kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Lebaran Bersama Mika

Author : Heri Prasetiawan

Assalamualaikum..
Apa kabar puasamu kawan? Ga ada bolong-bolong kan? Semoga lancar yaa. Karena sebulan penuh puasa Ramadhan telah kita lalui dengan suka cita dan dinamika, kini hadirlah hari nan Fitri, yakni Hari Raya Idulfitri.

Apasih arti Idulfitri bagimu?
Tentu sangat berarti pastinja. Banyak cerita menyenangkan dong ngumpul dengan keluarga tertjinta. (Maaf kyeboard hape kebanyakan huruf j)

Aku pun juga ingin berbagi cerita buat kawan semua. Sebuah cerita yang menyayat luka dan menorehkan kepedihan yang begitu mendalam sampai ke tulang sumsum, hingga terus menembus jauh masuk ke dalam relung hatiku terdalam.

Setelah menjalani Ibadah Sholat Idulfitri seperti biasanya, aku kembali kerumah untuk sungkeman kepada orang tua, saudara dan para tokoh agama serta tokoh pelopor pembangunan lapangan bola volley di kampungku. Berbahagialah aku yang masih punya kampung untuk diceritain kisah selama mudik l3b4r4n. He he..

Bagiku, lebaran tahun ini tetap sama saja. Sama-sama masih berstatus sebagai kaum fakir cinta alias jomblo. Sayang sekali pengurus mesjid cuma ngasih perhatian sama kaum fakir miskin dan anak yatim, sehingga kadang akutu suka ngiri, padahal niatnya mau nganan, yawda.

Hidup kadang berjalan ke tempat yang tidak kita mengerti.

Bagi kami para pengikut sekte jamaah al-jomblowiyah, Idulfitri adalah hari suka sekaligus duka, hari kemenangan dan juga kekalahan sekaligus, dengan usia yang sudah cukup matang untuk menikah tapi belum menikah. Melihat tetangga yang dulunya adik kelasku jalan berdua dengan menggendong anaknya yang imut, duuuuuh pengen sekali kecup kening Ibunja. Apalagi kalo ngeliat sapi tetangga yang dulu masih anak sapi, sekarang udah banyak melahirkan anak sapi yang udah tumbuh besar. Betapa takdir cintaku tak sebanding, bahkan dengan anak sapi saja aku kalah.

Melihat tragedi nan ironi itu pun aku refleks mengambil handphone dalam saku celana. Tapi tak ada. Ya, Salaam.. Ternyata aku nyarinya di saku celana bapak. Gpp. Ada duit 50 ribu di genggaman. Dengan duit itu aku menelpon kawan SMP dulu. Gimana caranya? Mbuh, ra mikir akutuw. Aku ngajak, sebut saja nama kawanku Kumbang (21 th), untuk berlebaran ke rumah Mika, kawan SMP kami dulu yang kebetulan seorang cewe.

Mika baru aja menyelesaikan kuliah S1-nya di Yogyakarta. Kebetulan dia pulang kampung dan hadir pada waktu acara buka bersama dan reuni alumni SMP kemarin waktu bulan puasa. Mayanlah, pikirku lebaran tahun ini aku bisa bertemu Mika, gadis SMP idamanku dulu. Siapa tau bisa jadian. “Cie ciee cieee,” terdengar suara kecoak serentak menceracau dari bawah tempat tidurku.

Kumbang pun sampai di rumahku. Aku bergegas menghampirinya. Kami berangkat dengan rasa deg-degan berharap perjumpaan yang menawan dengan gadis idaman. Sambil belajar merangkai kata-kata untuk berbicara dengannya, Mika apa kabarnya? Minal aidzin wal faidzin ya, mohon maaf lahir dan bathin. Yaelah, ngomong beginian aja sampe belajar.

Sesampai di rumah Mika, aku terpana, ada perempuan berjilbab putih membelakangi pintu menanti kedatangan kami. Melihat dari parasnya, sepertinya itu Mika.
Subhanallah, cantiknya kau Mika, sungguh beruntung jika aku bisa memilikimu. Setelah perempuan berjilbab putih itu berpaling, seketika jantungku hampir copot ternyata itu emaknya Mika. Halusinasiku buyaaaar, kawan.

Setelah dipersilahkan masuk dan berbasa basi sebentar dengan emaknya, aku pun bisa bertemu dengan pujaan hatiku, Mika.
Aku : “Mika, udah lama pulkam?”
Mika : “Udah lumayanlah, Pras. Satu mingguan lebih kayanya.”
Aku : “Oh, iya bener. Eh, ga jalan sama cowonya Mik lebaran ini?”

(Ini pertanyaan modus standar yang sebenarnya pengen tahu status dia aja he he)

Mika : “Enggak punya, Pras. Sekarang aku nunggu ada yang ngelamar aja. Engga mau pacaran.”

Bahagia nya luar biasa mendengar jawaban itu, kaya Madridista merayakan Kemenangan Dramatis Real Madrid Vs Atletico Madrid waktu Final Liga Champion Silam. (Sorry, yang barusan juara Champion 2019 ini klub apa ya? Klub ga terkenal kayanya deh). Gak kebayang kawan, bahagia bangeeeet dah tahu Mika masih jomblo.

Setelah berbincang-bincang lama, aku dan Kumbang meminta pamit pulang, karena waktu juga sudah mulai senja. Setelah pertemuan itu, aku makin akrab dengan Mika, sering Chatting Via Whatsapp, jalan bareng dan ngopi bareng. Sampai ketika akhirnya Mika dan aku mempunyai rasa cinta dan ingin hidup bersama membangun mahligai rumah tangga yang samawa.

Betul kata orang-orang tua jika jodoh itu udah ada ‘yang ngatur’, manusia tinggal mempersiapkan diri aja untuk ikut aturan mainnya. Seperti itulah. Pertemuan yang singkat namun mempunyai arti mendalam aku alami dalam kisah perjalanan hidupku ini. Setelah beberapa minggu kemudian, aku memberanikan diri untuk melamar Mika.

Jari manisnya telah kuikat dengan cincin pertunangan. Itu adalah bukti cinta yang nyata, sebab aku terus ingin bersamanya selamanya. “Happy is the moment when we sit together with two forms and two faces, yet one soul.” Kebahagiaan adalah momen di mana kita duduk bersama dengan dua raga dan dua wajah, namun hanya satu jiwa. Begitulah kata Maulana Jalaluddin Rumi, seorang Sufi besar abad ke – 13 dari Persia. Dan kini aku mengalaminya kawan, doakan semoga tahun depan kami bersama dalam ikatan halal yang diridhoi, yakni pernikahan.

Tiba-tiba aku mendengar suara gaduh, “bang baaaaang bangunnnn udah siang, sholat Zuhur dulu bang..” Buset dah, ternyata Suara adikku membangunkan aku dari tidur, sambil menggoyang-goyang kakiku. Ya, Muqollibal quluub… gagal ni nikah sama Mika.. 😳😳

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai