kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Selow-isme, Sebuah Aliran Filsafat Santai

Author : Ziyad Ahfi

Fenomena sosial abad ke-21 adalah ketika manusia mulai bersaing dengan teknologi yang diciptakannya sendiri. Mulai dari bangun tidur hingga terlelap kembali. Misalnya ketika bangun, kebanyakan orang secara otomatis akan langsung ngecek smartphone. Entah itu sekedar melihat instastory, membuat story dengan gambar hitam dan tulisan putih, “Baru bangun nich, tapi masih ngantuk. Tidur lagi engga ya gaeess?” Atau melihat pesan whatsapp dari Grup Gibahin Capres (GGC). Karena keasyikan mengutak-atik smartphone, akhirnya membuat kita terlambat untuk beraktifitas pagi. Seperti kuliah, sekolah, ataupun bekerja. Jika ia mahasiswa, dan pada pagi itu dosen mata kuliahnya killer, maka ia akan tergesa-gesa ke kampus, takut setibanya di kelas akan kena kunci dari luar. Atau pekerja kantoran karena keasyikan main smartphone, akhirnya buru-buru. Sebab kalo terlambat gaji akan dipotong. Eh, taunya di jalan malah macet, hati gelisah, galau, merana dan ketakutan pun muncul.

Barangkali itu contoh sederhananya. Ketergantungan kita terhadap apa yang kita ciptakan sendiri. Apa yang kita ciptakan sendiri itu maksudnya adalah kekhawatiran-kekhawatiran yang sebenarnya datang dari persepsi kita sendiri. Takut tertinggal info dari @lambeturah; takut whatssapp pacar belum dibalas; takut kalau belum update nanti ditinggal followers; takut terlambat; takut macet; takut hantu kolor ijo. Kehawatiran-kehawatiran itulah sebab musabab munculnya emosi negatif yang kita bangun dalam persepsi kita masing-masing.

Lantas timbul pertanyaan. Apa itu emosi negatif?

Saya akan jelaskan hal ini dalam perspektif filsafat Stoisisme atau Stoa. Ada yang pernah denger kaum Stoa? Bagi yang pernah nonton film Gladiator pasti tau tentang awal mula munculnya filsafat Stoa ini. Dalam film tersebut dikisahkan kaisar Romawi namanya Marcus Aurelius sebagai salah satu pengusung utama filsafat Stoa.

Dulu di perbatasan Germania terjadi peperangan besar. Berawal dari utusan kaisar Romawi yang mengajak berdamai dengan kaum Barbar. Ternyata utusan kaisar Romawi tadi pulang dengan kepala yang sudah ditebas. Di situlah akhirnya kaum Barbar secara tidak langsung menolak perdamaian tersebut dan menjadi pemicu peperangan. Mau tidak mau pasukan Romawi terpaksa berperang. Hingga akhirnya peperangan dimenangkan oleh pasukan Romawi yang dipimpin oleh panglima perang Maximus.

Setelah peperangan selesai, bukannya gembira, kaisar Romawi selalu merenung. Ia bertanya kepada Maximus, “Saat orang sudah merasa akhir hidupnya dekat, ia mulai bertanya-tanya apakah hidupnya memiliki tujuan… Apakah aku akan dikenang sebagai Filsuf, Prajurit, atau Tiran?”

Kaisar Marcus Aurelius ini dikenal sebagai kaisar yang bijak, dan sering menulis perenungan-perenungan pribadinya di bawah tenda perang. Dan, akhirnya kumpulan pikiran sang kaisar melahirkan apa yang disebut dengan filsafat Stoa. Pengikut aliran filsafat ini disebut kaum Stoa.

Kaum Stoa meyakini bahwa emosi negatif itu bukanlah perasaan liar yang tak bisa dijelaskan asal usulnya. Ia sangat bisa di jelaskan. Emosi negatif itu adalah opini yang mengatakan bahwa sesuatu itu buruk (sehingga muncul rasa sesal dan takut), atau opini yang mengatakan bahwa sesuatu itu baik (sehingga ada rasa senang dan rasamenginginkannya). Kaum Stoa juga sangat mengandalkan distingsi pokok antara ‘apa yang tergantung padaku’ (yaitu, jiwaku dan rasioku) dan ‘apa yang tidak tergantung kepadaku’ (yaitu; tubuhku, lahirku, matiku, i̶b̶a̶d̶a̶h̶k̶u̶, s̶h̶o̶l̶a̶t̶k̶u̶, dsb). Maksud sederhananya adalah kita harus fokus dan bisa membedakan mana yang benar-benar menjadi kebutuhan dan mana yang tidak.

Secara global, berdasarkan faktor penyebabnya, kita bisa membagi kebahagiaan itu menjadi dua hal: pertama; eksternal (dari luar diri), dan kedua; internal (dalam diri). Dan, kaum Stoa menempatkan kebahagiaan itu ada di dalam diri (internal). Lebih tepatnya apa yang disebut di atas tadi ‘apa yang tergantung padaku’ (yaitu jiwaku dan rasioku). Bagaimana contohnya?

Oke. sebentar, ngopi dulu biar gak tegang.

Coba perhatikan, kalau kita sedang berkeluh kesah. Sering kali keluh kesah kita itu datang setelah terjadinya sebuah peristiwa. Misalnya, saat kita khawatir artis yang kita idolakan ternyata bercerai. Saat kuota internet habis yang akibatnya tidak bisa buka grup yang isinya gibahin Syahrini. Atau saat sedang dalam kemacetan, dikecewakan orang, dizolimi, difitnah maling gorengan dan macam-macam kekhawatiran lainnya. Maka dengan cepat kita akan mengomel. Kenapa kita ngomel? karena kecemasan yang berlebihan. Padahal sebenarnya hal itu tidak perlu dicemaskan. Karena itu semua adalah interpretasi yang secara otomatis kita ciptakan sendiri. Epictetus mengatakan, “Bukan hal atau peristiwa itu sendiri yang sebetulnya membuat kita cemas, melainkan persepsi kita terhadap peristiwa yang terjadi itu”.

Biar lebih jelas, kurang lebihnya begini :

PERISTIWA :
Syahrini menikah dengan Reino Barak.

INTERPRETASI OTOMATIS:
Dasar pelakor! Bisanya Cuma main belakang! Curang!

EMOSI NEGATIF :
Marah, kesal, frustasi, gondok.

Kawan yang mulia.

Sesungguhnya kita bisa memiliki kendali terhadap rasa cemas, khawatir, dan emosi negatif lainnya itu; yaitu, jika kita bisa mengendalikan pikiran kita secara aktif. Dengan begitu, kita bisa menginterpretasikan sebuah peristiwa secara rasional. Betul-betul menggunakan nalar sehat. Biar lebih sedap, kita ambil contoh analogi yang digunakan Marcus Aurelius, “Jika kita tidak menggunakan nalar yang sehat, maka kita tidak ada bedanya dengan binatang. Bagaikan kucing yang dipegang oleh orang yang tidak dikenalinya, maka secara insting kucing tersebut berniat mencakar. Karena menganggap orang itu sebagai ancaman.”

Interpretasi tidak berguna tadi coba kita ubah begini:

PERISTIWA :
Syahrini menikah dengan Reino Barak.

INTERPRETASI OTOMATIS :
Alhamdulillah, akhirnya menikah juga. Semoga pernikahan ini membawa kebaikan untuk mereka berdua. (Walaupun mereka tidak kenal saya, saya ikut senang)

EMOSI POSITIF :
Tenang, senang, terinspirasi untuk menikah. Ambil hikmah untuk menikah cepat sebelum nanti di ambil orang.

Kawan yang selow.

Peristiwa-peristiwa semacam itu datangnya dari luar diri kita. Ngapain dipikirin amat hehehe. Lagian dia yang nikah, ngapa lu yang sewot? Emang dia kenal lu gitu? Emang lu berpengaruh buat hidupnya? Toh, juga lu ngamuk-ngamuk ga bakal ngubah situasi apa-apa. Yang ada ngebuat diri sendiri gelisah. Akibatnya bisa buruk buat diri sendiri dan lingkungan. Kesehatanmu itu lho, kawan.

Pengikut kaum Stoa yang dipimpin Marcus Aurelius ini nampaknya ada di dalam diri kawan sedari kecil saya, Irfan al-Hafizh. Blio ini akrab dipanggil Ipang, Ipeng, dan semacamnya. Kasi senyum dulu lah biar selow.

Mungkin bisa dikatakan beliau ini adalah Aurelius milenialus gaulus maximus, milenial yang gaul maksimal. Kenapa? Dia tidak suka dengan permusuhan. Selalu cinta kedamaian. Buktinya mau dijuluki apapun dia tetap selow dan cengar cengir aja. Yang penting ‘asal kau bahagia’. Beberapa kawan yang lain mungkin sudah marah, kalau blio ini sungguh berbeda. Doi bilangnya gini, “Gua mah gapapa mau dipanggil apa juga. Yang penting lu pada seneng, gua juga ikutan seneng.” Dulu kami satu almamater di pesantren. Kalo ada pelanggaran berat di pondok, maka salah satu hukumannya digunduli sampe botak. Beberapa kali dia digunduli, tapi tetap selow. Kawan-kawan yang lain pasti kepikiran malu, gak pede, pokoknya untuk beberapa hari frustasi. Si Ipang ini jelas beda. Cuma bilang, “Selow aja. Lebay lu pada. Entar juga numbuh lagi..”. Tiap mau ujian dia tetap santai, tidak punya beban seperti kawan-kawan yang lain. Kalo yang lain takut sama ujian, dia berbeda. Dia akan bilang, “Yaelaah..Selow aja.. Gausa tegang-tegang amat.. Tar juga pasti bakal lewat kok.”

Sebenarnya, kalau kenal dekat dengan Ipang ini kita pasti akan terhipnotis dengan gaya selownya. Spontan kita sesaat seperti tak punya beban akibat magnet selownya itu. Tapi, sebenernya dia tetap sedang berpikir dengan nalar sehatnya. Apa buktinya? Tidak mungkin orang yang sedang sehat melakukan suatu tindakan jika tidak dari alam pikirnya terlebih dahulu. Atau, apa mungkin ada salah satu dari urat syarafnya yang udah putus? Kalo ini saya baru bisa berasumsi. Hehehehe..

Baeqlah kawan yang nyantai. Segini dulu. Udah cukuplah, ya kan? Oya, tulisan ini terilhami dari bukunya bang Henry Manampiring yang judulnya Filosofi Teras. Tadi juga tulisan ini dibuat di teras sambil ngopi. Biar selow kayak orang-orang.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai