kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Kulihat Kau Meski Tak Kulihat

“Aku, tentu saja, bukan sehelai daun yang jatuh, sebagai mana kau bukanlah angin yang berhembus.”


Oleh Herman Attaqi

Aku pernah duduk di kedai kopi dulu bersamamu. Kita sering menjadikan kedai kopi sebagai pemberhentian bagi perjalanan-perjalanan.

Aku memesan kopi hitam dan roti bakar sarikaya, kau memesan teh tarik dan semangkok mie. Aku juga pernah ngopi sendiri di kedai kopi sembari menunggumu mencari barang-barang yang kau perlukan di seputaran mall atau pasar. Di kedai kopi itu semua kenyataan pernah ada antara aku dan kau. Atau tentang aku yang sendiri sambil menanti kehadiranmu. Tapi, tetap saja ini semua tentang kita berdua.

Kita seperti Jean Paul Sartre dan Simone de Beauvoir, sahabat perempuan sepanjang hidupnya yang juga seorang filosof eksistensial yang melewatkan banyak waktu di kafe-kafe.

Ngomong-ngomong tentang Sartre (1905-1980), dia adalah pelopor filsafat eksistensialisme. Apa itu eksistensialisme? Sederhananya, ini adalah istilah kolektif untuk beberapa aliran filsafat yang mengambil situasi eksistensial manusia sebagai titik tolak. Ada beberapa nama penting yang juga berpengaruh besar dalam aliran filsafat ini; katakanlah pendahulu Sartre, yakni Friedrich Nietzche dari Jerman (1844-1900). Nama lain adalah Kierkegaard ataupun pendahulunya lagi, yakni Martin Heidegger.

Ah, kenapa bicaranya jadi rumit begini? Mungkin kalian yang baca akan berpikir begitu. Tapi, tolong tetaplah membaca. Karena ada hal penting sesungguhnya yang akan aku sampaikan kepada kita tentang diri kita ini.

Suatu ketika di masa depan, aku tak lagi bersamamu. Semua kenyataan kita hari ini sudah jauh berbeda. Sejak kau memutuskan pergi dan sementara itu pula masing-masing kita berkemas dari semua kesadaran tentang pengalaman, kasih sayang, rindu dan cinta.

Cerita kedai kopi berubah dari pengalaman empirikal menjadi file tak berjejak nyata, yang tersimpan di folder alam bawah sadar, yang kemudian disebut sebagai kenangan. Bagi Sigmund Freud, kenangan itu baru akan keluar menjadi sebentuk kesadaran ketika ada impuls dalam bentuk rangsangan yang mengingatkan kembali akan satu cerita di satu masa yang telah lewat.

Seperti saat aku kembali masuk ke kedai kopi yang biasa kita berdua memesan kopi hitam dan teh tarik itu. Hal pertama yang muncul di kesadaranku saat aku memasuki kedai itu adalah keinginan menemukanmu di sana. Padahal aku menyadari bahwa kau tak akan ada di sana. Tapi, kenapa justru aku ingin melihat sesuatu yang tak ada? Persis seperti seseorang mencari kekasihnya di tengah kerumunan orang di dalam gerbong kereta api. Ia hanya melihat satu orang yang tak terlihat. Sementara kerumunan orang-orang dilihat sebagai penghalang baginya. Begitupun aku. Duduk seorang diri. Di hadapanku ada secangkir kopi hitam. Sayangnya tak ada kau di depanku, juga tak ada teh tarik. Aku tiba-tiba merasa terasing di tengah keramaian.

Jean Paul Sartre berusaha membuktikan bahwa kesadaran sendiri bukan apa-apa hingga ia menangkap sesuatu. Karena kesadaran selalu sadar akan sesuatu. Dan ‘sesuatu’ ini diadakan oleh diri kita sendiri dan juga oleh lingkungan kita. Kita setengahnya hanya pendukung dalam memutuskan apa yang kita lihat dengan memilih apa yang penting bagi kita.

Suatu ketika Sartre berujar kepada de Beauvoir, “Kehidupan kita sendiri memengaruhi cara kita memandang segala sesuatu di dalam ruangan, seperti di kafe ini. Jika sesuatu tidak menarik perhatianku, aku tidak melihatnya.”

Akupun begitu. Sesungguhnya tak ada yang menarik perhatianku di kedai kopi ini selain kau. Maka aku hanya akan memandang kau yang, sayangnya, tiada. Kursi kosong di hadapan tanpa teh tarik kesukaanmu.

Kesadaran manusia memang absurd, ya. Manusia dengan sengaja ‘menghilangkan’ apapun yang tak relevan dengan dirinya. Orang-orang ramai duduk di kafe menjadi tak relevan dalam kesadaranku, meski kenyataannya ada. Aku telah dengan sadar terjebak pada kondisi eksistensialisku sendiri.

Ya. ‘Eksistensi’ adalah inti filsafat Sartre. Tahukah kau apa itu eksistensi? Eksistensi itu bukan sekadar sesuatu yang ada atau hidup. Hewan dan tumbuh-tumbuhan itu hidup. Mereka eksis, tapi mereka tidak menanggung apapun dari implikasi yang timbul dalam hubungan sebab akibat. Berbeda dengan manusia yang sadar akan eksistensinya. Hewan dan tumbuhan itu hanya sekadar “ada dalam dirinya sendiri”, berbeda dengan manusia yang “ada untuk dirinya sendiri”. Jadi eksistensi manusia mendahului dirinya sendiri. Kenyataan bahwa ‘aku ada’ (eksistensi) lebih dulu ada, baru ‘aku ini siapa’ (esensi) menyusul. “Eksistensi mendahului esensi.”

Maka, tak benar sesungguhnya analogi seorang penulis ‘kawakan’ Tere Liye yang mengatakan, “Daun yang jatuh tak pernah membenci angin.” Bagaimana mungkin mereka saling benci ataupun suka? Toh, mereka hidup sekadar menjalani sesuatu yang ada dalam dirinya. Tanpa memikirkan sesuatu yang diimplikasikan. Tapi, karena itu hanya sebuah majas, jadi tak bisa juga disalahkan penulisnya.

Berbeda dengan kisah aku dan kau di masa depan yang tentu saja bukan metafora. Aku benar-benar tak menemukan kau ada bersamaku di kedai kopi ini semenjak kau dengan kesadaranmu memutuskan pergi dari kehidupanku. Aku, tentu saja, bukan sehelai daun yang jatuh, sebagai mana kau bukanlah angin yang berhembus. Ada implikasi eksistensial yang kemudian dihadapi setelah pilihan-pilihan kita itu. Tentu saja aku kehilangan kau. Tapi, hidup harus terus berjalan, bukan? Sampai aku mengerti apakah hakikat dari kehilangan? Apakah hakikat kau? Apa pula hakikat aku?

Sepanjang sejarah filsafat, para filsuf berusaha keras untuk menemukan jawaban dari pertanyaan, “Apakah hakikat/esensi manusia itu?” Sartre percaya bahwa manusia tak membawa hakikat yang kekal yang bisa dijadikan sebagai sandaran yang tetap. Karena itulah tidak ada gunanya mencari makna dari kehidupan pada umumnya. Hidup tak melulu tentang hikmah.

Namun, kita telah ditakdirkan untuk membuatnya sendiri. Dari sinilah manusia memiliki pilihan bebas, sebagai individu-individu bebas untuk memberi esensi bagi kehidupannya. Manusia sepenuhnya bertanggung jawab atas pilihan dan tindakannya. Pikiran ini sekaligus sebagai kritik atas pandangan Nihilisme yang diusung Friedrich Nietzche, meski sama-sama mengusung bahwa tidak ada esensi bawaan dalam diri manusia, tetapi Nietzche dan kaum nihilis beranggapan bahwa tidak ada sesuatupun yang mempunyai arti dan apa saja boleh dilakukan. Sartre percaya bahwa kehidupan pasti punya arti. Tapi, kita sendirilah yang harus memberi arti dalam kehidupan kita. Jadi, eksis berarti menciptakan kehidupan kita sendiri. Memberi esensi bagi eksistensinya.

Aku menenggak sisa kopi hitam hingga ke ampasnya. Orang, di kedai kopi ini, datang dan pergi. Tapi, seperti aku, ada juga yang tetap bertahan. Apakah kau mau bersulang denganku? Tak mengapa jika itu hanya dengan bayanganmu saja. “Untuk segala sesuatu yang tak perlu diberi makna. Cheers!”

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai