kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

[Book Review] Novel Dunia Sophie Karya Jostein Gaarder

Author : Herman Attaqi

Kawan yang cihuy,

Kali ini aku akan me-review buku filsafat yang ditulis sebagai sebuah novel, yang berjudul Dunia Sophie (terjemahan) karangan Jostein Gaarder.

Siapakah Jostein Gaarder?

Gambar diambil dari wikipedia.org

Lahir pada 8 Agustus 1952, Gaarder dikenal sebagai intelektual sekaligus penulis novel, cerita pendek dan cerita anak-anak dari Norwegia. Dikutip dari laman Wikipedia, pada tahun 1991, Gaarder menulis buku Dunia Sophie dan kelak buku inilah yang mengantarkannya meraih kesuksesan internasional sebagai penulis best seller, terbukti Dunia Sophie telah diterjemahkan ke dalam 60 bahasa dan terjual lebih dari 40 juta eksemplar.

Mengapa buku ini menarik untuk dibaca?

Kawan, sebagai mana yang kita tahu bahwa mempelajari filsafat itu seolah-olah satu pekerjaan yang rumit dan ribet. Banyak orang beranggapan bahwa filsafat itu adalah ilmu yang mengawang-awang, ga konkrit, dan gaje atau pun ga jelas.

Aku ingat dulu waktu kuliah, ada dosen filsafat pak Ivan Gunawan yang justru bikin filsafat jadi pelajaran yang aneh bin ajaib bagi sebagian besar kawan-kawan di kelas. (Aku sie ga yaa). Tampilannya yang eksentrik dengan rambut kriting a la Andi F. Noya, tapi nyaris tanpa ekspresi. Begitu masuk kelas tanpa tedeng aling-aling nanya ke mahasiswa secara acak pelajaran pekan sebelumnya. Kalo banyak dari mahasiswa itu ga bisa jawab dengan benar, doi langsung cabut dari kelas. No comment. Dingin banget persis bapak-bapak lagi nahan stress dikejar debt collector tagihan cicilan motor. Dan, pelajaran pun selesai meninggalkan kita yang membatin, “ihh, aneh banget nie orang. Pengen nyubit deh pake gunting kuku.”

Begitulah filsafat, kawan. Aneh, bahkan cendrung konyol. Apalagi bila kita benturkan ke dalam kenyataan dunia, di mana orang-orang lebih tertarik untuk mengejar karir, popularitas dan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, lalu dihamburkan dalam perayaan hidup yang disebut sebagai refreshing, atau halan-halan (halaaahh, ribet amat tinggal ngomong jalan-jalan). Apalah daya filsafat di situ? Ia hanya seperti ilmu menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri. Artinya, kurang kerjaan amat nie orang pake nepuk air di dulang.

Diperparah lagi dengan perkembangan ilmu empirik dan teknologi modern yang mampu menciptakan alat-alat yang canggih untuk memudahkan kehidupan manusia. Seperti, smart phone misalnya. Orang bisa dengan mudah melakukan banyak hal dengannya. Mulai dari untuk kepentingan pekerjaan atau nyari duit sampe untuk hiburan pengusir sepi, pemecah hening dan pengusir galau, tentu smart phone lebih memberikan solusi secara konkrit. Tampak sekali kalo filsafat kemudian hanya terlihat seperti orang tua pembual dengan kata-kata kosong atau seperti Vicky Prasetyo yang kalo ngemeng tuh aduh amit-amit pengen berak sekebon karena kata dan istilah yang tinggi-tinggi, bahkan hanya terlihat seperti orang yang lagi mabuk lem.

Apakah filsafat sesuram itu, kawan? Apakah setelah dengan semua ini, tak ada lagi ruang di hatimu untukku bisa menetap di sana barang sebentar saja? Molaiiiikkk 😝

Itulah makanya Jostein Gaarder menulis sebuah buku filsafat dengan genre sastra, tepatnya sebuah novel. Agar pembaca yang ingin belajar filsafat bisa lebih asik dan mudah. Aku pun telah membuktikan dengan menuntaskan berkali-kali membaca novel ini.

Aku ingat pertama kali membaca Dunia Sophie ketika mahasiswa doeloe. Benar saja, kawan. Pertama kali membaca bukunya ternyata……

Emang susah dipahami. Hehehe~

Etapi, aku bohong 😆😂

Sebenarnya, dengan novel Dunia Sophie ini belajar filsafat akan lebih mudah dan menyenangkan. Apalagi dengan karakter utama Sophie Amundsend, seorang gadis cilik yang begitu tinggi rasa ingin tahunya tentang sesuatu.

Semua berawal ketika Sophie, seorang gadis berusia empat belas tahun, suatu hari ketika pulang sekolah mendapatkan surat misterius yang hanya berisi satu pertanyaan, “Siapa kamu?”

Ga cukup sampai di situ, pada hari itu juga dia mendapatkan sebuah surat lagi dengan pertanyaan, “Dari mana asalnya dunia?”

Dari surat-surat itulah kemudian terjadi diskusi filsafat yang sangat menarik antara Sophie dan si pengirim surat, yakni Alberto Knox. Awalnya aku pikir novel ini sampai selesai akan berisi surat menyurat antara Sophie dan Alberto saja, tapi ternyata pada bab-bab berikutnya mereka bertemu ngobrol membahas topik-topik filsafat dengan cara yang santai dan menyenangkan. Dan, alur ceritanya jadi lebih menarik, karena ada dialog yang intens antara Sophie dan Alberto. Aku pikir tadinya ini akan monoton dengan cerita naratif deskriptif gitu. Eh, ternyata ga. Hehe..

Banyak kejutan dimunculkan oleh Gaarder dalam kisah ini, tentang Hilde, atau Alberto yang mendadak muncul di Athena, bahkan Plato yang tiba-tiba juga muncul, serta yang lucunya adalah karakter dalam film Disney juga ikut ambil bagian dalam cerita novel ini. Dan, ini menjadi bagian-bagian yang menarik yang membuatku ga bisa berhenti untuk terus membaca.

Sebagai sebuah novel filsafat, tentu isi bukunya ga jauh dari tema filsafat. Kita akan belajar tentang sejarah perkembangan pemikiran manusia mulai dari Socrates sampai ke Sigmund Freud. Tentu ada juga yang lebih terdengar akrab, seperti cerita Galileo, Newton atau pun tokoh era renaissance yang sudah pernah kita pelajari waktu SMP atau SMA.

Ada banyak hal menarik yang baru aku temukan di buku ini, diantaranya tentang cerita Topi Kelinci (Penasaran? Baca aja novelnya yaa), permainan Ya-Tidak temuan Aristoteles, Plato si penemu Petak Umpet, serta permainan Lego yang ternyata ditemukan oleh Democritus. Asyiknya, semua hal itu ada hubungannya dengan proses perkembangan pemikiran manusia untuk menjawab pertanyaan yang ditujukan kepada Sophie (dan sebenarnya kita semua), yakni “Siapa kamu?” “Dari mana asal dunia?”

Udah? Udah?

Ternyata belum, Grace. Ada satu lagi yang membuat saya “WAOW” dengan novel ini, yakni ketika scene cerita berpindah ke Hilde dan ayahnya Mayor Albert Knag. Sebuah plot twist yang aduhai. Ada kejutan yang tak disangka sebelumnya, yang ternyata Sophie dan Alberto hanyalah……………….

Silahkan baca sendiri bukunya 😛😛

Kawan yang cerdas,

Tuhan memang menciptakan keragaman dalam hidup ini agar kita bisa saling melengkapi dan menyempurnakan. Begitu juga dengan selera dan minat seseorang. Gimana pun lah Jostein Gaarder membuat sebuah metode penulisan agar konsep filsafat bisa begitu mudah dipahami dan enak dipelajari, tetap aja akan menjadi tidak menarik jika kawan emang dari awal udah menutup diri untuk ga tertarik dengan filsafat. Benci, sebagai mana juga cinta yang buta akan membuat kita goblok berkepanjangan. Ga mau membuka diri. Kawan tau? Apa yang paling susah dibuka? Pikiran yang tertutup! (Ebuset, aku jadi mara2)

At least, aku pingin mengutip kalimat dari Prof. Bambang Sugiharto, guru besar filsafat, yang ditulis sebagai pengantar dalam novel Dunia Sophie, yakni pada dasarnya filsafat adalah gerak nalar yang wajar, sealamiah bernapas, aliran pikiran yang pada titik tertentu tak bisa dibungkam dan dihentikan. Filsafat adalah sistematisasi pengalaman bernalar dan kecendrungan ingin tahu, yang telah kita miliki sejak masa kanak-kanak.

Kawan yang baik,

Filsafat itu adalah sistem berpikir, cara kita melihat diri dan dunia, metode kita memecah kerumitan hidup menuju jalan yang paling memudahkan. Agar apa kawan? Agar kita bisa bahagia. Karena untuk itulah semua pertanyaan falsafati. Manusia hidup, belajar dan berjuang untuk memperoleh bahagia. Semakin ia mengenal dirinya, semakin ia akan melihat jalan terang menuju bahagia itu. Dimanakah letaknya? Di dalam dirimu. Salam.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai