Author : Herman Attaqi
Saya sedang tak punya kata-kata untuk mengungkapkan perasaan subyektif ini padamu. Kadang, saya berpikir apakah kita sedang berbohong saat mengungkapkan kata-kata, “i love you”. Tapi, bisa jadi itu kebohongan yang perlu. Karena kata-kata, baru akan bermakna jika ia dilemparkan ke dalam perbuatan. Lalu, perbuatan macam apakah yang sudah saya perbuat kepadamu?
Dunia yang hanya berisi kata-kata tanpa perbuatan lebih banyak bohongnya. Sedangkan, perbuatan yang dibiarkan sendiri tanpa kata-kata hanya berisi kekerasan. Telah lama juga kata dan perbuatan bersatu, tetap saja manusia tak mengerti makna cinta, tetap saja mereka saling mengkhianati, bahkan saling menyakiti.
Saya barangkali harus memberontak melawan kata-kata. Keluar dari kungkungan rezim penafsiran “i love you”. Untuk membuktikan jikalau cinta ini lebih dari itu, atau tak hanya sekedar itu, atau bahkan bukan itu.
“Mungkin kita perlu belajar lagi dari orang tua dahulu. Bagaimana memaknai cinta tanpa banyak kata, ga ribet, ga njlimet,” katamu. “Dan,” lanjutmu kemudian, “mereka justru bisa saling mencintai dan memelihara cinta itu sampai maut memisahkan.”
Apa iya? Kan kita masih kanak-kanak waktu itu? Apa mungkin saja mereka cuma memperlihatkan wajah bahagianya pada kita? Sambil menyembunyikan wajah aslinya–nestapa? Hingga yang kau ingat tentang orang tuamu hanya wajah-wajah bahagianya saja. Bukankah ketika mereka sedang berbohong itu juga sejatinya tentang cinta? Tapi, itu juga kebohongan yang perlu bukan?
Sama saja. Kita dan orang tua dulu sama-sama manusia. Yang membedakan kita dengan orang-orang di masa lalu hanya : teknologi. Apa yang dilihat oleh manusia sebagai kemajuan peradaban hanya soal kecanggihan teknologi. Soal sejauh mana teknologi bisa menggantikan peran manusia. Menjadikan robot seperti manusia, agar manusia hidup dalam perbuatan bahkan kata-kata yang semakin sedikit. Sementara hati dan rasa itu konstan, tak berubah besaran ruangnya.
Untuk itu, kita perlu berterima kasih kepada John McCarthy, Bapak Kecerdasaan Buatan atau Artificial Intelligent, yang memulai sebuah eksperimen dan inovasi tentang tema kemajuan manusia modern. Yang pada intinya bagaimana menciptakan suatu pondasi machine learning, suatu sistem yang membangun pengetahuan dari pengalaman. Dari proses itulah sebuah sistem mampu mendeteksi suatu pola dan aturan secara cepat dan akurat. Hingga manusia mampu membuat suatu teknologi yang mampu berpikir seperti manusia berpikir. Mungkin kita pernah menonton film Ex Machina. Inilah yang membedakan dunia kita dengan dunia mereka, para orang tua. Sedangkan mesin yang kita ciptakan telah terbukti mampu melakukan pekerjaan yang sama dengan manusia, namun mesin tak (belum) mampu merasa sebagaimana manusia merasa.

“Ya. Mereka (orang tua) diuntungkan begitu. Melawan keterbatasan dengan sedikit kemungkinan. Tidak seperti kita sekarang ini, mengurai kompleksitas untuk menemukan hal-hal yang sesederhana mungkin. Tapi, dari pengalaman mereka di masa lalu pula lah apa-apa berkembang sampai kita nikmati sekarang,” ujarmu lirih.
Apa barangkali masalahnya bukan cinta? Apa barangkali ini hanya trauma akibat cinta yang perih? Seperti postulat para psikoanalis, “narasi yang dirangkai oleh subyek, secara fundamental, adalah kebohongan—cuma bentuk pertahanan ego terhadap trauma.”
Cinta, menurut Martin Amis, seorang novelis asal Inggris yang terkenal dengan karya-karyanya: Money (1984), London Fields (1989), Time’s Arrow (1991), dan The Information (1995), adalah sebuah nomina abstrak, sesuatu yang gemawan. Tapi, cinta ternyata satu-satunya bagian dari diri-kita yang kokoh ketika dunia jungkir balik dan layar menjadi gelap. Saya pun kembali bertanya-tanya, apakah ini juga sebuah kebohongan lagi? Tapi, tetap saja, jika benar, ini adalah kebohongan yang perlu.

Jadi, bagaimana sebenarnya bentuk retorika yang paling pas untuk merepresentasikan cinta yang otentik? Apa makna kejatuhan eksistensial saat saya mengatakan “i love you” padamu?
“Orang dulu sederhana saja dalam berpikir,” ujarmu. “Tapi kau tahu? Doanya luar biasa,” katamu lagi.
Apakah doa yang kau maksud bahwa cinta adalah sebuah penyerahan total tanpa alasan? Sebuah kebebasan yang diperjuangkan justru dari mengorbankan kebebasan itu sendiri?
Ah, tiba-tiba saya teringat dengan konsep arkeologi jiwa dari Sigmund Freud. Seorang arkeolog mencari sisa-sisa masa lalu yang jauh dengan menggali berlapis-lapis sejarah kebudayaan. Dia mungkin menemukan benda-benda pada abad ke-18 M, atau 14 M, atau bahkan lebih dalam lagi dari abad ke-5 SM. Dengan cara yang serupa, seorang psiko-analis dapat menggali ke dalam pikiran seseorang dan memunculkan pengalaman-pengalaman yang telah mengakibatkan semacam kelainan psikologis, sebab menurut Freud, kita menyimpan kenangan akan seluruh pengalaman, jauh di dalam diri kita.

Apa mungkin kata ‘cinta’ dan sekaligus ‘bohong’ muncul sebagai akibat kondisi traumatik masa lalu yang kemudian menguburnya pelan-pelan dan jauh ke dalam lubuk alam bawah sadar? Hingga saat berjumpa denganmu, lalu dorongan seksual saya memberikan respon ketertarikan padamu, memunculkan kembali suatu kesadaran lama yang patogenik, yang sakit dan juga perih.
Bisa jadi ungkapan “i love you” itu adalah impuls dari alam bawah sadar. Apakah ia sebuah keselip lidah yang spontan? Atau, apakah ungkapan ‘kebohongan’ sebuah upaya mencari-cari dalih? Barang kali saya juga menjadikanmu hanya sebagai proyeksi atas segala kondisi traumatik tentang cinta dan segala kebohongannya.
Namun, menurut Freud, justru di situ pula lah letak kebenaran diri kita. Bahwa kesadaran sesungguhnya hanya mengisi sebagian kecil pikiran manusia. Kesadaran itu bagaikan puncak gunung es yang muncul di permukaan laut—atau di bawah ambang batas kesadaran—ada ‘lubuk hati’ atau bawah sadar. Jadi bawah sadar adalah segala sesuatu yang ada di dalam diri kita yang telah kita lupakan atau tidak kita ingat.
Sungguh, saya adalah seorang yang memperjuangkan humanisme bagi perasaan cinta saya hanya padamu saja. Bahwa jika humanisme menganjurkan cinta pada kemanusiaan secara universal dan kepada segenap umat manusia, itu adalah retorika yang hampa (setidaknya bagi saya). Karena bagaimana saya bisa memiliki ketertarikan rasa sebesar itu dan keterikatan batin seluas itu, sedangkan padamu saya masih meragukannya?
Sayangnya, sampai detik ini, kita masih dikungkung oleh sebuah aturan bahwa– hidup yang bisa dimengerti– hanyalah pada apa yang bisa terwakili oleh kata. Maka hanya ini, “i love you”, yang bisa mewakili sebuah perasaan saya yang paling subyektif padamu, meski yang saya tahu itu bohong. Sekali lagi, sebuah kebohongan yang sementara ini kita perlukan sampai nanti kita bisa memberontak dari kata-kata, retorika dan narasi yang mengungkung.
Semoga mencintaimu dan, juga tentu saja, (bila pun) kau mencintaiku adalah sebentuk mekanisme penyembuhan (terapi) bagi kejiwaan kita. Menafsirkan setiap mimpi-mimpi kita sebagai upaya membuka jalan menuju kesadaran yang lebih terang. Tak ada yang perlu dinafikan dari masa lalu yang pahit dan getir, karena semakin kita berusaha melupakan, semakin ia akan tetap terkenang sebagai sebuah kungkungan. Biarkan saja mengalir. Sambil kita mengingat Sartre yang berkata, “temukan esensi, setelah eksistensimu.”***

