Author : Puan Seruni
Umpatan “dasar feodal!” sering aku dengar dari Bapak semasa hidupnya dulu. Salah satunya ketika mendengar ada anak kerabat di kampung yang sekolahnya diberhentikan paksa demi menikah. Makna yang kutangkap begitu dangkal sekali kala itu, bahwa feodal sama dengan pemikiran kuno.
Kemudian ketika aku mulai menyukai membaca cerber dan novelet di majalah dengan setting kolonialisme, Ibu selalu mengajakku mendiskusikan cerita-cerita tersebut. Diskusi yang lebih tepatnya mengevaluasi bacaanku dan juga upaya mengenang pengalaman beliau saat masa kecil yang hidup di zaman kegelapan penjajahan di kampung, di daerah Banyumas, Jawa Tengah.
Makna feodal terasa sedikit luas bagiku dari apa yang digambarkan dalam cerita dan yang Ibu jelaskan. Namun diskusi yang paling berkesan adalah saat aku meminjam buku perpustakaan sekolah. Ada dua buku dari dua pengarang yang aku pilih. Nh. Dini, Langit dan Bumi Sahabat Kami dan Pramoedya Ananta Toer, Gadis Pantai. Kami saling membaca dan mengapresiasi cerita dan tokoh-tokoh di dalamnya dalam diskusi yang penuh haru dan membuat pandangan Ibu selalu menerawang.

Gadis Pantai termasuk bacaan yang berat bagiku yang baru menginjak usia belasan tahun waktu itu. Karya yang membuatku ngilu dan miris. Banyak hal yang kutanyakan pada Ibu usai membacanya. Apa iya perempuan waktu itu hanya mengenakan jarik (kain panjang) dan kebaya saja? Benarkah mereka dinikahkan saat masih anak-anak? Bagaimana dengan haid pertama anak perempuan masa itu? Bagaimana reaksi keluarga, orangtua dan masyarakat sekitar? Kenapa laki-laki bangkotan yang jadi suaminya itu tidak kasihan? Kenapa begitu serakah punya banyak istri? Apa bedanya Gundik dengan Nyai? Sampai akhirnya aku dilarang membaca dan bertanya lagi beberapa hari. Ibu ternyata butuh jeda, agar bisa menjawab pertanyaan sembari merangkai semua yang diingatnya waktu itu.

