“Dalam industri perkopian, proses pengolahan adalah faktor penting yang gak boleh dilewatkan.”
Oleh Octa Srirahayu
Derap langkah kaki malam ini teramat berat untuk dijadikan sebuah musik pengantar. Mungkin terdengar seperti alunan Blues yang mendayu dengan suara khas Afro-Americano serta diiringi kesenduan suara Saxophone. Begitulah kira-kira suasana batinku mengawali kegiatan yang telah terlanjur kujanjikan bersama seorang kawan. Awalnya, kami janjian bertiga, tapi yang satunya pe-ha-pe, alesannya lupa diri. Jadi, dia harus mencari tahu lagi siapa dirinya. Bisa gitu, ya? Udah, gausah dipikirkan.
Langkahku berhenti di sebuah kedai kopi yang cukup luas. RayCoffee, begitu nama kedai kopi yang berada di jalan Agussalim, Bangkinang Kota, Kabupaten Kampar, Riau ini. Aku mengambil kursi yang sangat terjangkau dari posisiku berdiri. Begitulah logikanya. Karena tak mungkin aku harus menjangkau kursi yang jauh dari tempatku berdiri bukan?
Hmmm….
Lumayan ramai di sini. Ada banyak gamers bertebaran. Pastinya yang punya kedai kopi menyediakan layanan wifi gretong. Tak berhenti di situ, mataku mulai menjelajah ke setiap sudut ruangan. Mengakrabi nuansa yang dihadirkan oleh kedai kopi ini.

“Malam mbak, mau pesan apa?” sambutan hangat membuyarkan penjelajahanku akan kedai ini.
“Boleh tunggu teman dulu?” jawabku ringan. Wanita cantik nan sederhana itu berlalu sambil mengangguk tanda menyetujui.
Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Kalo kamu serius sama aku, ayo cepat nikahi aku. Kalo ga serius, gpp. Bye. Begitulah aku. Ga suka menunggu. Akhirnya, aku panggil lagi mbak waitressnya.
“Aku pesan kopi ya mbak. Mbak punya varian apa aja?”
“Ada Gayo dan Mandailing, Mbak,” timpalnya.
“Saya pesan keduanya tanpa gula, tapi setengah-setengah aja ya, Mbak.”
Mbaknya berlalu sambil mengernyitkan dahi. Mungkin dalam hati dia berkata, “orang ini aneh.” Maaf mbak, aku orangnya memang aneh, makanya banyak yang gak suka. Astaghfirullah.. Kenapa aku malah suuzhon sama mbaknya ya? Harusnya mbaknya senang karena kopinya dipesan dua. Aku emang suka reaktif terhadap sesuatu. Mungkin masih terlalu banyak energi negatif dalam diri ini. Maafin ya mbak.
Sambil menunggu si Hitam penuh pesona itu datang, aku mencoba merilekskan pikiran dengan menikmati lagu yang diputar di kedai kopi ini. Ah, kedai kopi selalu menjadi tempat yang menenangkan. Selalu menyenangkan berada di dalamnya. Ternyata bahagia itu bisa diperoleh dari hal-hal yang sederhana. Sesederhana secangkir kopi itu sendiri.
Akhirnya, yang dinanti muncul juga. Namanya pak Dasril, begitu aku memanggilnya.
“Udah lama?” sapanya.
“Blom, Pak. Santai akunya, kok.”
“Bapak sering ngopi di sini, Ay. Di sini kita bisa bedain mana buatan Barista mana buatan karyawannya,” ujar pak Dasril membuka pembicaraan.
Sel-sel penasaranku mencuat ke permukaan. Si Hitam penyebar aromapun datang menghampiri meja kami. Aromanya menenangkan hati dan pikiranku yang lagi berantakan. Anehnya si Abang Barista nimbrung ngopi bareng dengan kita. Sepertinya sudah dikasih kode sama pak Dasril tentang maksud dan tujuanku mengunjungi kedai kopi miliknya.
