Author : Taqiya Herman
Aku berdiri termangu seperti patung di hadapan seorang pria siang ini. Seragam Army yang dikenakan pria itu matching sekali dengan rambutnya yang telah dicukur habis sepuluh hari yang lalu. “Keputusan kau sudah final?” Lirihku. Perlahan pria itu mengangkat wajah dan mengangguk. Aku memajukan bibir. Membayangkannya menjelaskan panjang lebar tentang wajib militer yang tak bisa dihindarinya. Tentang konflik semenanjung Korea yang tak pernah usai sejak 1950, yang hanya menghasilkan gencatan senjata, bukannya perjanjian damai. Mataku mulai memanas dan air mataku mulai keluar. Aku menangis. Kenapa sih manusia harus berperang, jika bersahabat saja menyenangkan?
“Uljima, justru apa yang akan aku lakukan ini bukanlah untuk berperang, tapi menjaga perdamaian, sambil melatih diriku untuk lebih kuat tentunya. Nanti ketika pulang, aku berjanji akan makan es krim besar denganmu.” Bujuknya sabar. Mataku langsung berbinar, “janji yaa?”
Dia lalu meraih dan menggenggam pelan tanganku. “Tentu saja,” ucapnya pasti. Akhirnya aku mengalah. Meski aku tau 2 tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk sebuah penantian. Oh, Tuhan. Ini bukan lagi serial drama 100 Days My Prince, tapi 2 Years My Prince!

Do melepas genggaman tangannya pada tanganku seraya berujar, “Sampaikan salamku pada Exo L. Bilang pada mereka jangan menangis. Tanganku akan pegal nanti jika harus mengusap air mata mereka satu persatu. Aku hanya akan pergi sebentar, lalu kembali lagi pada kalian. Pasti mereka akan kehilangan, karena Xiumin juga baru dua bulan yang lalu masuk wajib militer.” Yah, semua pasti akan baik-baik saja.
Tanpa aba-aba, Do langsung berlari masuk ke dalam mobil, bahkan tanpa menoleh kembali padaku. Baiklah, kali ini aku memang tak bisa lagi melakukan apa-apa untuk menahannya.
Aku kembali membuka smartphone dan membaca entah untuk yang ke berapa kali pernyataan Do seperti yang dikutip oleh Soompi, “EXO-L, kalian terkejut bukan dengan berita yang tanpa diduga-duga? Aku awalnya ingin menyampaikan berita ini pertama kali kepada kalian, karena hatiku sakit saat ini, karena itu pula aku sedikit terlambat.” Tulis Do.
“Aku menulis surat ini karena aku ingin mengatakan, aku akan kembali dengan sehat dan selamat. Aku akan berhati-hati dan kembali menyapa kalian dengan pesona baru.” Lanjutnya.
Baiklah, aku akan sabar menunggu pesona barumu. Selamat bertugas, uri cimol.

