kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Pulang

Author : Herman Attaqi

Semasa kuliah dulu, saya pernah tak pulang lebaran dua kali. Dua-duanya dengan alasan yang tak saya mengerti, selain ingin melawan saja dengan sesuatu yang disebut ‘pulang’ itu sendiri. Kenapa orang harus pulang? Tak jua saya temukan selain tangis Ibu, dan Ayah yang seperti biasa, tanpa kata-kata. Saya baru tahu kemudian hari setelah menjadi seorang Ayah, bahwa ‘tanpa kata-kata’ itu justru lebih sedih dari tangisan Ibu sekalipun. Tapi, saya jua tak temukan arti pulang selain sebuah fase dari libur kuliah dan kebetulan tak ada kegiatan. Sebuah alur yang biasa saja. Mungkin juga kurang ajar.

Dimas Suryo, tokoh dalam novel Pulang karya Leila S Chudori mengatakan, “rumah adalah tempat di mana aku bisa merasa pulang.” Bagi seorang eksil yang terenggut kewarganegaraannya akibat dituduh antek PKI di zaman itu, lalu menjadi tak punya negara dan luntang-lantung hidup di negeri orang hingga terdampar dan mencari suaka politik ke Paris, wajar ia merindukan pulang. Sampai-sampai mengasosiasikan apa saja yang membuatnya bisa merasa pulang adalah sebagai rumah. Sedangkan saya? Kapan pun mau, waktu itu, saya bisa pulang. Apakah pulang hanya bermakna bagi yang tak bebas memutuskan pulang? Seperti Sulastri dari Sompok, Semarang yang dibuang Jepang ke Pulau Buru berkata, “kalo sampeyan nanti pulang, tolong ajak saya, bawa saya ini. Saya akan sangat berterima kasih kalo sampeyan bisa bawa saya keluar dari daerah ini. Saya sudah cukup lama disiksa oleh keadaan, sementara saya tidak tahu jalan keluar.” Demikian ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam Perempuan dalam Cengkraman Militer. Dalam Laut Bercerita, justru kemudian Leila S. Chudori menulis, “ketidaktahuan dan ketidakpastian kadang-kadang jauh lebih membunuh dari pembunuhan.”

Bisa jadi saya terjebak pada situasi ketidaktahuan atau lebih tepatnya ketidakjelasan eksistensial, seperti ketidakpulangan yang pertama saat saya bertahan di Jakarta yang kemudian membawa saya untuk pertama kalinya membaca novel Dunia Sophie. Penuh pertanyaan tentang; “Siapa aku?” “Dari mana asal dunia?”. Lalu, dengan begitu saya harus menemukan satu bentuk eksistensial yang sejati, yang terlepas dari makna keluarga, rumah, ayah dan ibu. Apakah saya ini seorang individu yang bebas?

Sampai di situ sebenarnya saya masih terjebak ke dalam permainan kata-kata. Dalam buaian imajinatif yang, bisa jadi, terlihat seolah-olah milsuf. Seperti Socrates yang saya comoti begitu saja kalimatnya, “apa yang aku ketahui adalah bahwa aku tak tahu apa-apa.” Padahal Socrates menemukan kalimat itu sebagai puncak dari buah pengetahuannya tentang hidup, yang sekaligus mengantarkannya pada kematian. Lebih tepatnya dipaksa mati dengan menenggak racun. Lah, saya? Tak lebih dari anak muda kebingungan di tengah fantasi ontologisnya sendiri.

Lalu, “pulang” kemudian bermakna sebagai fantasi, bahkan pemberontakan atas sesuatu yang mapan, yang harus. Kita harus pulang. Saya jawab, tidak. Fantasi tentang pulang adalah mencari sesuatu yang di luar kebiasaan. Seharusnya saya mencari makna pulang yang sebenarnya sebelum memutuskan untuk pulang. Kemudian hari saya sebut ini adalah sebentuk kegenitan eksistensial. Tapi, begitulah mungkin sebuah proses yang wajar belaka, yang harus dilalui.

Saya ingat dulu ketika Ayah dengan sepeda motor Honda jenis CB 100 (tapi saya lupa tepatnya) membawa saya berjalan-jalan sore melihat jembatan pelayangan di Rantau Merangin (sekarang kecamatan Kuok, Kampar, Riau), dan hal yang selalu saya ingat adalah makan kue bolu khas berbentuk ikan di tepian Sungai Kampar yang waktu itu tentu saja belum dirusak oleh tambang Galian C yang menggerus sungai sedemikan buruk rupa itu, persis ketika Jendral Aureliano Buendia sesaat akan menghadapi regu tembak ia harus mengingat sore yang jauh ketika Ayahnya membawanya untuk menemukan es, ini ditulis oleh Gabriel Garcia Marquez dalam One Hundreds Years of Solitude.

