kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

CINTA. ESTETIKA. LOGIKA. PUBG.

Author : Ziyad Ahfi

Memang tak bisa terelakkan. Jatuh cinta hampir pasti pernah terjadi pada masing-masing orang. Bagi siapa-siapa yang terlena dengan keelokan lawan jenisnya. Entah itu keelokan perilaku ataupun parasnya. Itu persoalan masing-masing. Karena itu hak prerogatif setiap orang. Mau yang gendut atau pun kurus. Mau pintar, mau goblok sekalipun. Kembali lagi, itu urusan masing-masing. Tapi kalau ditanya akan ku jawab sebuah ‘rahasia’ hehehe.. Kalau seandainya tidak saya rahasiakan, saya khawatir aja banyak yang naksir. Kan kasian rumah Onga Pikri di Bangkinang nanti kayak open house tiap hari.

Rasa itu tumbuh bisa di mana, kapan dan pada siapa saja. Kalau dikategorikan bisa banyak sekali jenis dan bentuknya. Ada yang jatuh pada pandangan pertama. Ada yang dimulai dari pura-pura sahabat. Sampai yang katanya tidak punya status tapi rasa pacaran. Ini yang sering tampak dan terjadi pada darah muda. Model lainnya carilah sendiri. Biar lebih mandiri. kayak ATM Mandiri yang selalu tegar walau dalam keadaan getir.

Selesai azan magrib berkumandang, iseng-iseng kulihat grup sebelum solat kutegakkan. Grup yang isinya anak-anak muda pecinta kopi, senja, pubg, dan sakit magh. Nama grupnya freeman. secara filosofis kita tentu mudah mengerti maksudnya. Ya, laki-laki bebas. Idealnya sih begitu. Tapi realitanya tidak. Kenapa? Karena semenjak pubg menyerang, pembahasan dari hari ke hari tidak lepas dari mabar (main bareng). Bahkan bila dihitung berapa kata mabar dalam chat grup itu otakmu bisa koslet. Dan, kalo hal itu dipikirkan dengan serius bisa jadi sebentuk kesia-siaan yang paling sia-sia. Lebih baik fokus pada pembahasan ‘jatuh cinta’. Kenapa dengan jatuh cinta? Ada apa? Kok tumben?

Eittsss…jangan ngegas dulu. Santuy. Pasti ada hubungannya. Ngopi dulu biar santuyy. Jangan lupa ududnya juga dipersiapkan.

Malam minggu adalah malam yang sangat sakral bagi member grup freeman. Sesakral cerita yang kalau cuma dibahas terus-menerus bisa menjadi mitos. Bukan hanya karena kami bagian dari IJO LUMUT (Ikatan Jomblo Lucu dan Imut), tapi karena kami juga ingin tetap solid dalam keadaan apapun. Meski dalam keadaan akhir bulan sekalipun. Sewaktu dompet lagi tipis-tipisnya kayak sisa tissue closet. Mau diambil sayang, takut yang antri selanjutnya ga kebagian. Kalo ga diambil tapi butuh. Dilematis bukan? Ya begitulah. Tapi pasti selalu ada keputusan untuk setiap pilihan.

Menjelang malam tiba. Dari informasi yang kubaca di grup magrib tadi. Si Riski memulai percakapan. “Woii..tar malem Kuyyy.” “Kuy, mau kemana neh?” sahut Dwiki. “Bolehtu. Ikutan dong. Gua ada saran nih. Ke angkringan depan kosan gua aja yuk.” balas Reza sambil cekikikan dan disambung emot senyum tanpa gigi.

Setelah saling sahut menyahut. Semuanya sepakat meng-oke-kan saran Reza. Saya pun ikut nimbrung. Bukannya tak punya pendirian. Untuk masalah tempat biasanya memang Reza yang sering menyarankan. Biasanya yang lain setuju-setuju saja.

Di tengah gelapnya malam. Pukul 22.00, saya berjalan menyusuri gang kosan dengan segala kesunyian dan kehampaannya. Tiap lewat di gang itu selalu diri yang hina ini bergeming dalam hati, “seperti hatiku aja ini gang..”

Melewati jalan raya lalu tiba di tempat tujuan. Saya sedikit terlambat. Anak-anak sudah menunggu. Karena untuk masalah ini memang saya sudah dicap sebagai pendusta milenial kelas rendah. Karena setiap ditanya, “udah dimana? “woi dimana lu?!” Saya selalu jawab, “iyanih otewe” padahal baru mandi. “Uda deket..” padahal baru jalan ha ha ha.. Kalian juga begitukan? Hayoo ngaku. Jangan ngaku anak tongkrongan kalo nggak pernah begitu. Kalo pun ada, berarti kalian harus diberikan hadiah sepeda dari Pakde. Eh, kalo itu bukannya yang menjawab pertanyaan lima nama ikan itu ya. Upss lupa.

Selang beberapa lama kedatangan saya. Suasana sempat gaduh. Tensi bicaranya si Rizki mulai naik turun. Ternyata lagi berdebat hebat dengan Dwiki.

Riski memang dikenal angkuh dalam soal percintaan. Karena ia berkali-kali mampu meluluhkan hati wanita walau berujung kandas di tengah perjalanan. Perdebatan dimulai berawal dari Dwiki memotong pembicaraan Riski pas lagi asyik-asyiknya menguraikan kisah cintanya yang baru kemarin mendapat sang pujaan hati baru. Nemunya di Perpus. Kayak di film-film itu loh. Saling memandang di antara dua rak yang tersisa sedikit ruang pandang. Ahh.. syahdunya. Jadi inget film india.

“Cinta mulu lo! Bosen gua dengernya. Emangnya gak ada pembahasan laen apa!? Berasa cowok paling ganteng lu” potong Dwiki

“Lu ga ngerti Ki apa yang gua rasain. Beda Ki bedaa.. Gua curhat gini harusnya lu sebagai sahabat seneng dong.” Timpal Riski

“Bukannya gitu Ris. Omongan lu tuh uda ga masuk akal. Dikasih saran yang masuk akal lu tetep ngigauin gitu aja. Inget bro.. Cinta yang berlebihan itu mampu merusak akal. Lu kalo sekalinya jatuh cinta ga bisa diem. Dikit-dikit menghayal. Dikit-dikit senyum-senyum sendiri. Sekalinya ngomong ya itu-itu lagi. Puitis lah, alay iya, bikin eneg tau!”

Di tengah-tengah perdebatan. Reza mulai gerah. Berniat ikut masuk ke dalam k̶̶a̶̶n̶̶t̶̶o̶̶n̶̶g̶̶ ̶̶p̶̶l̶̶a̶̶s̶̶t̶̶i̶̶k̶ obrolan. Harap-harap cemas. Ingin menjadi pahlawan kesiangan. Mampu menjadi pemberi solusi konkret.

“Stop! Tenang, brother. Ga enak didenger orang. Pelan-pelan aja ngomongnya. Lu jangan kaya bocah baru kenal cinta Ris. Gausa alay. Lu juga Ki. Ngingetinnya ga bisa santai apa? Lu ga liat rame orang di sini?”

Karena tidak terima sikap sok bijaksananya Reza. Mereka berdua geram. Jika diperhatikan dari raut wajahnya Nampak ingin siap-siap baku hantam. Memerah, jidat mengkerut, kepalan tangan siaga satu.

Saya yang sedari tadi diam saja mulai cengengesan. Melihat tingkahku seperti itu mereka bertiga serentak memandang. Dalam benak tiba-tiba terlintas perkataan, sialan.. saya kira malam ini pubg-an. Taunya harus siaga satu buat baku hantam. Memang anak muda baru kenal cinta. Kayaknya perlu kuberi sedikit obat penenang.

Pelan-pelan saya pun mulai menarik nafas dalam-dalam sebelum memulai pembicaraan. Takut salah bicara urusannya bisa panjang. Bermodalkan sedikit pengetahuan dan mental percaya diri, saya memberanikan diri memulai basa basi di depan orang-orang bersumbu pendek ini. Sebuah rahasia telah siap untuk diungkapkan di malam minggu yang keramas (eh, itu t bukan s) ini.

“Bro, kita udah gede. Harusnya saling mengerti satu sama lain. Ga perlu memaksa temen sendiri buat harus ikut apa yang lu yakini. Biarlah kita merdeka dengan apa yang kita masing-masing anggap benar. Bukannya lu semua pernah ngerasain jatuh cinta? Waktu itu apakah akal lu sehat semua? Kan ngga juga bro.. Pas lu semua jatuh cinta, gua tau persis tingkah laku lu semua. Sama-sama hampir menjadi budak nafsu lu sendiri. Memang cinta mempunyai magnet kuat. Yang sakit bisa sembuh. Yang sembuh bisa sakit. Yang waras bisa gila. Yang gila pun bisa waras. Semua berkat kekuatan cinta. Tapi, tergantung lu mau memposisikan diri ada di bagian mana. Semua tergantung kontrol diri. Lu tau kenapa gua dari tadi diem aja? Karena bagi gua cinta itu masuknya ke dalam ranah metafisik. Jangkauannya soal estetika. Makanya ranah logika sulit masuk kesana.

Kok gitu? Gini bro.. Estetika itu soal rasa. Dan, setiap orang memiliki rasa yang berbeda. Apa yang lu rasain pasti beda dengan apa yang orang lain rasain juga. Terlebih lagi lu benturin sama kebenaran logika. Makanya ga nyambung.
Logika ya lawannya juga logika. Itu sebabnya perdebatan lu ga berujung.
Karena lu ga bisa memposisikan kebenaran pada levelnya.

Ada lagi bro yang juga disebut kebenaran selain estetika dan logika. Mau tau gak? Nih bro, apa yang disebut dengan kebenaran etika. Ini soal intersubjektif kita. Kesepakatan di antara kita. Kalau memang dari awal kita sepakatnya main pubg. Yauda itu dasar etikanya. Gausa bahas yang lain-lain. Okeee brooo?? Damaaiii?? Kalo masih mau baku hantam juga kita lanjutkan lewat online aja oke? Lanjutt pabjiiiiii?????”

Mendengar pemaparan saya tersebut semuanya tercengang dan sesekali mengangguk. Anggap saja semuanya sepakat. Karena tak ada yang membantah kecuali perkataan, “oo iya juga ya.” Selepas itu jidat mereka kembali tanpa garis, muka yang keruh perlahan mulai jernih, kepalan tangan semakin terbuka. Yang penting semuanya treaak..

MABAR KUY MABAR! DAMAI DAMAI!! LOGIN LOGIN!!!

Kisah ini pastinya fiktif. Nama Riski, Dwiki, dan Reza itu saya ambil dari nama lengkap seorang kawan. Nama aslinya lebih panjang lagi, Riski Dwiki Reza Usman. Kenapa tokoh Usman gak disebut? Ya kalian mengerti dengan sendirilah. Demi menjaga kode etik nama Bapak. Kayak jaman SD aja ngatain nama Bapak hehe..
Belio Mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Jambi. Lumayan jauh dari saya yang terdampar kuliah di Jogja ini. Kawan saya ini mungkin satu-satunya mahasiswa yang berani ngechat dosen kayak temen sendiri. Bisa jadi beliau ini berpegang teguh pada prinsip egaliter. Apapunlah itu. Anggap saja iya. Jika diukur dari apapun, belio ini punya segalanya. Termasuk cara meluluhkan hati wanita. Pokonya DM aja IG-nya untuk konsultasi lebih jauh dan dalam @picezhut.

Terima kasih juga sudah menghabiskan waktu 3 sampai 5 menitnya untuk merenungkan kisah ini. Selamat bermalam minggu, Kawan.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai