kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Benarkah Musuh Utama Kesendirian itu Kesepian?

Author : Puan Seruni

—Sebuah catatan empati untuk mereka yang selalu ditanya kapan nikah.

Percaya atau tidak, menjalani hidup sebagai single parent itu bagi saya seperti perasaan orang jatuh cinta. Berjuta rasanya. Berjuta juga perjuangannya, apalagi godaannya. Saat diri sudah bisa menerima kenyataan dan terbiasa dengan kesendirian, eh disitu pula diri dihadapkan dengan orang-orang yang tidak pengertian, orang yang sok tahu, orang yang pura-pura peduli dan orang yang selalu menyudutkan.

Tapi dari situ saya jadi belajar bersikap sabar, diam, memaafkan dan menjadi orang yang selalu husnuzon. Terutama menghadapi orang-orang yang selalu bertanya begini kepada saya,
“Kapan nikah lagi?”, “Udah punya calon Papah baru gak?”, “Kok gak menikah lagi sih?”, atau “Kenapa masih betah sendiri?”, bahkan yang lebih menggelikan (baca : menjijikkan) ditanyai, “Kamu normal kan? Masih punya nafsu sama laki-laki gak? “. Jadi hanya karena belum punya pasangan atau terlalu lama sendirian, orientasi seksual saya dianggap berubah gitu? Duh, Gusti Allah paringono sabaaaar… 😳😳 #ngelusdada

Sampai di sini saya tu jadi ngertiii banget perasaan orang yang selalu ditanya “kapan nikah? Kapan wisuda? Kapan punya anak? Kapan punya mobil? Kapan meninggal? #eh
Cukup? Udah? Beluum….
Pertanyaan berlanjut sembari menambahkan hal-hal lain yang menurut saya terlalu privasi, tidak beradab apalagi nyambung untuk ditambahkan sebagai bagian dari substansi pertanyaan. Bahwa usia saya masih muda, anak saya butuh figur ayah, supaya hidup saya lebih senang, kesempatan terbatas menambah anak sebelum usia rawan melahirkan, anjuran membuka hati, musti move on, sebagai ibadah, menikah agar bahagia dan gak kesepian. Arrrgggghhh!

Yang menjalani hidup saya kok yang repot mereka ya? Lagian apa-apaan si, menikah agar bahagia dan gak kesepian dibawa-bawa segala. Sebegitu parahnyakah hidup sendiri itu sampai yang menjalaninya terlihat tidak bahagia dan selalu kesepian? Bahkan dianggap sebagai ancaman merusak rumah tangga orang? Memangnya sebahagia dan seramai apakah rupanya orang yang sudah menikah itu? Sudah seaman apakah posisi orang yang sudah menikah itu untuk bisa setia? Ah, terkadang mereka tidak sadar, mereka termasuk orang-orang yang sudah menikah tapi masih mencari-cari makna bahagia dan terkadang masih terus mengenyahkan riak-riak kesepian yang datang di tengah upaya mereka menghadapi kenyataan hidup. Gak percaya? Silakan hitung sendiri jumlah pasangan yang merasa nyaman curhat sama orang lain yang dikenalnya di media sosial dan jumlah kasus pernikahan yang bermasalah akibat perbedaan prinsip dan peselingkuhan dan berakhir dengan perceraian. Sekarang jadi ngerti kan? Bahwa dalam sebuah lembaga sakral bernama pernikahan sekali pun tidak ada jaminan untuk bisa bahagia, untuk tidak kesepian, apalagi sekedar langgeng.

Jadi bukan kesepiankah yang membuat orang-orang seperti saya itu merana? Saya berani menjawab bukan. Tidak munafik, tapi memang seperti itulah adanya. Cara diri menikmati dan menjalani hidup tanpa pasangan mungkin dianggap aneh. Kreativitas yang dilakukan dianggap sia-sia dan leluasa memberikan sumbangsih manfaat bagi sesama dianggap gak berguna. Sangat minus apresiasi . Kenyataannya, yang masih single di jaman sekarang justru sering terbunuh karakternya karena mulut dan anggapan buruk di lingkungan sosialnya berada. Terlepas dari statusnya sebagai lajang, duda, tuna suami ( bahkan ga tega menyebut status sendiri sebagai janda karena stigma negatifnya, dasar aku! ) dan single parent.

Mungkin sekilas terlihat mengenaskan, pantas ditertawakan, dijadikan bahan candaan, pelecehan bahkan perundungan, tapi sesungguhnya yang dihadapi tidak demikian. Jomblo itu manusia normal kok gaess. Memilih hidup sendiri itu bukanlah pengikut aliran sesat jika mampu melihat secara bijak dari dekat. Prioritas-prioritas hidup orang itu sudah ada kadarnya. Toh, banyak yang sudah berpasangan berusaha memelihara kewarasannya dengan menikmati kesendiriannya sejenak. Menyepi menikmati secangkir kopi sambil menulis puisi di sore hari. Membeli buku spesial sebagai hadiah bagi diri sendiri. Merajut, menyanyi, bermain musik atau bahkan cuma menikmati semangkok mie rebus pedas dengan irisan cabe rawit yang menutupi permukaaan mangkok sambil nonton sinetron azab. Duh…

Tidak ada yang salah ketika seseorang memilih hidup sendiri (dulu) sembari mempersiapkan hati dan segala sesuatu sampai takdir berpasangan menjemput. Dan percayalah tetap akan ada pertanyaan susulan saat kesendirian itu berakhir. Kapan punya anak? Kapan punya rumah? Kapan punya mobil? Argggghhh! Gak suka banget saya tu…

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai