Author : Puan Seruni
Judul tulisan ini bukan bermaksud sok puitis lah yaw.. Itu hanya bagian dari kata-kata penutup acara tabligh akbar yang selalu saya announce-kan saban saya didaulat jadi pewara tiap acara Nuzulul-Qur’an dahulunya. Kata-kata yang lama-kelamaan membuat saya gelisah sendiri. Apa sih sebenarnya yang saya rindukan dari Ramadhan dan Idul Fitri? Apa iya sebegitunya Ramadhan itu penuh kerinduan? Benarkah Idul Fitri itu rindu yang sesungguhnya?
Saya mencoba mengurai pertanyaan tersebut dengan pertanyaan sederhana, siapa sih yang tidak rindu dengan Ramadhan? Terutama dengan suasana dan kenangan akannya. Rindu yang harfiah kepada masa kecil, masakan ibu, orang tua, teman-teman kecil, kemudian tumbuh dan besar masa itu, serta kehangatan suasana berhari raya yang seutuhnya meski dalam kondisi terbatas. Semua tak tergantikan meski kondisi hidup saat ini jauh lebih baik.
Kesan, aroma dan kebahagiaan yang tercipta ternyata memiliki tempat dan dimensi tersendiri dalam benak. Dimulai dari aktivitas solat tarawih. Jumlah masjid yang masih jarang dan jaraknya yang jauh. Ditempuh dengan melewati jalan setapak di tengah semak belukar dan sebagian hutan kecil dengan menggunakan senter atau obor. Listrik belum masuk, rumah penduduk yang masih jarang, dan suasana yang betul-betul lengang. Saya dalam gandengan bahkan gendongan bapak atau abang-abang saya masa itu, merasakan betul suasana yang betul-betul lengang. Jika terdengar bunyi gemrusuk, maka semua yang berjalan akan berhenti dan bersiap mundur. Dikhawatirkan itu harimau atau babi hutan yang lewat, tapi merasa terganggu sehingga balik menyerang. Begitu sampai di rumah langsung tidur karena kelelahan.

Menjelang jam 3 dini hari sudah dibangunkan Mak, setelah ia juga berjibaku dengan aktivitas di dapur yang mengandalkan tungku dan kayu bakar. Nasi panas di periuk. Lauk sederhana yang baru matang. Sisa kalio ayam atau bebek yang baru di hangatkan, serta serundeng atau telor dadar kering yang gurih. Aroma itu semua seakan terhirup dalam penciuman hingga saat ini. Nun jauh sayup-sayup terdengar dari mesjid, marbot sudah berteriak membangunkan warga mulai dari jam setengah 3 dini hari! Waktu sahur yang begitu awal. Mengingat gak ada praktis-praktisnya mempersiapkan sahur masa itu (maka saya heran jika ada yang tak berhenti mengeluh hidup semakin susah di zaman yang serba dimudahkan ini).
Memasuki Idul Fitri, suasana kebahagiaan pun menyeruak. Dalam kondisi yang masih sederhana, hidangan khas tanpa perangkat saji yang mewah tersaji di meja makan. Aneka kue kering tradisional di toples-toples kaca sederhana. Tak kenal nastar, putri salju dan semua jenis kue modern, tapi tetap membahagiakan. Kendaraan yang masih langka, tak menyurutkan orang-orang melangkah datang jauh-jauh demi menyambangi tetangga dan sanak saudara. Kesan yang terus ada di dalam benak hingga saat ini.
Lantas, dari semua itu apa yang dirindukan dari Ramadhan dan Idul Fitri itu sebenarnya? Nah, balik lagi kan ke pertanyaan saya di awal. Apa sekedar kenangan saja yang membuat Ramadhan itu dirindukan dan Idul Fitri itu dikenangkan? Bagaimana dengan proses spiritual yang kita terus gali di dalamnya? Bagaimana dengan aktivitas ibadah bahkan dengan kenaifan kita sebagai hamba dalam memaknai puasa sebatas menahan lapar dan dahaga? Adakah terketuk untuk ditingkatkan sesudah Ramadhan berlalu? Mikir gak sih, umur kita belum tentu sampai di Ramadhan tahun depan? Jika sepanjang Ramadhan kita terlalu sibuk dengan apa yang akan dihidangkan di meja makan, masihkah layak kita merindukan Idul Fitri? Kemenangan atas apa yang sesungguhnya kita rayakan? Pertanyaan-pertanyaan yang ditanya sendiri, yang namun belum terjawab sendiri juga. Ugh, benar-benar menggelisahkan. Atau memang begitu kodratnya?

Allah hadirkan Ramadhan dan Idul Fitri untuk kemudian menyediakan banyak ruang-ruang bagi kenangan; tentang kehangatan pertemuan, indahnya kebersamaan, sampai beratnya perpisahan. Namun sedikit menyisakan ruang untuk perenungan? Entahlah. Barangkali Ramadhan tetap menjadi jalan sunyi penuh rindu bagi sebenar-benar penempuhnya, sehingga Idul Fitri benar-benar menjadi tujuan kerinduan seorang petarung yang kemenangannya dirayakan tanpa seremonial berlebihan. Bisa jadi.