Maka pulang bermakna mengingat sesuatu yang jauh. “Yang penting dalam hidup bukanlah apa yang terjadi padamu, tapi apa yang kamu ingat dan bagaimana kamu mengingatnya.” Masih kata Gabriel Garcia Marquez dalam buku yang sama. Saya pun belajar merawat ingatan pada masa lampau, setelah Ayah tiada. Pulang menjadi sebentuk kerinduan. Hasil pemijahan dari loncatan ingatan akan masa lampau. Sebuah kaki gunung es yang jauh lebih besar terbenam di dasar laut kesadaran. Lalu, menyembul keluar menjadi semacam tindakan surealis. Lebih liar dan penuh kejutan. Pulang adalah tindakan yang disandarkan atas ilham sebebas-bebasnya dari imaji-imaji impiannya dan berusaha mencapai ‘superrealisme’ yang di dalamnya batas-batas antara impian dan kenyataan melebur. Persis seperti Manifesto Surealis yang diterbitkan oleh Andre Breton, pada 1924.

Gabriel Garcia Marquez, foto pencarian google.

Di antara pulang yang bisa dimaknai sebagai kegiatan individu yang bebas dan juga imaji alam bawah sadar akan ingatan kepada seseorang dan (atau) sesuatu di masa lampau, saya tak pernah lupa pada tiap-tiap pulang ke rumah, Ibu akan selalu menyiapkan makanan terbaik yang ia bisa buat. Beberapa di antaranya adalah bubur kacang hijau, goreng ikan teri, peyek kacang dan nasi goreng yang semuanya, meskipun sederhana, menjadi menu favorit saya akan masakannya. Belum lagi di setiap bulan puasa akan tersedia panganan khas bernama Itak Talam, diolah sebagai hasil modifikasi tepung dan gula aren yang biasanya disajikan dalam kreasi daun pisang berbentuk kapal-kapalan. “Kapan kau akan pulang, Nak? Biar nanti Omak siapkan bubur kacang hijau dan peyek kesukaanmu.”

Saya tak punya fantasi apa-apa lagi tentang pulang, kecuali bahwa saya merindukan sebuah kebaikan, sekaligus kebajikan seorang perempuan baik hati yang kemudian secara khusus saya panggil Omak (Ibu). Ini, pastinya, bukan soal masakannya, tapi kebajikan. Seorang anak selalu akan melihat pulang ke pangkuan Ibu sebagai sebuah kebajikan. Yang hal ini lah di kemudian hari membuat saya sungguh menyesali pembangkangan tak pulang pada dua kali lebaran.

Tampak dengan jelas sekali sebenarnya detil gagasan tentang pulang yang terbentuk di dalam diri saya. Saya bak seorang pengembara, yang oleh Umar Khayam dalam Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, tidak boleh terlalu lama berhenti di satu persinggahan. Satu-satunya hal yang harus terus memesona pengembara ialah alam bebas yang luas; gunung-gunung, sawah-sawah, kali-kali dan orang-orang yang berjalan di sepanjang jalan itu. Berjalan melihat kenyataan yang luas di hamparan Bumi Manusia, kemudian tak lupa singgah untuk pulang.

Pulang adalah saatnya mengambil jeda untuk menghimpun segala pengetahuan yang dapat dipetik dari pengembaraan. Menyegarkan segala kepenatan, kejenuhan dan kebingungan tentang soal kehidupan. Meramu pengetahuan yang diperoleh. Menafsirkan kembali kenyataan-kenyataan. Karena, seperti yang dikatakan Pramoedya, kehidupan lebih nyata dari pendapat siapa pun tentang kenyataan.

Umar Khayam, foto pencarian google.

Kemudian justru karena kenyataan itu pula yang tiba-tiba berputar 180 derajat, saya harus menafsirkan ulang setiap detil gagasan tentang pulang. Hari ini, ketika saya tak memiliki (si)apa-(si)apa lagi; Ayah, Ibu, bahkan rumah sekali pun, hingga kebebasan untuk kapan saya mau pulang, saya melihat pulang bukan lagi sebentuk ingatan atau tarikan magnet masa lalu. Jika pulang adalah sebentuk ruang dan waktu, maka saya lebih melihatnya sebagai sebuah impian. Sebuah masa depan yang diperjuangkan. Harapan dan cita-cita. Saking kerapnya saya mendengar perkataan, “sabar” dari orang-orang sekitar. Sebuah perkataan hiburan sebenarnya, mungkin ingin menguatkan untuk tetap kuat menunggu masa depan, atau masa ‘kepulangan’.

Saat saya menyelesaikan tulisan ini, sebenarnya telah beberapa hari saya merasa sakit kepala yang agak akut dibanding waktu-waktu sebelumnya. “Untung saja sakitnya di hari-hari terakhir puasa,” kata saya kepada seseorang. Saya tak bisa membayangkan kalo sakitnya muncul di awal bulan puasa dan harus melalui puasa dengan tambahan beban sakit kepala.

Ini sebenarnya sakit kepala karena sakit mata silinder ini kumat lagi. Astigmatisme yang memang mengharuskan saya menggunakan kaca mata, tapi apa lacur, untuk manusia yang masih dihadapkan hanya pada kebutuhan primer macam saya ini, memiliki kaca mata seperti sebuah kemewahan tersendiri. Ah, sudahlah tak perlu dipikirkan. Justru saya berpikir bahwa apakah pulang itu hanya soal ruang dan waktu? Soal masih di sini dan hendak ke sana? Soal masa lalu, sekarang atau masa depan?

Pak Tua, mentor filsafat saya, pernah berkata bahwa filsafat bisa kau jadikan sebagai cara berpikir untuk melihat kenyataan objektifmu. Dunia ini tentang bentuk dan isi. Kau bisa pahami bentuknya dan kau bisa mengurai isinya sekaligus. Dari situ kau bisa menyimpulkan segala sesuatunya untuk menyiapkan satu tindakan konkrit untuk hidupmu. Teori itu penting untuk menetapkan praktek yang akan kau lakukan. Jika ada kekeliruan kelak pada praktekmu, kau pun bisa kembali pada teori untuk mengambil evaluasinya. Pahamilah bentuknya terlebih dahulu.

Maka yang saya pahami tentang pulang adalah bentuk yang justru melampaui kedisinian dan kedisanaan itu sendiri. Bahkan juga melewati waktu lampau dan akan datang. Tepatnya, pulang adalah tentang diri saya sendiri. Karena pulang itu sejatinya materi yang wujud dalam diri sendiri. Ia bergerak aktif dan progresif bersama pikiran-pikiran, jadi ia tentu saja melampaui semua materi ruang dan waktu.

Adalah kenyataan bahwa saya tak memiliki semuanya, bahkan kemampuan untuk pulang ke rumah yang saya juga tak tahu ada di mana. Namun faktanya, saya memiliki diri saya dengan segenap bentuk dan isinya. Di sinilah saya berada. Di sini pula saya harus memutuskan tempat di mana saya harus pulang. Sama seperti konsep bersyukur, selain sabar yang selalu diulang-ulang di telinga saya, bahwa lebih baik menikmati apa yang kau miliki, dari pada merisaukan apa yang tak kau miliki. Dari ketiadaan saya belajar untuk tidak berharap terlalu muluk, hidup dalam kecemasan, serta ketidak-percayaan diri. Apakah sama dengan kata-kata Jalaluddin Rumi? Bahwa “kemiskinan mengajarkanku untuk tidak memiliki apa-apa dan berharap apa-apa.” Entahlah.

Pernah suatu ketika, di tahun pertama pulang ke rumah pada libur lebaran dari kuliah di Jogja, karena potongan rambut saya yang gondrong, Omak pun nyelutuk, “perasaan anak Omak yang pergi kuliah dulu laki-laki, ini kenapa pulangnya jadi perempuan?” Saya senyum saja. Biasalah. Khas sindiran orang tua, yang kemudian hari saya pahami ternyata itu adalah sebuah kelembutan hati.

Kadang, kita hanya perlu mencari sesuatu yang menyegarkan, yang lucu untuk sekedar membercandai hidup ini. Sebab, bisa jadi pulang hanya sekadar sebentuk penyegaran jiwa dari betapa tingginya tembok penjara dunia ini, betapa kokohnya jeruji besi mengungkung diri kita hingga tak banyak yang bisa kita lakukan. Apa boleh bikin?

Saat tulisan ini kawan-kawan baca, mungkin kalian semua sedang berkumpul di rumah. Merayakan malam takbiran dengan lontong ketupat gulai nangka, atau anak-anak yang bermain petasan dan kembang api. Saya hanya berharap satu saja, sakit kepala ini bisa secepatnya pulih.***

—–

*Feature image source: All About Sumatera Bus

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai