Author : Ziyad Ahfi
Zaman berlalu musim berganti. Selama dunia masih ada, pertentangan kan selalu beriring. Bahkan zaman ini banyak yang menyebut sebagai zaman fitnah. Penuh tipu daya. Tak cukup mempercayai sesuatu hanya dengan indera saja. Indera mudah tertipu.
Melihat bintang nun jauh di sana terlihat kecil, tetapi bila ditimbang-timbang dengan akal maka kita tau itu sangat besar. Melihat pensil tegak lurus bila dicelup ke dalam air terlihat bengkok. Segalanya tentu perlu dikaji lebih mendalam. Agar tak mudah termakan hoaks. Akal sebagai modal utama yang dianugerahkan Tuhan berfungsi agar manusia mau mencari dan memahami terlebih dahulu sebelum mengklaim.
Biasanya pencarian akal pun menimbulkan berbagai spekulasi. Orang menyebutnya sebagai sudut pandang yang berbeda. Tak masalah selagi manusia masih mau mengakui bahwa akalnya terbatas. Tapi, yang dimaksud akal terbatas itu bukan dalam perspektif pesimis, justru agar manusia sadar bahwa masih begitu lapang ruang untuk mengeksplorasi akalnya itu karena ketidaktahuan manusia itu sendiri terhadap garis batas akalnya. Sebagaimana Socrates dengan lapang dada berani mengakui bahwa “apa-apa yang aku ketahui adalah bahwa aku tidak tahu apa-apa.”

Kebebasan Mencari
Kali ini kita akan mencoba melihat pembahasan ini dalam perspektif studi pemikiran keislamanan. Apakah misi utama nabi Muhammad menyebarkan dan menebarkan agama Islam? Sejatinya misi mulia itu bukan untuk menaklukkan dunia melainkan untuk menyempurnakan akhlak manusia dan menjadi rahmat bagi alam semesta.
Kekaguman sebagian besar orang kepada nabi Muhammad selalu disebabkan akhlak mulia yang beliau teladankan. Tidak mencaci ataupun berkata kasar. Apalagi memaksa. Dalam Islam tidak ada paksaan dalam beragama (la ikraha fi al-din).
Tafsir Ibn Katsir menjelaskan, “tidak perlu memaksa mereka. Barang siapa dibukakan pintu hatinya oleh Allah, maka mereka akan memeluk islam. Barang siapa dikunci hati, pendengaran, dan penglihatannya, maka mereka tidak akan mendapat manfaat meskipun dipaksa.”
Contoh orang yang dipaksa itu sama seperti lagi disuruh ibu membeli sayur ke pasar. Karena sedang asyik bermain PUBG maka dengan berat hati meng-iyakan dulu. Setelah itu baru pergi membeli. Dalam hati gondok walaupun tetap melaksanakan. Bukankah tidak menimbulkan manfaat? Yang didapat hanya gondoknya saja.
Contoh orang yang tidak dipaksa itu selalu berfikir hikmah. Misalnya setidak-tidaknya membeli sayur disuruh ibu karena dia tau sayur itu nantinya buat makan siang dia juga. Atau disuruh ibu membeli sayur karena memang kecintaan dan hormatnya kepada ibu yang sudah membesarkanya tanpa pernah menghitung sudah berapa biaya yang dikeluarkan.
Dakwah, sebagai mana yang diajarkan nabi, itu mengajak bukan memaksa. Merangkul bukan memukul. Kalau ada paksaan timbullah perkosaan terhadap pikiran dan ujung-ujungnya taklid buta. Asal orang sudi membebaskan diri hanya turut-turutan dan pengaruh dari hawa nafsu semata, niscaya dia akan bertemu dengan kebenaran.
Di zaman ini taklid buta banyak terjadi. Terlalu mengkultuskan seseorang. Akhirnya timbul sifat malas melihat kebenaran pada sisi lain. Hanya mengklaim bahwa kelompoknyalah yang paling benar dan orang yang dikultuskannya adalah sebenar-benarnya harus diikuti.
Hindarilah cara-cara memaksa. Gunakanlah metode mengajak dengan tauladan yang baik pula. Sekeras-kerasnya hati bisa luluh bila dilawan dengan kelembutan. Seperti yang kita tau jika panas mestinya dilawan dengan air.
Hidayah itu hak prerogatif Allah. Mutlak dalam genggaman Allah. Dan datang pada siapapun. Nabi Nuh tak mampu memahamkan anaknya. Rasulullah tak mampu merayu pamannya Abu Tholib. Nabi Ibrahim tak mampu meyakinkan ayahnya. Padahal seruan tauhid terus digaungkan.
Disitulah dapat kita ketahui bahwa mengajak itu harus, tetapi urusan dia mau meyakini atau tidak serahkan padanya. Sebab Allah sudah memberi modal utama yaitu akal. Dan selebihnya percayalah pada kekuatan Allah.
Ketika orang mendapat hidayah itu bukan karena kita. Tapi memang karena Allah mau memberi dia hidayah. Sebagaimana yang kita tau teori sebab akibat. Setiap awal pasti ada akhir. Ada sebab tentu ada akibat. Tapi Al Ghazali justru punya analisisnya sendiri. Contohnya adalah ketika nabi Ibrahim dibakar dalam panasnya api dan beliau mampu selamat berkat kuasa Allah. Bila dicerna dengan akal tentu kita akan berpikir kalau orang dibakar dengan api yang panas (sebab), maka pastilah ia terbakar (akibat). Tapi tidak jika dengan kuasa Allah.

Tidak Sebenar-benarnya Bebas
Manusia tidak sebenar-benarnya bebas. Walaupun ia telah diberi kebebasan untuk memilih jalannya sendiri, tetapi kebebasan memilih itu pasti disertai dengan tanggung jawab. Dan kebanyakan manusia malas untuk memenuhi tanggung jawab itu.
Kadang hati bergetar dalam keraguan karena fikiran bebas menerawang kemanapun, masuk kedalam area yang tidak-tidak dan bukan-bukan. Yang mustahil dapat dicapai. Tetapi, salahkah jika kita berpikir bebas seperti itu? Jawabannya tidak salah. Sebab, pikiran pun nanti akan terhenti dengan sendirinya apabila telah ragu. Dan untuk mencari suatu kebenaran haruslah kita meragukan sesuatu terlebih dahulu.
Obyektif
Berhati-hatilah dalam memilih. Pahami dan timbang-timbang dengan sungguh-sungguh. Jika melihat hanya dengan indera semata maka yang berjubah panjang selalu kita identikkan dengan orang benar. Yang berjenggot pasti soleh. Berpeci pasti benar. Tidak juga.
Dalam kitab Nashaihul Ibad, Imam Nawawi tentang enam yang dirahasiakan oleh Allah, salah satunya adalah Allah merahasiakan walinya. Agar manusia tidak menilai seseorang dari bentuk luarnya saja. Siapa tau orang yang kita anggap sepele ternyata dia adalah wali Allah. berhati-hatilah menggunakan akal dan hati. Obyektiflah dalam menilai.
Selamat berbuka puasa. Maaf lahir batin.

