kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Kedai Candu Kopi : Berdiri Sejak Kau Mendua

Author : Heri Prasetiawan

Aku masuk ke dalam Kedai Candu Kopi dengan disambut oleh alunan lagu Harusnya Aku yang dinyanyikan oleh Armada Band.

Harusnya aku yang di sana, dampingimu dan bukan dia. Harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia. Harusnya kau tau bahwa cintaku lebih darinya. Harusnya yang kau pilih bukan dia.

Aku pun memesan segelas kopi hitam tanpa gula kepada Abeng, pemilik Kedai Candu Kopi, yang juga kawanku. “Kenapa tak pake gula, Bang?” Tanya Abeng padaku. “Kopiku tak butuh gula, ia hanya butuh mengingat manisnya janji-janji masa lalu. Meski sekarang yang tersisa hanya ampas, pahit dan kelat. Cuma segelas kopi yang tetap setia bercerita kepadaku, bahwa hitam tidak selalu kotor dan yang pahit tak selalu menyedihkan,” ujarku padanya. (Nyesel gw nanya2 jerit batin Abeng).

Abeng

Adalah anak muda berasal dari Ranah Minang, Sumatera Barat. Alam takambang jadi guru. Demikian filosofi orang Minang yang merantau ke negeri orang. Menimba ilmu sembari mencari pengalaman hidup. Seperti Abeng yang memilih jadi mahasiswa Teknik Industri di UIN ini, ia juga mengasah naluri bisnisnya dengan membuka Kedai Candu Kopi.

Candu Kopi berdiri pada Juli 2018 di jalan Bangau Sakti, Panam, Kota Pekanbaru. Dalam waktu kurang dari setahun, Abeng mampu membawa Candu Kopi menjadi candu baru tempat kongkow anak muda pecinta kopi. Sebuah prestasi yang patut dibanggakan, kawan.

“Kenapa kok nama kedainya Candu Kopi, Beng?” Tanyaku. “Gini bang.. Candu atau ketagihan itu adalah kondisi saat tubuh atau pikiran kita menginginkan atau memerlukan sesuatu secara berulang-ulang. Ini semacam sugesti kepada penikmat kopi untuk terus pengen ngopi dan pastilah yang udah pernah kemari ingatnya ke Candu Kopi.. hehe~” Ujarnya padaku. “Hmm.. sekarang aku mengerti kenapa dia yg telah pergi ga balik2 lagi. Ternyata ia memang tak mencanduiku, hingga tak ada sedikitpun tersugesti untuk mengingatku kembali.” Lirihku hampir tak terdengar. Abeng pun bengong sambil nyebut2 😧😧

Baron

Di sini aku diajak melihat langsung proses penyeduhan kopi yang berasal dari berbagai daerah di Nusantara. Ada Lampung, Aceh, Sidikalang, Toraja, Wamena, Bali dan sebagainya. Komplit deh tinggal sebut saja kopi mana favoritmu. Semua tersedia. Sekali lagi, di Candu Kopi.

Aku ketemu Baron, salah seorang Barista di sini. Saat kutanya kenapa memilih jadi Barista, ia menjawab, “Mengaduk kopi, mengadu sepi. Berkisah tentang patah hati, semoga manisnya kopi dapat membuatku lupa tentang cara dia mengkhianatiku. Karena hanya secangkir kopi yang menyajikan manis, bukan janji-janji dari bibir yang terlihat manis.” Laaaah?! kok jadi curhat sih bang?? kataku..

“Wajar bang namanya saja Candu Kopi berdiri sejak kau mendua,” sahutnya lagi.

Hehe~ iya juga ya..

Hehe~ iya bangg..

Lanjutt yaaa, Kawan.

Kopi Milo

Menu spesial di Candu Kopi adalah Kopi Milo, perpaduan kopi hitam dan cokelat milo hingga menghasilkan kenikmatan rasa yang haqiqi, tentu saja dengan olahan yang khas Candu Kopi. Karena soal rasa tak bisa dibohongi. Dan, aku sudah merasakan sendiri gimana nikmatnya kopi di Candu Kopi. Pokoknya ini kedai yang salah satu paling rekomended buat kamu yang pengen ngopi plus kongkow bersama kawan-kawan.

Untuk harga? Jangan khawatir. Pernah denger ungkapan rasa bintang lima, harga kaki lima? Nah, di sini lah aku temukan faktanya. Kamu hanya perlu membuktikannya.

Kenapa orang-orang harus ngopi di Candu Kopi? Abeng menjawab, “semua kita pasti butuh sumber inspirasi sebagai penyemangat atau pun memberikan suasana baru yang menyegarkan. Nah, ngopi adalah cara yang pas untuk mencari inspirasi itu. Makanya, ayo ngopi di Candu Kopi.”

Kalo mau kemari jangan lupa ngajak2 yaa. Di hari biasa di luar Ramadan kedai Candu Kopi buka 24 jam, kecuali ngantuk. Selama bulan Ramadan tentu disesuaikan jadwalnya hanya untuk malam hari saja. Salam.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai