kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Cerita Kongkow di Masjid Abu Darda

Author : Heri Prasetiawan

Aku, Pras. Mahasiswa yang memilih merantau jauh dari kampung halaman dan tentu saja dari kedua orang tua tercinta. Memilih untuk hidup susah di negeri orang, dari pada hidup manjah dalam belaian lembut kasih sayang ibu bapak di rumah. Kau tau kawan, apa yang membedakan anak-anak dengan orang dewasa? Ya. Pilihan. Seseorang sudah dikatakan dewasa ketika dia sudah berani mengambil pilihan-pilihan untuk hidupnya, dan menerima apa pun resiko akibat dari pilihannya itu.

Makanya itu, jika kau belum berani memilih, hampir bisa dipastikan kau belum lagi dewasa, masih kanak-kanak yang bertopeng kumis dan jenggot layaknya orang dewasa meski umurmu sudah hampir sampai ke tanggal kadaluarsa. Jadi, hikmah dari tulisan ini adalah “segeralah habiskan makananmu sebelum tanggal kadaluarsa tiba”. Oh, bijak sekali akutuw. Ga nyangka.

Merantau untuk menuntut ilmu itu adalah pilihan, dibaliknya pasti ada suka maupun duka yang harus dijalani dan harus diterima dengan lapang dada, dengan kepala tetap tegak sempurna.

Nah, salah satu problem mahasiswa perantauan selain tanggal tua, juga bulan puasa karena ga tau mau berbuka pake apa karena ga ada apa-apa. Di tanggal tua kita dituntut untuk lebih cerdas memanfaatkan segala kekurangan, mulai dari meng-origami pasta gigi, membuat busa dari botol shampo kosong dan menghirup aroma sate Padang agar nasimu lebih berasa dan masih banyak lagi deh. Namun ada satu hal yang ga mau aku ceritain di sini, yakni aku suka makan daging ayam yang terselip di gigi. Tapi, ini aku rahasiakan sajalah maluu soalnya hehe~

Di bulan puasa kamu dituntut untuk lebih tegar dan ga cengeng, seperti mengucapkan selamat berbuka puasa dalam hati untuk diri sendiri dan bangun sahur sendiri enggak kaya waktu di rumah ada yang bangunin sahur. Rumah sakit atau homesick aku jadinya. Tuh, kaan.

Tapi, jangan sedih, karena di Pekanbaru apalagi bagi mahasiswa yang tinggal di seputaran Panam memiliki tempat berbuka yang paling rekomen banget pokoknya. Pas dengan suasana hati dan saku mahasiswa yang kebanyakan b̶̶a̶̶c̶̶o̶̶t̶. Ada yang tau dimana? Ya. Di Masjid Abu Darda yang beralamat di jalan Merak Sakti, Panam, Pekanbaru.

Abu Darda adalah salah satu masjid termegah yang berada di Kota Pekanbaru. Diresmikan sejak 3 juni 2016, masjid ini selalu ramai dengan kegiatan-kegiatan keislaman hingga sekarang. Kalo mau nambah ilmu dan pemahaman agama, terutama yang berlandaskan kepada kitabullah dan sunnah rasulullah yang shohih silahkan datang kemari. Karena di mesjid Abu Darda kalian akan bisa mengikuti kajian-kajian sunnah dan diisi oleh para ustadz lulusan Madinah dan Mekkah. Betapa jalan surga itu terlihat jelas kecuali bagi orang-orang yang pemalas. #nasehatdiri #selfreminder #kangenkamu

Meski arsitektur masjid Abu Darda tidak seperti masjid di Indonesia pada umumnya dengan kubah menjulang tinggi ditambah hiasan-hiasan lain di dalam dan di luar bangunan, tapi tetap tak menyurutkan kesan sederhana nan anggun. Sederhana dan anggun. Hmm… Begitulah seharusnya perempuan, Dik.

Dan, info yang paling penting adalah kalo selama bulan puasa, mesjid Abu Darda menyediakan takjil dan buka bersama secara gratis. Wahay, anak kos, bergegaslah ke mesjid. Untuk apa? Mengharapkan ampunan Tuhan-mu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Kalo di mesjid itu kau temui takjil dan makanan enak dan gratis, maka itu adalah rezkimu hari itu dari Tuhan-mu. Alhamdulillah.

Kawan, sekian dulu tulisan kongkow dariku. Banyak-banyak bersyukur ya. Karena kalo kita bersyukur dengan apa pun pemberian Allah hari ini, Allah janji akan tambahkan lagi pemberiannya buat kita. Tenang aja. Tapi, kadang kita aja yang ga sabaran. Ga yakin banget ama pertolongan dan pemberian Allah. Astaghfirullah..

Padahal kadang Allah ga ngasih apa yang kita minta dalam wujud yang kita ingini. Misalnya nie kita mau duit, tapi tetep aja duitnya ga ada. Ternyata Allah memberi kita dalam bentuk lain, misalnya kesehatan. Dengan fisik yang sehat kita bisa bekerja mengusahakan apa yang kita inginkan.

Aku dulu tuw suka pengen buka puasa di kosan seperti di rumah, lengkap dengan segala macam kolak, es cendol, pecel, pepaya, kerupuk jengkol, es air mata janda, telur mata sapi, sambel ulekan malin kundang, ya Allah ini apaa?? Alhamdulillah, akhirnya itu semua bisa kita temukan di pasar-pasar kaget. Etapi kan duit ga ada. Makanya, datang ke mesjid Abu Darda. Ada takjil dan makanan berbuka lainnya disediakan buat seluruh jamaah.

Yang jelas, ada yang jauh lebih berharga dari makanan buat jasad kita, yakni makanan buat hati. Dimana kau cari makanan buat hatimu, kawan? Ya. Di mesjid. Karena kau tak kan temukan di tempat lain ketenangan yang paling tenang, selain di mesjid. Karena mesjid adalah Rumah Allah, Baitullah.

Selamat berbuka puasa, Kawan.

Aku, Pras.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai