Author : Ziyad Ahfi
Sutradara terkenal Michael Crichton memberikan gambaran tentang sepenting apakah sejarah bagi umat manusia, beliau mengatakan, “If you don’t know history, then you don’t know anything. You are a leaf that doesn’t know it is part of a tree.” Jika kamu tidak tahu sejarah, maka kamu tidak tahu apa-apa. Kamu adalah daun yang tidak tahu bahwa kamu adalah bagian dari pohon. Ujar Tere Liye, “daun yang jatuh tidak pernah membenci angin”. Jelas, bagaimana daun yang jatuh mau membenci angin, sebab daun tidak sadar akan eksistensinya. Daun ada hanya dalam dirinya sendiri, sedangkan manusia ada untuk dirinya sendiri.
Sartre, seorang filsuf eksistensialisme mengatakan, “manusia itu harus menciptakan dirinya sendiri, karna kita harus memutuskan sendiri bagaimana cara kita memaknai hidup. Tidak begitu perlu mencari makna dari kehidupan pada umumnya. Pilihan-pilihan kitalah yang akan menjadi penentu akan jadi apa kita sekarang dan nanti.”
Untuk memahami sejarah butuh perenungan yang panjang. Bagi Hegel, sejarah itu mengungkapkan pola dialektis. Di mana baik dan buruk saling bertentangan. Tesis dibalas antitesis, lalu melahirkan sintesis. Sinntesis akan menghadirkan antitesis baru. Pertentangan itulah yang menjadi gerak dialektis. Karena menurut Hegel kebenaran itu tidak bersifat abadi. kebenaran itu sifatnya subyektif. Dimana kakimu pernah berpijak dan berdiri, dari situlah kebenaran akan kau ungkap sendiri. Sesuai dengan apa yang kau lihat, dengar, dan rasakan sendiri. Itulah yg membuatnya subyektif. Karena kita hanya mengalami dan mengetahui setetes dari luasnya lautan.
Karl Marx juga terilhami dari filsafat Hegel mengenai sejarah. Bisa dikatakan Marx adalah seorang materialis dialektis. Menurutnya sejarah itu berubah karena adanya perubahan-perubahan material (ekonomi). Dia percaya dalam sejarah selalu ada permusuhan antara dua kelas masyarakat yang berkuasa. Antara kaum pemodal dengan pekerja, kapitalis dan proletar. Bedanya dengan Hegel terletak pada hubungan interaktifnya. Hegel berpendapat jika manusia mengubah alam maka ia sendiri ikut berubah. Menurut Marx, ketika manusia bekerja dia akan berinteraksi dengan alam dan mengubahnya. Tapi dalam proses itu alam juga berinteraksi dengan manusia dan mengubah kesadarannya.
Benar yang dikatakan filsafat Hegelian. Namun sedikit berbeda dengan filsafat sejarahnya Murtadha Muthahari, seorang filosof muslim dalam bukunya “Menguak Masa Depan Umat Manusia”, yang ingin memberikan kesadaran mengenai pandangan dalam dunia islam tentang hakikat sejarah.

Hakikat Sejarah dalam Islam
Islam tak menunjukkan terjadinya sintesis yang terbentuk oleh pertentangan antara baik dan buruk. Tetapi sebaliknya, yang terjadi adalah pergulatan yang memusnahkan satu sama lain. Dengan kebaikan yang ditakdirkan menjadi pemenang. Dapat kita ketahui perselisihan itu pertama kali terjadi antara Habil dan Qobil. Sebab, manusia Qabil selalu memilih jalan kekerasan untuk menyelesaikan masalah. Tetapi, kita harus yakin bahwa yang menjadi pemenang terakhir adalah tipe manusia Habil, sekali pun harus melalui pengorbanan demi pengorbanan. Begitupun Socrates, ia siap dihukum mati hanya karena teguh mempertahankan kebenaran. Baginya kebenaran berada di atas nyawa. Walaupun raga mati, tapi nilai pada kebenaran kan terus hidup.
Pertama; Hukum sejarah itu menurut Islam bersifat konstan (tetap). Atau biasanya disebut dengan sunnatullah. Di dalam QS 35:43 dikatakan, “Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu.”
Kedua; Apa yang menjadi daya penggerak sejarah. Apakah sejarah itu bergerak maju atau malah kita sedang mengalami kemunduran?
Dalam Islam, yang menjadi daya penggeraknya adalah sifat moralistik idealistik. Islam percaya pada kecendrungan manusia kepada kebaikan. Meski manusia juga memiliki kecendrungan ke arah nafsu kejahatan seperti; mencuri, membunuh, menghina, dan kezoliman lainnya. Tetapi esensi manusia sejatinya adalah menentang perilaku tersebut dan menuju kepada kebaikan.
Murtadha Muthahari berpendapat bahwa sistem wujud didasarkan atas kebenaran dan kebaikan. Keburukan dan kejahatan itu hanya bersifat aksidental, relatif, dan sementara. Sebab itulah dapat kita simpulkan gerak sejarah bersifat progresif karena cenderung terhadap kebaikan. Dalam islam dikenal istilah amar ma’ruf nahi munkar. Menganjurkan kebaikan dan mencegah keburukan.
Ketiga; Walaupun sejarah bersifat progresif, namun ia belum sanggup menentukan bentuk final masa depan sejarah umat manusia. Semuanya ada pada manusia itu sendiri untuk menentukan.
Ada dua tipe evolusi. Pertama adalah evolusi biologis, yaitu proses alamiah yang terjadi pada makhluk hidup tanpa adanya intervensi. Kedua adalah evolusi sosial, yaitu proses di mana manusia menentukannya dengan usaha sendiri, misalnya lewat proses belajar-mengajar. Kaderisasi generasi ke generasi. Sebagaimana yang difirmankan Allah, “Ia tak akan mengubah suatu kaum sebelum kaum itu mengubahnya sendiri.”
Evolusi dan Kemajuan
Jika kita tidak mengenal masa depan, maka kita tidak akan mempunyai rencana tentangnya. Begitu pun dengan masa lalu, jika kita tidak mempelajarinya maka kita tidak akan punya gambaran tentang masa depan. Sebagaimana ungkapan kita sehari-hari, jangan sampai jatuh dua kali di lubang yang sama.
Selama kita tidak memahami tentang evolusi, kita hanya akan mengatakan kita sedang maju. Evolusi bergerak secara vertikal dan maju bergerak secara horizontal. Kehendak bebas manusialah yang akan menentukan perjalanan evolusioner ini.
Contohnya seperti dalam kemajuan alat-alat teknologi. Apakah dengan alat-alat itu menjadikan manusia sejahtera atau tidak. kemajuan besar smarthpone misalnya, apakah dapat disebut kemajuan jika diukur oleh kemakmuran dan kesejahteraan? Ia memang menghasilkan kesenangan disatu sisi, disisi lain ia telah mencabut manusia dari kesejahteraan.
Ia membawa ‘orang baik’ cepat tiba ke arah tujuannya, namun ia juga membawa ‘orang jahat’ sama cepatnya ke arah tujuannya. Dalam hal komunikasi lebih memudahkan kita untuk menjangkau orang tua dan teman yang jaraknya jauh atau untuk melihat informasi terkini. Namun di sisi lain bisa digunakan untuk penipuan, penyadapan, dan mengambil data privasi kita seenaknya.
Sains
Teknologi itu adalah alat yang netral bagi manusia, bahkan sains juga bersifat netral. Karena sains adalah alat yang netral bagi manusia, maka dari itu manusialah yang memilih tujuan-tujuannya dengan menggunakan alat-alat itu.
Sebuah mobil tidak akan mengatakan kepada anda kemana harus pergi dan kemana tidak boleh pergi. Mobil itu tidak mengatakan kepada anda untuk pergi menolong atau juga pergi untuk melakukan kejahatan. Begitu pun dengan semua alat-alat yang dihasilkan sains.
Murtadha Muthahari mengatakan bahwa pencapaian yang besar adalah jika seseorang mampu untuk berenang melawan arus yang jahat, dan itulah kemudian penyempurnaan (progresif) itu menjadi mungkin terwujud.
Kutipan yang bisa menjadi nasehat kita bersama adalah “jika kita tidak mengenali masa depan dan tidak mempunyai rencana tentangnya, dan jika kita tidak memberikan perhatian pada tanggung jawab kita untuk membuat sejarah, maka kita berhak mendapat celaan dari generasi mendatang.”
Anggaplah ini dialog antara Hegel, Marx dan Murtadho sambil nongkrong manja di Kedai Kopi Patah Hati sepulang tarawih 20 rakaat. Salam ngopi, kawan ☕

