Author : Ziyad Ahfi
Pada malam yang panjang, selalu ada singgasana bagi perbincangan-perbincangan yang dahsyat. Biasanya di warung-warung kopi, tempat di mana segala penat dihelat sejenak dengan menikmati secangkir kopi. Segala yang berbau kopi seringkali diidentikkan dengan seseorang yang gelisah. Setidaknya bagi orang-orang seperti saya yang mahasiswa perantauan ini. Entah itu gelisah karena memang suntuk di kos, atau memang kopi dijadikan alasan untuk silaturahmi pendek demi keakraban. Menurut saya sendiri, kopi itu bisa menimbulkan semacam situasi kejiwaan yang revolusioner. Bagi penikmat ataupun pecinta kopi pasti mengerti situasi kejiwaan yang tak dapat ditafsirkan lagi itu. Yang terpenting ialah tidak menyebabkan sakit jiwa, kalau sakit jiwa mungkin kopinya dicampur Baygon rasa mangga. Mungkin. Tapi, saya belum pernah nyoba. Ayo kita berangkat. Kemana?

Coba kita dudukkan suatu perkara baru dengan secangkir kopi malam ini. Tidak lewat kedai kopi, cukup lewat dunia maya ini saja. Di zaman sekarang pertemanan dunia maya tampak lebih solid dibanding dunia nyata. Giliran kumpul di dunia nyata semua kepala dalam posisi sholat menghadap ke sajadah, sibuk dengan gadget masing-masing. Jadi, lebih baik malam ini kita sibukkan saja di dunia maya. Agar kawan yang tak terjangkau dapat ikut nimbrung dalam cakap-cakap akrab ini.
Harus diakui memang semakin bertambahnya umur, kita selalu melewati siklus pertemanan yang disebut dengan seleksi alam. Maksudnya adalah akan ada saatnya lingkaran pergaulanmu tidak itu-itu saja. Pasti selalu menemukan kecocokan. Sebab sifat dasar manusia itu mudah bosan dan selalu ingin mencari sesuatu yang baru. Ada yang bertahan dan ada juga yang tidak. Adapun yang bertahan biasanya orang itu punya irisan sejarah dalam hidupnya. Yang tidak bertahan bisa jadi dikarenakan sudah waktunya pergi dari dunia ini atau sedang mencari jati diri entah kemana pergi. Begitulah kata Boril Noah dalam lagunya, ‘Tak Ada yang Abadi’.
Kalau memang tak ada yang abadi, marilah kita coba bincangkan persoalan ini. Tapi, percakapan malam ini tidak seputaran; Apa kabar? Bagaimana kuliahmu? atau IP-mu semester lalu berapa? Sesekali kita mengawang ke dalam imaji kita. Mari kita buka dari apa yang disebut sebagai perspektif. Saya bukan seseorang yang fanatik terhadap capres atau yang fanatik dengan boyband Korea. Mungkin kalian juga. Tapi, saya kan tak tahu. Orang-orang yang fanatik itu tentu tak selalu menyadari bahwa selama mereka menjalani hidup ini, mereka seperti sedang mengapung di dalam ruang hampa. Sebab di dalam ruang itu tak ada cela sedikitpun untuk cahaya pencerahan pandangan masuk. Sesekali bukalah, agar percakapan ini menjadi asyik.
Oke. Baiklah kawan-kawan. Mari kita mulai perbincangan malam ini. Siapkan dulu kopi kalian, karena kita akan melewati malam yang panjang.

Pernahkah terpikir oleh kalian mengapa kita ada di dunia ini? Walaupun pada akhirnya kita juga akan segera pergi dari sini. Dan, kepergian itu tidak bisa kita tentukan kapan terjadinya. Bukankah kita untuk hidup tak pernah memilih? Tapi, orang-orang selalu bilang hidup itu pilihan. Akankah kalian memilih untuk hidup di bumi ini setelah mengetahui dengan pasti bahwa kalian akan tiba-tiba dicabut dari sini? Atau barangkali dicabutnya di saat-saat sedang mengalami kebahagiaan?
Kita hadir (tepatnya, dihadirkan) ke dunia ini hanya sekali. Lalu masuk ke dalam dunia ini hanya untuk melihatnya berakhir. Sensasinya mungkin berbeda dengan seekor ikan yang ditaruh ke dalam kolam lalu dipancing kembali. Atau barangkali pohon pisang yang sengaja ditanam di pekarangan rumah lalu ketika tumbuh dipotong kembali. Kita yang hidup tentu belum merasakan sensasinya, tetapi kita punya bayangan yang menyakitkan mengenai itu. Kehilangan seseorang yang sangat berharga, atau membayangkan kapan giliran kita berakhir dari sini. Bukankah sekedar membayangkannya saja sudah menyakitkan?
Segalanya begitu menyenangkan, hingga sangat pedih untuk membayangkan bahwa suatu ketika hari-hari itu tiada lagi. Jika Tuhan berkehendak lain dan memberi kalian pilihan, apa yang akan kalian lakukan jika disuruh memilih? Memilih hidup di waktu yang singkat atau panjang? Di belahan bumi yang mana? Atau menolak untuk hidup karena tak menyukai aturannya? Atau ingin hidup abadi tanpa kekecewaan dan kehilangan?
Suatu ketika saya ajukan pertanyaan kepada seseorang, “Saya sangat ingin bertemu denganmu, tapi ada hal yang sangat saya khawatirkan.” Seseorang itu bertanya, “Apakah hal yang kau khawatirkan itu?” “Perpisahan”, ujarku kemudian, “Sebab, saat-saat itulah yang membuatku dilema. Ingin bertemu tapi takut berpisah. Tak bertemu, tapi belum tau entah nanti bertemu lagi atau tidak.” Dengan tenang dan bijaksana ia menjawab, “Jika kita tidak bertemu, maka kita tidak akan memperoleh apa-apa atau apa lagi yang kita dapatkan selain menahan rindu? Terkadang lebih terasa menyakitkan kehilangan sesuatu yang disayangi dari pada tak pernah memilikinya sama sekali.”
Sepertinya begitulah aturan dunia. Kau siap bertemu, berarti kau siap berpisah. Kau siap hidup, berarti kau siap mati. Apakah itu aturan yang adil? Entahlah. Saya tak tahu pasti. Mungkin kalian lebih tahu daripada saya. Barangkali hal ini pula yang menyebabkan Socrates mengungkapkan kalimat terkenalnya, “Yang aku tahu adalah bahwa aku tak tahu apa-apa.”
Mungkin karena inilah manusia selalu ingin mencari sesuatu yang baru. Sebab, kita tahu dan sadar kalau hidup ini hanya sekali. Karena kita juga tidak pernah memiliki kepastian tentang akhir cerita hidup ini yang tidak tahu kapan ujungnya. Dan, celakanya aturan itu selalu membayang-bayangi kita. Membuat kita selalu hidup dalam kecemasan. Jika tak sanggup dengan perangkat aturan itu atau barangkali ada yang sudah frustasi dengan beranggapan bahwa lebih baik tidak dilahirkan sama sekali, karena memikirkan bahwa suatu saat akan meninggal saja sudah membuatnya sedih.
Seorang kawan yang sedang galau merana bahkan ada yang sampai pernah berkata, “Seandainya ibu dan bapakku dulu tidak bertemu, maka aku tidak akan ada di dunia ini.” Kawan ini sedang mencoba membuat penyesalan bahwa bapak dan ibunyalah yang bertanggung jawab atas segala hal tentangnya di dunia ini. Ia mulai pesimis dan menyalahi segalanya. Tapi, ia lupa bahwa bapak dan ibunya juga sebelum ia dilahirkan tidak mengetahui anak seperti apa yang nantinya akan mereka terima. Siapa tahu harapannya berbeda dengan yang ada, atau menerima apa saja yang di dapatkan. Pada intinya, semuanya sama-sama menerima. Dan, itu juga adalah aturannya.
Ada nasehat singkat dan sangat dalam maknanya dari Pramoedya Ananta Toer, “Hidup bisa memberi segala bagi barang siapa yang tahu dan pandai menerima.” Penulis buku Dunia Sophie, Jostein Garder juga memberi sumbangan nasehat, “Hidup ini singkat bagi siapa yang benar-benar bisa memahami bahwa suatu hari seluruh dunia ini akan tiba pada titik akhir yang penghabisan.”
Seandainya saya diberikan pilihan, saya pasti akan memilih untuk tetap hidup di bumi ini, walaupun dalam waktu yang singkat. Seperti jawaban oleh seseorang yang saya ceritakan tadi. Saya takkan pernah menyesali bapak dan ibu yang pernah bertemu. Jika pun kelak saya tahu bahwa dahulu mereka hampir gagal untuk bertemu, maka saya akan berdoa agar mereka jangan sampai gagal untuk bertemu. Sebab tanpa pertemuan mereka, saya tidak akan tahu apa itu bahagia. Apa itu kecewa. Apa itu hidup. Apa itu takut. Apa itu anugrah. Meskipun semuanya saya jalani di waktu yang singkat.
Semua ini memang terlihat rumit. Tapi, kita harus mulai mengerti bahwa semuanya memang agak sensitif dan membuat kita kesulitan membicarakannya. Mungkin kita juga harus ingat tentang aturan ini, agar kita ingat semua ini sangat singkat dan benar-benar singkat. “Seperti sebuah lotre besar di mana hanya tiket pemenanglah yang diperlihatkan”, ujar Jostein Garder. Salam ngopi malam.
