Author : Puan Seruni
Alkisah di pinggir jalan, tumbuhlah pohon bernama kedengkian. Akarnya berserabut iri. Dahannya bercabang tidak senang, membentuk ranting-ranting yang menghalangi, menyudutkan bahkan menjatuhkan orang-orang yang ingin berjalan dengan nyaman. Daun-daunnya rindang dengan hasutan. Buah permusuhannya ranum dan lebat. Memikat siapa saja yang berminat mendekat.
Orang-orang yang gelisah, memilih jalan yang tak lazim agar segera sampai di tujuan. Mereka berjalan memanfaatkan dahan dan ranting pohon sebagai pijakan. Rimbunnya daun pohon itu mereka jadikan naungan untuk berteduh. Buahnya dipetik dan dimakan sebagai bekal perjalanan.
Sedangkan orang-orang yang tenang dan penuh kesabaran menempuh jalan dengan semestinya. Mereka terus berjalan dengan penuh keyakinan bahwa Tuhan akan menyertai langkah mereka, cepat atau lambat sampai di tujuan tak jadi masalah. Meski di sepanjang perjalanan mereka harus bekerja keras mematahkan dahan dan menebas ranting-ranting yang menyulitkan. Menepis dedaunan yang mengganggu dan tetap membiarkan buah di pohon itu, tanpa menyentuhnya.
Tak seberapa lama terdengarlah kabar bahwa para penempuh jalan yang gelisah itu, telah sampai di tujuan. Tapi sayang, mereka kemudian jatuh sakit. Kaki mereka lumpuh, raut wajah mereka muram. Tangan mereka saling bersikutan dan kulit mereka melepuh. Ternyata daun-daun pohon itu membakar perlahan apa-apa yang dinaunginya. Mereka tak mampu lagi bersuara dan yang lebih mengenaskan, hati mereka membusuk. Ternyata buah pohon itu sangat beracun.
Sementara para penempuh jalan yang tenang itu, akhirnya sampai dengan peluh yang bercucuran. Mereka kelelahan, tapi tampak begitu bahagia. Hal itu terpancar dari wajah dan ucapan rasa syukur dari mulut mereka. Saling berjabat tangan dan berangkulan, mensyukuri keselamatan yang masih diberikan. Keyakinan mereka pada Yang Maha Kuasa telah melindungi hati dan diri mereka dari bahaya pohon kedengkian.

