Author : Taqiya Herman
“BRRRAAKKK”
Terdengar suara pintu dihempaskan begitu saja. Seorang pria berjalan sempoyongan masuk dan melempar dasinya sembarangan. Sebuah kamar bergaya minimalis yang didominasi warna abu-abu dan gelap ini terlihat begitu elegan berkat pencahayaan tidak langsung yang diletakkan di langit-langit dan di bawah ranjang.

Tapi, pria itu terlihat berbeda auranya dibandingkan kamar modern desain khas korea ini. Dia terlihat sedikit mabuk. Malam itu, Suho, baru saja pulang dari Birthday Projects Party yang diadakan Aeri untuknya. Ia lebih terlihat seperti satu-satunya lukisan dinding abstrak di kamar itu. Aneh dan susah ditebak.

Lalu, langsung dipepet SeKaiNyol yang seperti biasa; merengek minta traktir minum di pusat kota Seoul langganan mereka.
“Aish, yang benar saja,” desis Suho ketika melihat kamarnya yang berubah seperti toko mainan. Tumpukan kado dan surat kerlap kerlip dari fans yang bertebaran membuat matanya agak sakit.
Dengan hati-hati, Suho merapikan dan menumpuknya di ujung kamar. Tepat di samping teropong bintang yang menjadi hiburannya dikala ga ada kerjaan dan cuma mengurung diri di kamar itu sambil membaca berita infotainment dan, tentu saja, surat-surat dari para penggemar.
Ditengah kesibukannya, tak sengaja ujung matanya melihat sebuah kotak berukuran sedang berbungkus kertas berwarna gold. Uhh, warna kesukaannya. Disertai juga dengan sebuah prangko. “Ah, itu pasti dari Indonesia,” Suho bergumam.
Tangannya pelan-pelan meraih kotak tersebut. Lalu, terlihatlah sebuah buku dan sepucuk surat bersampul merah maroon. Suho menelan ludah. Ini kali pertama ia mendapat hadiah seperti itu dari penggemar. Menarik.
“Dear, Suho Oppa..”
“Neo gwaenchanh ni?”
Sebulan yang lalu saat kau akan bertolak ke Amerika, akhirnya aku dapat menemuimu di Korea. Aku sampai di Bandara Incheon tepat ketika semua orang sedang berlarian mengejarmu. Jadilah aku hanya dapat melihat tampak belakang kau saja.
Tapi tak apa. Aku lalu berlari dan bergabung dengan kerumunan Aeri yang ditahan oleh bodyguard karena memaksa mendekatimu. Aku pun mulai putus asa, di tengah kerumunan akhirnya aku menulis surat ini dan memutuskan hanya akan menitipkannya kepada bodyguard itu.
Awalnya dia menolak. Tapi, karena diserbu kerumunan yang semakin lama semakin ramai, dia tak ada pilihan lain. Dia mengambilnya dan memberi isyarat akan memberikannya padamu. Lalu, dia pergi meninggalkan aku yang tersenyum bahagia.
Jadi, bagaimana Oppa? Mau kah kau bertemu denganku? Hmmm.. Mungkin jawaban mu tidak sempat karena kesibukan mu yang super padat itu. Aku mengerti.
Tak perlu repot-repot. Aku ada sebuah ide. Hanya pejamkan saja matamu, maka aku akan segera menemui mu.
Oya, satu lagi.. Selamat untuk musim semi yang ke-28 mu.
Saengil Chukhahaeyo Suho Oppa.
Suho menutup kertas. Hatinya terasa kelu. Pikirannya lalu terbang kemana-mana. Mencoba mengingat sepenggal cerita di Incheon Gukje Gonghan atau International Incheon Airport sebulan lalu. Sebuah episode yang terburu-buru dan penuh sesak.
Kemudian ia mulai memejamkan matanya. Baiklah, dia akan berusaha meluluskan sebuah permintaan dan berjumpa dengan Aerina yang seorang itu.
Tapi kali ini, di dalam mimpi.