“Jaman dulu, feodalisme menjerat masyarakat Jawa sampai terlampau batas. Punya agama tapi cuma sekedarnya saja…” Itulah kalimat yang aku ingat ketika Ibu mulai menjelaskan dan menjawab satu persatu pertanyaanku. Ibu menjelaskan gambaran sederhana novel Pram itu melalui kisah-kisah keluarga besarnya. Kakek, kenang Ibu, adalah seorang Khalifah, sering berkeliling sebagai juru dakwah, tapi tidak bisa berbuat apa-apa melawan belenggu Sistem Feodalisme. Alih-alih menentang, kegiatan dakwahnya juga berhadapan dengan kelaparan dan kemelaratan masa itu.
Kakek kemudian meninggal karena sakit saat berada di kampung lain dalam sebuah perjalanan dakwahnya. Kakek meninggalkan seorang anak laki-laki, Pakde-ku, dan empat anak perempuan; dua orang Bude-ku, Ibu-ku dan satu Bulik-ku. Yang beruntung Pakde, karena dia laki-laki maka diperkenankan mengenyam pendidikan Sekolah Rakyat. Jadi hanya Pakde lah yang bisa baca, tulis dan hitung. Sementara ke empat adiknya pasrah menjalani takdir sebagai perempuan masa itu, tidak sekolah, hidup melarat dan jika sudah datang haid, maka siap-siap dinikahkan.
Ibu termasuk yang mengalaminya. Aku baru tahu, Ibu pernah menikah di usia yang sangat belia, kemudian ditinggal pergi begitu saja oleh suaminya. Mereka belum sama-sama matang dan paham arti cinta dan berumah tangga. Ibu hamil dan melahirkan dengan kondisi yang rapuh, kemudian anaknya meninggal dunia. Dalam kesedihan tanpa suami, kehilangan anak, dan harus menanggung sakit usai bersalin, Ibu lalu bertekad tak akan mengulangi lagi kesedihan dalam hidupnya. Kenyataan pahit yang membuatnya lebih kuat sebagai perempuan belasan tahun yang dipaksa dewasa sebelum waktunya.
“Kenapa Mak tidak melawan?” tanyaku. Ibu menjawab pelan, “Apa yang bisa perempuan-perempuan bodoh dan melarat lakukan melawan itu semua, Nak? Gak ada. Sekolah? Kamu berhadapan sama kemelaratan, kelas sosial dan cara pikir. Hanya anak-anak orang kaya saja seperti anak-anak sepupu Mak saja yang sanggup.”
Ibuku mulai bekerja sebagai pekerja rumah tangga di rumah sepupunya yang kaya. Upahnya bukan uang, tapi beras dan makanan. Ternyata keluarga besar Ibuku tidak semuanya melarat, sebagian lagi hidup sangat berkecukupan sebagai tuan tanah, guru, dan dalang. Keluarga yang miskin bekerja membantu di rumah keluarga yang kaya. Hubungan saudara menjadi samar berganti menjadi relasi antara majikan dengan pembantunya. Begitulah kejamnya sistem feodal membentuk pemikiran dan perilaku yang tidak beradab, kata Ibuku. Bahkan karena ‘rasa berjasa’ kadang keluarga yang kaya berani menguasai sawah saudara yang miskin.
“Apakah mereka Islam Mak?” tanyaku kemudian.
“Islam campur kejawen. Ada juga yang masih menganut aliran kepercayaan saja. Entahlah, gak jelas.” jawab Ibu lagi. Salah seorang Eyang bahkan nyaris naik haji. Ia sudah menyiapkan bekal berupa hasil pertanian buat perjalanan selama 6 bulan di kapal, tetapi gagal berangkat. Kabarnya Eyang itu kurang kasih “sangu” sama petugas untuk meloloskan nama mereka. Uang ONH mereka pun dianggap hangus, tidak dikembalikan. Begitulah parahnya kondisi masa itu. Agama tidak berperan apa-apa di masa itu. Tuhan hanya milik orang-orang tertentu saja. Dan mereka bisa tak berdaya, bisa juga semena-mena dalam budaya masyarakat yang feodal seperti itu.
Sekelumit kisah yang Ibu ceritakan tentang kehidupannya kala itu membuat dadaku sesak. Membayangkan kehidupan sosial masyarakat yang selama ini tampil sebagai latar yang hanya digambarkan sekelumit dan sederhana dalam cerita-cerita bersambung atau novelet, ternyata lebih kompleks. Sisi lain masyarakat di luar kehidupan Gadis Pantai, ternyata juga dialami Ibuku sendiri.
Meski hidup menjelang masa kemerdekaan, tapi praktik feodalisme tak serta merta hilang begitu usai proklamasi digemakan. Peng-kotak-an, pelabelan dan hidup yang tersekat-sekat karena status sosial itu bahkan terjadi di lingkungan keluarga besar leluhurku sendiri.
“Tak mudah hidup di masa itu, Nak. Terutama bagi perempuan, ruang geraknya terbatas dan harkat martabatnya dipandang rendah. Begitulah saking bodohnya orang-orang dulu. Itulah makanya penting punya ilmu pengetahuan dan ilmu agama. Orang-orang Jawa punya kepercayaan yang kuat berkaitan dengan kebiasaan leluhur. Mereka menganggapnya itu bagian dari warisan budaya yang luhur, padahal itu hanya kebodohan yang terus menerus diturunkan…” ~ Ibu.

Jujur, aku takjub dengan pemikiran Ibuku. Andai saja dahulu dia bersekolah, mungkin nasibnya bisa lebih baik. Tekadnya untuk belajar membaca saja, menurutku efeknya sudah luar biasa membuatnya berpikir sejauh itu. Ibuku menilai Pramoedya berhasil membuatnya menangis dan membuka aib feodalisme di Jawa pada masa lalu secara rinci.
Jangankan adab, rasa kemanusiaan pun dimusnahkan oleh sistem itu.
“Dasar Feodal!”
Huh!!