Kami bercerita panjang tentang kopi. Mulai dari proses pengolahan coffee cherry, begitu cara bang Tones, Barista sekaligus Owner kedai kopi ini untuk menyebut kata lain dari buah kopi. Dalam industri perkopian, proses pengolahan adalah faktor penting yang gak boleh dilewatkan. Bahkan bisa memberikan efek dramatis pada akhir penyeduhannya. Proses pengolahan kopi biasa dilakukan dengan berbagai cara diantaranya natural process, wet process, hybrid process, honey process, dan semi washed yang banyak kita temukan di petani kopi Indonesia. Jadi, rasa yang berbeda dari kopi itu terbentuk dari cara pengolahan coffee cherry, kata Bang Tones.
Nah, di RayCoffee ini, mereka menggunakan metode penyeduhan Vietnam Drip. Metode ini cukup disukai para pecinta kopi, karena filter yang digunakan dinilai lebih dapat menjaga (mantaining) rasa yang terkandung dalam kopi. Selain itu, proses penyeduhan dan ekstraksinya juga lebih cepat dan kopi yang dihasilkan tidak terlalu padat. Keren kan, dear?
Di Raycoffee kamu juga bisa menikmati menu yang lain lho; seperti Kopi Susu, Kopi Tubruk, Teh Tarik, Lemon Tea, Kentang dan Singkong Goreng yang renyah; dan ini nih yang paling penting, di sini juga ada Mie Rebus, makanan kesayangan Bosque Herman Attaqi, founder Blog tercintah ini. 😍😅
Cerita tentang kopi emang ga akan pernah habis-habisnya. Selalu ada hal baru dan unik dari setiap pembahasannya. Seperti kopi itu sendiri yang membuat orang selalu rindu akan rasa dan aromanya. Tanpa terasa malam mulai larut, tapi aku tak punya keinginan sedikitpun untuk beranjak dari diskusi kopi ini. Gairah otakku mulai memberi signal pertanyaan siapa gerangan Sang Barista yang punya penampilan eksentrik ini?

Terlahir dari ayah Sunda dan ibu Banjar, serta dibesarkan di Kuala Enok, Tembilahan, Riau, kecintaan bang Tones kepada kopi sudah diwariskan oleh sang Ayah yang tak lain adalah penjual kopi di Kepulauan Riau sejak tahun 1987 hingga sekarang. Lelaki dengan nama lengkap Martones ini bahkan pernah mengenyam pendidikan di tiga universitas di Jogja. Doi juga pernah menjadi Bartender di Portico Terrace Bisro – Sency. Trus, memantapkan diri menjadi Barista dengan mengikuti training di Kok Tong yang sangat legendaris di kota tempat aku dibesarkan, yakni Pematang Siantar, Sumatera Utara, atau lebih tepatnya di persimpangan jalan Cipto dan jalan Wahidin.
Si Abang Tones yang juga punya hobi surfing ini sangat detil mengelola biji kopinya. Makanya ia suka galau kalo pesanan biji kopi ga sesuai dengan yang dia mau. Ditambah lagi kadang dia harus melayani permintaan dari penjual kopi bubuk di daerah Bangkinang yang mengharuskannya mempunyai alat roasting sendiri. Roasting adalah alat untuk menyangrai atau memanggang Green Bean (biji kopi yang sudah di kupas secara menyeluruh dengan proses semi washed). Sayangnya dear, di sini pengunjung belum bisa pesan Espresso. Sorry ya, makanya malam ini aku ga pesan. Semoga nuova simonelli espressonya cepet terlaksana ya, Bang. Ay tunggu… 😊
Sambil menyeruput sisa si Hitam Manja ini aku berpikir dalam hati kecil. Salut dengan orang yang bisa menghasilkan rezki dari hobinya. Karena mau bijimanapun penat dan lelahnya, mereka pasti kerja tetap pakai hati. Mengapa aku bilang pakai hati? Di zaman sekarang yang sudah mulai banyak penikmat kopi di mana-mana, merasakan kopi classic dengan harga terjangkau serta diseduh oleh Barista berpengalaman yang juga ikut prihatin atas nasib petani kopi Indonesia itu bisa jadi satu sensasi tersendiri. Dan, you semua bisa dapetin di sini, di RayCoffee.
Ayok, ngopi-ngopi di sini, di Raycoffee atau Kedai Kopi Tones dan dijamin gak bakal kucewa, deh. Aku juga mau dateng lagi kemari, bareng kamu tapi. Yuk, kapan?

