kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Mencintai adalah Melayani

Author : Octa Srirahayu

Ada yang masih ingat ga pelajaran SD tentang kasta dalam masyarakat Hindu, seperti yang ada di Bali contohnya. Kalau kamu amnesia sejarah, anggap aja tulisan ini sebagai pengingat segala kenangan masa lalumu yang.. oh maaf, tulisan ini sekedar menyegarkan ingatan kita tentang pengetahuan budaya dan juga hal-hal yang terkait dengan topik obrolan kita kali ini, yakni kasta.

Kasta, yang di Indonesia sebagian besar lebih dikenali sebagai ‘budaya’ masyarakat di Pulau ‘Dewata’ Bali yang juga merupakan penganut agama Hindu terbesar, dibagi ke dalam empat bagian, diantaranya:

Kasta Brahmana, orang yang mengabdikan dirinya dalam urusan bidang spiritual seperti sulinggih, pandita dan rohaniawan. Selain itu disandang oleh para pribumi.

Kasta Ksatria, para kepala dan anggota lembaga pemerintahan. Seseorang yang menyandang gelar ini tidak memiliki harta pribadi semua harta milik negara.

Kasta Waisya, orang yang telah memiliki pekerjaan dan harta benda sendiri petani, nelayan, pedagang, dan lain-lain.

Kasta Sudra, pelayan bagi ketiga kasta di atasnya.

Narsis bgt gw 😁

Namun, Saraswati Dewi, dosen Filsafat Universitas Indonesia, menilai bahwa sistem Kasta itu sengaja dikreasikan ulang oleh penjajah Belanda sebagai taktik politik devide et impera. Gunanya tentu saja untuk membelah masyarakat agar tak tercipta persatuan diantara mereka, dan lebih lanjutnya untuk memecah kerukunan yang sudah terjalin sejak dulu di Bali.

“Sistem kasta itu sengaja dibuat untuk menjauhkan raja dengan rakyatnya,” kata Saraswati. Lanjutnya lagi bahwa tradisi Hindu Bali sebenarnya tidak mengenal kasta. Yang ada adalah warna. Warna merupakan penggolongan individu berdasarkan kemahirannya atau pilihan bebas.

Sementara itu, kasta berasal dari bahasa Latin ‘Castus’ yang berarti ‘Murni’. Hal ini lah yang kemudian menjadi patokan pada manusia untuk membangun kasta atau status sosialnya yang ditentukan berdasarkan darah atau secara herediter.

Dear, kamu..

Orang-orang bijak sering berkata bahwa hidup adalah pilihan. Tapi, ada banyak hal juga lho dalam hidup ini yang manusia ga bisa memilih, seperti terlahir dari bapak dan ibumu, menjadi pria atau wanita meskipun ada juga yang ah sudahlah males bahas2 tentang itu.. dan lain sebagainya.

Aku kepikiran tentang manusia yang lahir dari kasta Sudra, mungkin pada titik tertentu mereka juga pernah kecewa mengapa mesti lahir dari kasta terendah? Banyak orang harus menjalani hidup yang bukan pilihannya. Seperti hidup bersama suami yang tidak mencintai kita, dan apalagi dikemudian hari kita pun juga tak mencintainya lagi. Benar-benar sebuah hidup yang tidak layak untuk dijalani. Huh!

Tapi, benarkah kita mesti terjebak pada situasi seperti itu? Lalu, diam dan tak mampu berbuat apa-apa? Tentu tidak MyLove. Tentu kita harusnya mencari makna dari hidup kita yang cuma sebentar ini, ya kan?

Meski pendapatku sama dengan Saraswati Dewi terkait kasta, tapi ada satu hal penting yang kita harus ambil sebagai pelajaran justru datang dari kasta terendah, yakni kasta Sudra. Apa itu? Melayani.

Manusia, sebagai mana kasta Sudra dan seharusnya semua manusia, memiliki kewajiban untuk melayani pada kemanusiaan itu sendiri. Apa pun pekerjaan, status sosial, kekayaan, keturunan dan juga profesi, semuanya memiliki tugas utama untuk melayani.

Melayani adalah memberikan keikhlasan di sepenuh hati kita untuk membantu orang lain. Jika kamu seorang dokter, perawat, dan juru medik lainnya yang bertugas di rumah sakit, kamu punya ladang amal yang sangat besar untuk memberikan pelayanan terbaikmu kepada siapa saja yang sedang menderita sakit. Tentu, jika dikaitkan dengan pertimbangan kemanusiaan, kamu akan melayani dengan cara yang sama baiknya meski pun seseorang itu berasal dari ‘kasta Sudra’ sekali pun.

Jadi, ‘Melayani’ sebagai sebuah kata kunci yang seharusnya, menurut Ay nie, bisa menyatukan manusia dari segala macam status, ̶b̶̶a̶̶i̶̶k̶̶ ̶̶a̶̶s̶̶l̶̶i̶̶ ̶̶m̶̶a̶̶u̶̶p̶̶u̶̶n̶̶ ̶̶p̶̶a̶̶l̶̶s̶̶u̶̶.̶

Multatuli dalam novel Max Havelaar mengatakan, “Tugas manusia adalah untuk menjadi manusia.” Melayani adalah jalan paling sederhana untuk kembali menjadi manusia. Karena di dalam agama juga diajarkan pada kita bahwa “sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.”

Sedih memang sih, kita hidup di dunia yang masih mengaitkan hal-hal keseharian kita yang sejatinya belum terlepas dari belenggu kasta seperti ini. Apalagi bila itu menyangkut pelayanan. Sungguh ironis, miris bagai tersayat sembilu jika kamu teridentifikasi sebagai pemegang kartu sosial, kesehatan dan pendidikan kasta terendah. Di jidadmu seolah-olah tercap dengan jelas identitas diri yang menyebabkan terkadang mereka kurang terdidik untuk berlaku santun, terutama dalam berbahasa.

Fiuhh, kenyataan kadang ga semanis yang kita impikan. Tapi, aku ga mellow kok. Ga kok. Gaaa… Swear.. 😢😭😭

At least, ini semua sebenernya terinspirasi dari pengalaman sang penulis boongan ini (siapa sie?) beberapa hari belakangan yang merasa galau karena perlakuan yang tidak mengenakkan u̶n̶t̶u̶k̶ ̶d̶i̶m̶a̶k̶a̶n̶ ̶k̶a̶r̶e̶n̶a̶ ̶a̶k̶u̶ ̶l̶a̶g̶i̶ ̶p̶u̶a̶s̶a̶.

Biarlah negaramu saat ini memiliki keterbatasan rasa. Tapi kamu jangan. Apa lagi yang lebih berharga dimiliki selain akhlak mulia? Jangan kau jadikan ilmu yang kau dapatkan menjadi kesombongan yang menyakitkan.

Profesimu, sementerang apa pun itu, duhay tuan puan nan bijak bestari haruslah menjadikanmu lebih mulia. Karena kemuliaan yang haqiqi adalah ketika setiap kita mampu memuliakan mereka yang biasa terpinggirkan secara ekonomi dan sosial. Itu lah tugasku. Itu juga tugasmu. Tugas kemanusiaan kita.

Jadilah hebat dengan melayani, niscaya kau akan mulia. Salam sepenuh cintah.

Yaela narsis lagi 😳
Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai