Author : Ziyad Ahfi
Perjalanan hidup selalu dibayang-bayangi oleh sesuatu yang kita anggap jahat. Secara tidak langsung kita menganggap bahwa kita inilah yang sebenarnya baik. Misal, seorang politisi berkampanye mengatakan, “Orang baik pilih orang baik”. Jika dipandang secara logika itu bisa benar. Karena setiap orang pasti menganggap, baik itu adalah hal yang positif.
Mustahil ada seorang politisi yang sedang berkampanye mengatakan dirinya tidak baik. Mungkin hanya Socrates yang berani berkampanye merasa bahwa dia sebenarnya tidak tahu apa-apa. Tapi bila dilihat dari narasi yang dibangun oleh politisi itu, bukankah secara tidak langsung ia sedang menegasikan sesuatu bahwa “hanya dirinyalah yang baik dan politisi lain itu jahat”. Maka jangan pilih mereka, mereka bukan orang baik. Bukan begitu, kawan? Satire semacam ini sering terjadi. Baik dalam politik maupun pertemanan.
Sejarah sudah membuktikan hidup ini berisi pertentangan antara baik dan jahat, meskipun sebenarnya tidaklah sesederhana itu. Filosof Murtadha Mutahari optimis dan berkeyakinan bahwa sistem wujud didasarkan atas kebenaran dan kebaikan, dan keburukan bersifat sementara.
Sebagai contoh, meskipun manusia mempunyai kecendrungan terhadap nafsu kejahatan seperti korupsi atau membunuh, tapi manusia dianugerahi suatu sifat-sifat kebaikan yang menentang pembunuhan,korupsi, diskriminasi, dan sebagainya. Bisa kita sebut itu prinsip moralitas.
Untuk mengetahui cara kerja sejarah memang memerlukan perenungan yang panjang. Hegel berpendapat, sejarah adalah kisah tentang ‘ruh dunia’ yang lambat laun mendekati kesadaran itu sendiri. Kebudayaan dan perkembangan manusia telah membuat ruh dunia semakin sadar akan nilainya yang hakiki. ‘Ruh dunia’ yang dimaksud Hegel sama dengan ‘akal dunia’, yaitu adalah seluruh perkataan manusia. Sebab hanya manusialah yang mempunyai ruh dan akal sekaligus.
Analogi sejarah itu seperti sungai yang terus mengalir. Setiap gerakan sekecil apapun dalam air di tempat tertentu ditentukan oleh jatuh dan berpusarnya air di hulu. Sejarah pemikiran adalah sejarah mengalirnya sungai. Setiap aliran sungai yang kita lalui dan benda-benda yang kita lewati menentukan bagaimana cara kita berpikir.
Oleh karena itulah kita tidak dapat menyatakan kita benar selama-lamanya, tapi pemikiran itu bisa jadi hanya benar di mana tempat kita berdiri atau berpijak.
Dari Kesimpulan ini, Hegel berpendapat kebenaran itu bersifat subyektif. Jika begitu, tentu politisi tadi menganggap dirinya baik hanya karena pendapat subyektifnya saja, bukan sebenar-benarnya baik. Saya yang mendengarnya saja tentu punya pendapat berbeda dengan menganggap pernyataan itu hanya satire, atau bagi politisi hal itu diperlukan untuk penggiringan opini publik. Karna tidak ada yang bisa menjamin dia benar-benar baik atau tidak.
Begitulah sejarah, dimana manusia sebagai daya penggeraknya, berkembang atas pemikiran-pemikiran yang dibuatnya. Disitulah kesadaran dari generasi ke generasi cenderung berubah.
Kemajuan ilmu pengetahuan mengalami tiga tahapan yaitu tesis, anti tesis, dan sintesis. Setiap kali ada pernyataan yang diajukan (tesis) akan timbul suatu pernyataan yang bertentangan (anti tesis). Tetapi ketegangan diantara dua pernyataan itu dicairkan oleh sintesis. Sintesis pun juga akan dihadang oleh antitesis baru. Itulah yang dikatakan Hegel sebagai negasi, karena ia percaya bahwa sejarah itu sendiri mengungkapkan pola dialektis. Lalu Hegel meneguhkan kesimpulan, bahwa sejarah telah membuktikan kebanyakan dari apa yang kita anggap pasti tidak akan bertahan jika dilihat dari sudut pandang sejarah.
Cotoh lain seperti perjuangan kaum feminis membela hak-haknya. Semakin sering kaum pratriarkis merendahkan kaum feminis, maka semakin keras pula mereka membela dan melawan. Atau contoh lain seperti antara pemerintah dan oposisi. Semakin korup pemerintahannya maka semakin keras pula oposisi melawannya.
Bukankah pertentangan itu akan selalu ada? Bagaimana jika kita menganggap mempunyai lawan itu baik? Dari sudut pandang logika murni akan timbul ketegangan dialektis antar dua konsep yang bertentangan. Jika kita merenungkan konsep ‘ada’, maka kita juga memperkenalkan konsep ‘tidak ada’. Itulah logika dinamis yang disebut Hegel, sebuah realitas itu ditandai dengan adanya kebalikan.
Dari semua pendapat tadi apakah kita memang harus mempunyai musuh agar menemukan pendapat yang sebaliknya? Tentu tidak, biarkan musuh itu datang secara alami, tak usah dicari. Sebagaimana anti tesis muncul setiap ada tesis, bahkan setelah menemukan sebuah sintesis baru, anti tesis baru juga hadir. Polanya akan berlangsung terus menerus. Inilah yang dinamakan dengan gerak dialektis.
Bila pun kau benar-benar punya musuh, anggaplah sebagai perbandingan diri saja, untuk menjaga stabilitas diri kita. Ejekan dan kritikannya bisa jadi itu benar adanya, ambil sebagai hikmah dan intropeksi diri. Absurd juga kalau tidak memiliki musuh. Terlalu flat ga asik juga.
Jika tidak bisa benar-benar berdamai, maka perlakukanlah musuh dengan sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya. Berkelahi juga butuh nilai (value) dan kemuliaan (virtue), begitu juga hidup bersosial politik yang sangat bising ini.

