kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Otewe Galau

Author : Heri Prasetiawan

Rindu.
Tahukah kau kawan apa arti rindu?
Apakah kalian sedang merindu?
(Jawab dalam hati saja ya kawan)

Pagi telah pergi
Mentari tak bersinar lagi
Entah sampai kapan
Ku mengingat tentang dirimu

Memanggil namamu di setiap malam kuingin kau datang dan hadir di mimpiku.

~ Rindu, by Virzha

Engkau serupa sajak tanpa jeda, yang melintas di pikiranku secara perlahan namun menghujam, lalu diam-diam menggerogoti sedikit demi sedikit sel-sel yang meniupkan nafas, menghentakkan nadiku.

Indriyani,
Bagaimana kabarmu?

Mungkin kau tak akan pernah membaca tulisan ini. Seseorang yang dikasihi hati. Seseorang yang senyumnya selalu kurindui. Seseorang yang kukagumi, namun sayangnya kini kau telah ke lain hati. Aku agaknya memang ditakdirkan untuk hanya pandai menulis, sedangkan kau tak suka membaca. Huhuhuhu..

Masih segar dalam ingatan, kau hadir menemuiku yang sedang jatuh terpuruk oleh keadaan. Lalu, dengan lirih kau bisikkan ke telingaku, “Bangunlah, ada aku yang selalu bersamamu.” Sebuah ucapan singkat namun penuh makna bagiku yang sedang terluka saat itu. Karena ucapanmu itulah, aku bangkit dan berusaha tegar dalam menghadapi cobaan. Cobaan cinta yang datang bertubi-tubi. Cinta seolah-olah berubah menjadi sebuah bumerang yang saban kulempar, setiap itu pula kembali padaku dalam hal-hal yang menyakitkan.

Bulan April yang telah lewat menjadi saksi tentang kedua insan yang merajut cinta dan kasih. Aku dan kamu menjadi kita. Suka maupun duka selalu kita lewati berdua. Saling bahu membahu dan saling menjaga hati. Itulah ucapan janji suci kita. Apakah kamu mengingatnya kasih? Ah, mana mungkin kau bisa semudah itu melupakannya, batinku.

Namun, kini justru semua telah berubah. Kisah yang dulu terukir indah, sekarang seperti kumpulan dedaunan yang diterpa oleh angin dahsyat. Buyar, kawan. Seperti derai-derai air hujan yang menyisakan uap air yang menempel di kaca nako jendela depan rumahku. Pupus dan menghilang entah kemana. Syurammm..

Hari ini, tepat 3 tahun kita berpisah. Aku dan kamu yang dulunya menjadi kita, sekarang tinggal sebuah cerita. Sebuah kenangan. Satu hal yang membuatku tetap menantimu, yakni harapan. Harapan agar dirimu kembali kepadaku. Perasaan yang tak pernah lelah meski seringkali dihajar kalah. Berkali-kali didera luka dan kecewa. Namun memilih untuk tetap ada. Bahkan saat kamu berulang kali menikam dan membunuhnya dengan sangat kejam. Ajaibnya, perasaan itu masih saja bertahan. Masih hidup, meski telah sekarat.

Kawan, perasaan sakit bukanlah hal yang perlu dijelaskan. Namun, ada yang lebih kuat yang tak mampu dijabarkan, memilih menanti pada harapan yang tak pasti, yang kemudian itu semua kunamai dengan cinta. Cinta buta seorang lelaki. Seperti Qois, si Majnun yang tergila-gila kepada Layla. Atau seperti cinta terpendam Zainuddin kepada Hayati. Atau, bisa jadi cinta seorang pemuda goblok yang tak tau diri macam aku ini.

Kasih, apakah aku salah merindumu?
Jika merindumu adalah sebuah kesalahan, aku tidak ingin ada pembenaran atas itu. Tak akan ada apologi akan hal itu. Ini mungkin hanya sebuah elegi yang receh bagimu. Tapi, aku merasakan kobaran yang kuat dari setiap debar jantungku.

Rindu ini menggebu, kawan. Dan, bukan hanya ruang dan waktu yang menjadi penghambat. Namun, tragisnya kini kau juga telah menemukan pengganti terbaikku. Setidaknya perihal ‘terbaik’ itu menurut defenisimu. Sah saja.

Untuk kau ketahui bahwa sampai detik ini, banyak sekali orang yang bertanya padaku, bagaimana tentang aku dan kamu. Aku hanya mampu tersenyum. Senyum yang jika bisa mereka baca yang berarti, “Ah..entahlah.” Aku masih menikmati semua ini. Setiap bulir rindu yang hadir. Perasaan bahagia ketika membaca pesan singkatmu. Sesekali aku jenuh, ingin sekali memutar kembali waktu pada momen bahagia kita dulu. Tapi sudahlah, aku tahu bahwa aku tak berhak sedikitpun atas waktumu.

Semoga kau berbahagia selalu. (Tapi, maaf doa ini hanya untukmu saja, bukan untuknya).

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai