Author : Heri Prasetiawan
Setiap orang memiliki cara sendiri untuk menikmati liburannya. Begitupun aku dengan ketiga temanku; Apri, Yogi dan Fadil. Mereka bertiga adalah teman akrabku walau beda universitas. Mereka ini Mahasiswa Agroteknologi di Universitas Riau. Liburan kali ini kami memutuskan untuk mendaki gunung. Kami merencanakan mendaki di salah satu gunung yang ada di Provinsi Sumatera Barat, yaitu Gunung Talang.
Apakah kawan-kawan pernah ke Gunung Talang? Gunung Talang, atau nama lainnya Salasi atau Sulasi, merupakan gunung berapi yang terletak di Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Gunung Talang berlokasi sekitar 9 km dari kota Arosuka ibukota kabupaten Solok, dan sekitar 40 km sebelah timur kota Padang. Gunung ini bertipe stratovolcano dengan ketinggian 2,597 Mdpl yang juga merupakan salah satu gunung api aktif di Sumatera Barat dan salah satu kawahnya menjadi danau yang disebut danau Talang. Gunung Talang pernah meletus berkali-kali sejak tahun 1833 sampai dengan Tahun 2007.
Berbicara tentang mendaki gunung, aku teringat sosok tokoh mahasiswa jurusan Sejarah, Fakultas Sastra Universitas Indonesia (sekarang FIB UI). Bagiku ia adalah panutan, bahkan menjadi panutan banyak kalangan mahasiswa. Ia adalah Soe Hok Gie.

Gie, bukan hanya sebagai aktivis gerakan mahasiswa tahun 1966 yang menentang pemimpin besar Revolusi, Presiden Soekarno dalam demonstrasi mahasiswa, ia juga merupakan mahasiswa pecinta Alam.
Kawan, kalian kenal atau pernah dengar nama Soe Hok Gie? Soe Hok Gie lahir pada 17 Desember 1942, pada saat perang Asia atau perang dunia kedua sedang berkecamuk. Ia adalah seorang putra dari pasangan Soe Lie Pit (seorang Novelis) dan Nio Hoe An. Ia anak keempat dari lima bersaudara, Soe Hok Gie merupakan adik dari Soe Hok Djie yang dikenal juga dengan nama Arief Budiman.
Banyak sekali karyanya yang menjadi bahan bacaan wajib bagi para kaum intelektual, seperti : Catatan Seorang Demonstran, Zaman Peralihan, Di Bawah Lentera Merah dan Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan. Soe Hok Gie wafat pada 16 Desember 1969. Ia menghembuskan nafas terakhir karena menghirup gas beracun saat mendaki Gunung Semeru bersama rekannya Idhan Dhanvantari Lubis. Kabar kematiannya menjadi duka mendalam bagi kalangan aktivis mahasiswa bahkan bagi seluruh penduduk negeri. Indonesia kehilangan sosok aktivis kritis yang peduli dengan penderitaan rakyat.
Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tetapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Berbahagialah mereka yang mati muda. Pernyataan Soe Hok Gie dalam buku hariannya yang sejatinya ungkapan dalam Oedipus Di Colonus-nya Sophocles yang juga dikutip oleh Friedrich Nietzsche dalam tulisannya. Soe Hok Gie yang meninggal di usia muda ini dimakamkan di tempat yang sekarang menjadi museum Taman Prasasti di Jakarta Pusat.

Soe Hok Gie pernah berkata, “Dunia itu seluas langkah kaki, jelajahilah dan jangan pernah takut melangkah. Hanya dengan itu kita bisa mengerti kehidupan dan menyatu dengannya.” Bagi Soe Hok Gie naik Gunung bukanlah pelarian dari carut marutnya perpolitikan saat itu, namun adalah sebagai bentuk pemberontakan kepada rezim. “Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya terhadap slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan, mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama dengan rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung,” ujarnya.
Kata orang, mendaki itu ekstrim, tetapi itu sama sekali tidak menyurutkan niat kami para pecinta alam ini untuk mendaki. Setelah persiapan dan pembekalan dirasa cukup, kami memutuskan keberangkatan kami di malam hari dari kota Pekanbaru. Setelah sampai di Kabupaten Solok di pagi hari, kami langsung saja bergegas menuju posko pendakian untuk menyelesaikan proses administrasi. Tidak lupa kami berhenti sejenak untuk berdoa supaya diberi keselamatan oleh Yang Maha Kuasa. Kali ini berbeda, kami mendaki lewat jalur yang baru saja di buka, yakni jalur Seroja.
Mari bung!
Pendakianpun dimulai dengan medan yang belum kami ketahui. Pastinya lebih hati-hati dalam setiap melangkah, seperti meniti tangga kesuksesan hidup. Ekspektasi hingga mencapai kaki gunung adalah 4 jam perjalanan. Cuaca sedikit mendung, tapi hatiku tidak. “Semoga saja tidak hujan hingga sampai di tempat perkemahan,” ujarku kepada kawan-kawan.
Hamparan kebun teh yang luas menghiasi pendakianku. Cuaca semakin mendung. Jas hujanpun segera kami persiapkan. Medannya cukup ekstrim serta jalan yang sempit disertai jurang menganga yang selalu mengintai. Persis seperti sedang meniti titian sirothol mustaqim. Sebuah wahana yang cukup baik buat kamu yang ingin bertobat dari maksiat dan dosa. Jadi, kalo mau merasakan terjun ke dalam neraka, kawan bisa mencoba wahana ini: terjun ke jurang.
Setelah satu jam perjalanan, kami memutuskan untuk beristirahat dan mengisi ulang air minum yang berasal dari mata air pegunungan. Subhanallah, sejuk sekali air ini. Mengingatkanku pada senyuman Kak Ria, kakak kelasku waktu SMA. Ah, tiba-tiba bayangan abangnya melintas dipikiran. Aku memutuskan ga jadi mengingatnya.

Setelah dirasa cukup untuk beristirahat, kami kembali bergerak melanjutkan pendakian untuk menaklukkan tantangan gunung Talang ini. Sesungguhnya, kami tidak sedang menaklukkan ketinggian gunung, tapi sedang menaklukkan ketinggian hati kami sebagai manusia yang cendrung lalai ini. Mendaki gunung adalah praktek terbaik memahami kalimat, “di atas langit masih ada langit,” sementara puncak gunung yang dengan susah payah akan kami daki, hanyalah kaki dari langit pertama yang bisa dilihat oleh manusia. Masih mau sombong?
Jalanan terjal masih tetap menghiasi pendakianku, seterjal kisah cinta yang kualami. (Paansih ini melow2 dari tadi?) Kicauan burung yang merdu menjadi semacam musik pengiring perjalanan. Bahkan seekor ular besarpun ikut serta melintas di depan kami. Kaget bung! Jantung berdetak makin kencang.
👨 : Mengangkat telapak tangan ke atas memberi isyarat berhenti.
👦👲👱 : Ada apa, Bang?
👨 : Ada ular, jangan diganggu, biarkan dia lewat.
👦👲👱 : Yahh bgg siapa si berani gangguin ular? (Batin mereka dalam hati).
Begitulah. Semua yang pernah mendaki gunung pasti memiliki pengalaman yang luar biasa. Pada pendakian kali ini kami juga sempat keracunan makan jamur hutan yang tumbuh di pohon kayu. Untung saja bisa segera diselamatkan oleh kawan-kawan pendaki yang lain. Inilah yang namanya solidaritas. Di setiap pendakian, akan kita temui makna solidaritas yang sesungguhnya dari semua pendaki. Makna yang sudah semakin hilang dari pergaulan hidup di negeri ini.
Baru aku sadari bahwa mendaki gunung adalah satu bentuk perenungan yang baik buat semua orang. Dari sini kita bisa merenungi banyak hal; tentang kehidupan, bahkan juga tentang kematian. Ternyata Soe Hok Gie betul-betul menemukan buah dari pemikirannya di sini, di atas gunung. Ia mencintai negeri ini. Merenungi, mengkritik serta bergerak melawan tirani dari sini, di atas gunung. Ia mencintai negeri ini, disamping juga mencintai gunung. Dan, akhirnya mati di tempat yang ia cintai. Salam hormat buatmu, Bung!
Pukul 04.00 dini hari kami bangun dari tempat perkemahan di shelter dan mulai melanjutkan pendakian untuk tahap akhir: Puncak Gunung Talang. Semangat pantang menyerah tetap menjadi modal utama. Kami melewati medan bebatuan yang semakin terjal. Semakin dekat ke puncak, semakin kami tak peduli dengan semua lelah. Begitu jua hidup kawan, “semakin jelas tujuan hidupmu, semakin kuat tekadmu untuk meraih sukses.” Sukses adalah saat engkau berhasil mengalahkan semua rasa lelahmu dalam berjuang dan engkaupun sampai ke puncak perjalananmu. Ya! Seperti yang kami rasakan. Lihatlah kawan, dari ketinggian 2,597 Mdpl puncak gunung Talang ini, kami menatap langit dan cahaya matahari pagi.

Ada satu lagi yang sangat penting bagiku, yakni menemui Bunga Eidelweis, bunga keabadian. Inilah perlambangan cinta, seperti kau dan abangmu ini duhai, adik. Kita ini fana, tapi cinta kita abadi. Percayalah sama abang.

Salam.
*Heri Prasetiawan adalah seorang mahasiswa yang bercita-cita menjadi Hotman Paris Hutapea.
