kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

A Halu Story (Part 3) : Happy Birthday Mr. Lee Jaehwan

Author : Taqiya Herman

“…Tess.. tes.. tes..”

Rintik hujan terdengar riang. Perjalanan menggunakan cable car ke tempat ini telah menjadi petualangan yang menyenangkan. Mengingat pertemuan yang akan menjadi sebuah special moment. Entah untukku atau untuknya. Entahlah.

Sayang sekali ini bukan musim salju, jadi aku tak bisa bermain-main salju di puncak tower yang terkenal ini. Ah, tak mengapa. Karena itu pulalah aku berani merogoh kantong 6800 won, ketimbang 1200 won dengan menggunakan bis, hanya ingin menikmati indahnya pemandangan menuju Namsan Tower yang paling ngehits di kota Seoul ini. Aku berdiri di depan Namsan Tower sambil memegang kotak kue dan seikat balon. Sudah setengah jam, akhirnya siluet tubuh pria itu terlihat juga.

“Ya, Mr. Lee! Kau terlambat sekali” semburku sambil memanyunkan bibir. Saat itu tiba-tiba suasana indah Namsan Tower menjadi tidak menarik. Pria itu tertawa. Bahu lebarnya yang basah menandakan dia baru saja menembus hujan.

“Sore ini hujan deras kau tau?” Ia tertawa lagi. Setelah itu kami terdiam cukup lama. Mataku memandang jauh ke puncak menara setinggi 236,7 meter ini atau setara dengan 777 kaki. Angka 7 selalu mengingatkanku pada cerita mistik India kuno. Persis ketika menaiki cable car di ketinggian tadi aku membayangkan dewa matahari sedang menaiki kereta yang ditarik oleh 7 ekor kuda bersayap.

“Hey, kau memintaku ke sini tapi kau malah diam saja.” Suara bariton Lee Jaehwan memecah keheningan. Aku menepuk jidatku pelan. Bisa-bisanya aku melupakan hal penting itu.

“Tiuplah sebelum angin yang meniupnya.” Aku mendekatkan kue yang di atasnya terdapat lilin bertuliskan angka 27 ke wajahnya. Pria itu tersenyum dan mengangguk. Tapi, tepat di depan lilin tersebut dia berhenti. Aku lalu menatapnya dengan tatapan bertanya, “apa lagi yang kau tunggu?”

“Sebelum meniupnya, ayo kita buat sebuah permintaan,” ucapnya singkat. Perlahan wajahnya dihadapkan ke langit. “Tuhan, perihal apa yang dikhayalkan gadis ini tentangku, semoga semuanya menjadi kenyataan,” bisiknya.

Dia tersenyum dan meniup lilin. Menepuk pelan pundakku yang saat itu tengah menatap asap lilin yang kini telah sampai ke Tuhan.

Aku tersenyum agak aneh. Mungkin karena hujan gerimis ini sepertinya enggan berhenti. Tapi, apa hubungannya pikirku? Ah, apa bedanya dengan orang-orang yang datang ke Namsan Tower ini hanya untuk menuliskan namanya di gembok cinta, lalu membuang kunci gembok itu dengan mengharapkan cinta yang abadi? Agaknya Tuhan memang sengaja menciptakan dunia ini dengan keanehan-keanehan, pikirku sambil beranjak pergi jauh ke tengah kerumunan hujan yang paling gerimis.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai