kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Aku Ingin Mencintaimu Melampaui Cinta Itu Sendiri

“Namun, itu bukanlah cinta. Itu hanyalah tawar menawar.”


Oleh Herman Attaqi

Mumpung lagi malam kamis, malam ini aku ingin ngomongin tentang cinta (apa hubungannya?). Tentang kata yang membuat orang waras menjadi gila. Eh, orang bilang aku gila, tapi kenapa setiap ketemu kamu aku jadi waras?

Kawan yang baik,

Aku pernah baca pernyataan seorang filsuf yang nge-hits dan aku banget, yakni Slavoj Zizek, yang berkata, “Lets own up to our anxiety. Lets be unhappy to be happy.” Mari akui dengan jujur tentang kecemasan kita. Hayuk, jadi tidak bahagia untuk jadi bahagia.

Paan c? Begini. Kita selalu bicara tentang cinta dengan pembicaraan-pembicaraan yang isinya omong kosong. Seolah-olah cinta itu sesuatu yang jauh dari luar diri kita. Mengawang-ngawang dan utopis. Kata-kata kita menjadi pemanis dari keresahan dan kegelisahan semata. Cinta yang kita ungkapkan itu bukan cinta yang sedang kita alami, tapi cinta yang kita ingini.

Zizek juga bilang gini tentang cinta, “cinta adalah suatu untuk mencintai yang seolah ‘tak dapat dicintai’. Cinta lahir dari kebebasan, dan tidak pernah dapat diperintahkan. Apalagi dipaksakan.”

Kata Zizek lagi, untuk mencintai orang lain, selama orang lain itu tidak mengganggu hidup kita, cukup jauh dari kita, dan ada jarak yang memisahkan terus antara aku dan mereka. Namun, itu bukanlah cinta. Itu hanyalah tawar menawar. Cinta yang sejati bisa terlihat, ketika orang masuk ke dalam hidup kita tanpa jarak, tanpa rencana. Dan kita bisa tetap mencintainya.

Jika sudah saling cinta, ada juga orang terjebak dalam perbedaan, suatu keadaan yang traumatis, bahkan mengancam secara psikis atas perbedaan yang ia tawarkan.

Lalu, apa yang akan kita lakukan?

Bagi Zizek itu mah biasa saja. Bahkan dia bilang bahwa kita harus siap juga mengubah apa yang selama ini kita pegang. Trus, muncul pertanyaan dalam benakku, “apakah yang memutuskan berpisah sebagai akibat perbedaan dan ketegangan itu juga akibat cinta? Mengapa orang mudah sekali jatuh cinta terhadap sesuatu yang memberikan kedamaian? Juga kebahagiaan?”

Atau, barangkali itu semua bukan cinta? Tapi, mirip dengan kisah dan imajinasi kita tentang nabi ataupun orang-orang suci dalam cerita yang kita baca. Kita sedang tidak bahagia, tertekan dan cemas, lalu kita melihat cinta sebagaimana cinta Zulaikha dan Nabi Yusuf atau Fatimah dan Ali bahkan kegilaan Majnun dalam mencintai Layla. Tapi, di dalam perbuatan tak kita temukan itu kecuali hanya sebatas retorika, kisah dan kata-kata. Terpukau dengan sesuatu yang indah dari kisah hanya untuk menenangkan jiwa yang terluka adalah bentuk lain dari candu.

Bukan kebetulan aku menulis ini karena terpengaruh bacaan siang tadi tentang teori psikoanalisis, subyek yang juga diseriusi oleh filsuf zaman now yang paling digandrungi, Slavoj Zizek. Salah satu pernyataannya: “Narasi yang ditenun oleh subyek, secara fundamental, adalah kebohongan. Hanya bentuk pertahanan ego terhadap trauma. Kebenaran justru berada di luar sana : dalam perbuatan.”

Tapi, jika dunia hanya berisi perbuatan tanpa retorika, adalah dunia yang mekanis dan cenderung berisi kekerasan. Ah, selama ini manusia hidup dalam kata dan perbuatan, kekerasaan masih juga ada kok. Melekat. Lalu, apa itu cinta? Kata atau perbuatankah?

Cinta, bagiku, adalah nomina abstrak. Ia sesuatu seperti awan yang mengiring langkah kaki Nabi Muhammad remaja saat ke Yaman. Sesuatu yang meneduhkan dan juga mengokohkan di tengah dunia yang bergerak absurd, oleng dan rapuh. Dunia yang semakin gelap tentu membutuhkan cinta, sebagai perwujudan eksistensialis. Ya. Tapi, ini bohong. Anggap saja kebohongan yang perlu.

Cinta itu berada lebih tinggi dari jangkauan kata. Tidak akan pernah ada yang bisa merumuskan bahasa cinta dengan sempurna. Tapi, apa boleh buat. Kita hidup di tengah dunia yang menemukan makna dari baris-baris kata. Mau gimana lagi, ya kan?

Untuk itu, kawan. Memberontaklah barang sejenak dari kata. Biarkan cinta meng-kudeta kata. Menghancurkan rezim kata yang kaku dan pro status quo. Salam.

Tulisan ini dipersembahkan oleh Kopi Silvia.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai