumat yang dilakukan oleh Brenton Tarrant. Pemuda asal Australia berusia 28 tahun ini diidentifikasi memiliki afiliasi pemikiran politik kepada pikiran sayap kanan yang anti Islam atau Islamophobia. Setidaknya dia membantai 49 muslim di dua mesjid sembari melakukan live report via akun facebooknya.

Apa yang bisa kita lihat dari rangkaian catatan ini?

Apakah kita membutuhkan satu lompatan sikap yang jujur dan radikal untuk melihat apa yang sesungguhnya sedang terjadi? Apakah selesai dengan mengutuk dan kemudian menanti kutukan berikutnya atas kejadian berikutnya lagi? Jika memang dunia telah terbentur atau dibenturkan oleh pandangan identitas, katakanlah agama, lalu sampai kapan kita bersikap seolah-olah ingin menghindari pertikaian besar yang sesungguhnya terjadi? Atau, apakah Islam hanya dijadikan satu alat untuk kepentingan politik yang jauh lebih besar dibandingkan memenangkan perang atas dasar iman? Entahlah. Saya belum mengerti.

Saya teringat perdebatan para ulama dan kaum cerdik cendikia negeri ini. Mereka berkata, “jangan panggil mereka kafir, panggillah dengan non muslim.” Oh, baiklah.

Setelah kejadian itu, seorang presiden non muslim bernama Donald Trump menyatakan simpatinya kepada korban dan harapan terbaiknya buat rakyat Selandia Baru.

Saya kira banyak sekali alasan memang orang untuk jadi ateis. Penyebabnya bukan karena agama dijadikan alat dan sebab pembantaian, tapi bisa jadi sikap dan pikiran para pemuka agama sudah semakin tidak relevan dengan dunia yang berkembang sangat cepat, sementara para pemuka agamanya malah disibukkan dengan segala tradisi masa lalu yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman.

Peristiwa-peristiwa tersebut terasa relevan dengan niat awal saya me-review sebuah novel yang ditulis oleh Dan Brown berjudul Origin yang salah satu isinya seperti yang saya kutip di atas. Dan Brown adalah penulis kenamaan yang juga menulis novel fenomenal The Da Vinci Code. Serial Novel yang tokoh utamanya Robert Langdon, seorang ahli simbologi dari Harvard University sangat menarik minat dan keingintahuan pembaca, terutama saya tentunya. Saya telah membaca The Da Vinci Code, The Lost Symbol, Evil and Demons serta Inferno. Namun, Origin adalah novel yang paling saya sukai karena disamping berisi tentang kode dan sejarah sebagaimana ciri khas novel Dan Brown lainnya, Origin banyak memuat tentang pertikaian filosofis yang paling fundamental dalam sejarah manusia. Satu lagi, Origin juga memanjakan rasa ingin tahu kita tentang karya seni kontemporer, khususnya yang berada di Spanyol.

Baca juga: Bodo Amat!

Dari Awal hingga akhir, alur novel ini tidak terlepas dari dua pertanyaan pokok; Dari mana asal kita? Ke mana kita akan pergi?

Cerita dimulai oleh seorang futurolog, Edmond Kirsch yang juga menyatakan dirinya sebagai ateis yang akan mengumumkan sebuah temuan yang diyakini akan merubah paradigma orang terkait peran agama. Edmond telah menemukan jawaban saintifik atas pertanyaan-pertanyaan filosofis di atas. Dan akan mengumumkannya secara dramatis di Museum Guggenheim, Bilbao serta disiarkan secara live streaming.

Yang selalu saya senangi dari gaya tulisan Dan Brown adalah pergerakan dari satu scene ke scene yang lain sangat dinamis, bahkan dramatis. Awal pergerakan dramatis itu dimulai saat Edmond Kirsch mengumumkan temuannya. Temuan yang diyakininya akan membuat ajaran agama menjadi tidak relevan lagi, karena sudah dikalahkan oleh ilmu pengetahuan. Agama hanya dijadikan pusat pertikaian yang berkepanjangan antar manusia. Sementara sains akan menyatukan manusia. Sederhananya, jika orang bertuhan kepada gravitasi, dipastikan tidak akan ada manusia yang bertikai. Karena Hukum Gravitasi adalah sesuatu yang sudah sangat jelas dan pasti. Begitulah. Hingga seluruh dunia sangat menantikan temuan Edmond Kirsch. Tentu saja, terjadi pro dan kontra atas apa yang akan diumumkan. Kaum agamawan, yang diwakili oleh aktivis gereja serta kaum kreasionisme tentu saja dari awal sudah membantah dengan menggunakan dalil-dalil masing-masing. Berbeda tentunya dengan kelompok ilmiah, mereka sangat menanti apa yang akan diungkapkan oleh Edmond.

Sayang sekali, Edmond Kirsch ditembak oleh seorang pembunuh bayaran pada saat presentasi sedang berlangsung. Di sinilah dimulainya momen Robert Langdon memainkan perannya sebagai pemecah kode lewat petualangan berbahaya, agar temuan Kirsch bisa ditayangkan hingga selesai. Dibantu oleh Ambra Vidal, Direktur Museum Guggenheim yang tak lain merupakan tunangan Pangeran Julian, Calon Raja Spanyol.

Saya sangat menikmati setiap detil petualangan Robert Langdon dan Ambra Vidal dalam pencarian password komputer tempat file presentasi Edmond Kirsch. Password yang berisi 47 kata dari puisi favorit Edmond. Masalahnya tidak ada yang tahu puisi yang mana di antara sekian banyak puisi favorit Edmond? Siapa pengarangnya? Inilah pusat cerita yang akan membuat pembaca, seperti pengalaman saya saat membaca, tak bisa berhenti membaca. Sekadar bikin kopi saja saya bisa lupa karena ketegangan yang diciptakan oleh Dan Brown lewat tulisannya. Ya, Tuhan pengen banget bisa nulis kayak beginian.

Pencarian Robert dan Ambra berhenti di Gereja Sagrada Familia setelah sebelumnya mereka berada di Cassa Milla, sebuah museum yang sangat unik dan indah yang bagian atasnya disewa oleh Edmond sebagai tempat tinggalnya. Akhirnya melalui bantuan Bapa Bena, kepala pendeta Gereja Sagrada Familia, mereka menemukan sebaris puisi karya William Blake yang menjadi password komputer super canggih milik Edmond. Puisinya berbunyi;

“The dark religions are departed and sweet science reigns.” Agama-agama kegelapan akan punah, dan keindahan sain akan bangkit.

Lalu, seperti apa sebenarnya isi temuan Kirsch atas pertanyaan; Dari mana asal kita? Ke mana kita akan pergi? Bagaimana agama akan bertahan menghadapi gempuran temuan ilmiah Edmond? Apakah temuan itu akan menimbulkan kekacauan besar terhadap umat manusia? Apa sebenarnya motif pembunuhan Edmond Kirsch? Siapa dalang pembunuhnya? Saya rekomendasikan kalian membeli novel ini agar bisa membacanya dengan tuntas.

Namun, di akhir review ini, saya hendak menyampaikan sebuah dialog antara Robert Langdon dengan Bapa Bena. Sekaligus menjawab secara jelas mengapa saya mengaitkan kejadian pembunuhan jemaah sholat jumat di Selandia Baru (15/03/2019) dan pernyataan-pernyataan tidak sensitif tokoh dunia seperti Presiden Donald Trump dan Sam Harris serta kegagapan (sebenarnya saya ingin bilang bahwa mereka ini responnya sudah tidak relevan atas pokok persoalan ini) Tokoh Agama dalam menyikapi konflik bernuansa agama. Dialog ini dikutip dari halaman 506 dari novel terjemahan Bahasa Indonesianya;

“Yah, harus saya akui ini amat menggusarkan saya. Kalimat ini—-‘agama-agama kegelapan’—-sangat mengganggu. Seolah-olah Blake menyatakan bahwa agama adalah sesuatu yang gelap …. jahat dan, entah bagaimana, keji.”

“Itu kesalahpahaman umum,” balas Langdon. “Sebenarnya Blake adalah pria yang sangat spiritual, secara moral jauh lebih berkembang daripada umat Kristen berpikiran dangkal di Inggris abad ke-18. Dia meyakini bahwa agama memiliki dua rasa—-agama yang gelap dan dogmatis menekan pemikiran kreatif … dan agama yang terang dan luas mendukung introspeksi dan kreativitas.”

Bena tampak terkejut.

“Kalimat terakhir Blake,” Langdon meyakinkannya, “dapat dengan mudah ditafsirkan: ‘Sains yang baik akan meruntuhkan agama kegelapan … sehingga agama terang dapat berkembang.’”

Bena terdiam lama sekali, kemudian, dengan amat perlahan, senyum simpul muncul di bibirnya.

“Terima kasih, Profesor. Saya yakin Anda telah menyelamatkan saya dari dilema etika yang canggung.”

Baca juga: Kisah Parjo dan Orang Gila

Kawan, cukup sekian review buku ini. Atas apa yang bisa saya serap dan cerna dari isi novel dan dari kejadian dunia yang terus berkembang. Agama dan Sain sejatinya dapat hidup dengan pikiran yang lebih terbuka, serta menghilangkan kebencian dan dendam yang hal ini justru inti dari pengajaran agama itu sendiri. Agama apapun itu.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai