Author : Herman Attaqi
Tentu saja ini bukan tentang kata-kata Rosemarie Urquico, “berkencanlah dengan perempuan yang membaca, atau lebih baik lagi, dengan perempuan yang menulis.” Walaupun titik tekan pernyataan itu, bisa jadi, pada soal betapa hebatnya aktifitas membaca dan menulis, tapi kenapa mesti dikaitkan dengan perempuan dan kencan-mengencan? Gila aja.
Di dinding kelas waktu SD dulu, saya terbiasa membaca kata-kata mutiara yang ditulis dengan font di mana Times New Roman belum ditemukan, dengan aksesoris bunga-bunga terpampang kalimat, “pikir itu pelita hati”, “buku adalah jendela dunia” “berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian” dan banyak lagi yang lain. Setiap hari kalimat-kalimat itu saya baca, mula-mula dieja pelan-pelan, lama-lama cuma sepintas lalu, dan saya semakin tak mengerti, tepatnya tak mau tahu apa maknanya kecuali sebagai sesuatu yang harus ada di setiap dinding-dinding kelas. Seperti sekolah, kadang tak menjelaskan apa-apa, tapi kita tetap harus sekolah, biar dianggap seperti orang-orang.
Saya meyakini sekali bahwa saya dibentuk, sebagiannya, dari buku-buku yang pernah saya baca. Buku, bahkan, adalah jejak masa lalu yang meninggalkan banyak bentuk dan isi di kepala. Sewaktu sengaja memilih jurusan bahasa di SMA, saya lebih banyak membaca novel terbitan Balai Pustaka. Membaca isi kepala para Pujangga Baru se-angkatan Marah Rusli, memandang dunia dalam bingkai hitam putih, berakhir penuh tragedi bagi orang-orang baik dan naif seperti Siti Nurbaya dan tentu saja sang fenomenal Datuk Maringgih, sebagai tokoh antagonis tua yang culas dan rakus, barangkali persis seperti prediksi kapitalisme Karl Marx di saat ‘kehancurannya’ justru ketika berada di puncak kejayaan yang menimbulkan banyak kontradiksi, yang makin rumit di dalam dirinya. Pada sebagian kegagalan peradaban dan juga manusia, kita pun belajar bahwa sebagian besarnya dikalahkan oleh dan dari dalam dirinya sendiri, sisanya oleh wabah penyakit, bencana alam dan peperangan.
Saya beruntung punya Ayah yang pandai beretorika, kaya dalam diksi, dan terutama suka membawa oleh-oleh koran dan buku cerita apa saja untuk dibaca. Saya ingin menjadi seorang Ayah sebagai mana Ayah menjadi Ayah bagi saya. Seorang Ayah yang Pegawai Negeri Sipil (sekarang diganti Aparat Sipil Negara meski isinya itu-itu saja) itu malah sibuk sok-sokan jadi juru foto hanya karena ingin menyaksikan anaknya berorasi dalam demonstrasi melawan pemerintah yang ia berada di dalamnya, mungkin saja karena ia pun suka berorasi. Tapi baru kali ini saya berani mengutarakan jika dulu saya suka diam-diam mengidolakan Ayah, tidak hanya, dalam hal literasi dan retorika tentunya. Itu pun setelah 5 tahun ia meninggal dunia. Seperti rindu, seperti pula seorang platonic yang merindu, yang berulangkali di ucapkan kata rindu, tapi tetap tak terucap saat bersemuka. Pernah sekali waktu dalam hidup saya menelpon Ayah dalam keadaan menangis, yang kemudian saya dengarkan justru sebuah ungkapan, “kami tak pernah berkecil hati denganmu. Selalu saja yang terkirim hanya doa kebaikan buatmu.”
Setelah berjarak dengan anak-anak, saya pun memahami kalimat Ayah itu sebagai satu-satunya ketulusan yang pernah ada dalam dunia ini. Berikut juga beserta penyesalan yang saya ungkap sebagai pemicu dari reaksi ketulusan itu, beserta hal-hal yang tak kan pernah terungkap, biarlah terpendam.
Ayah, dengan kekuatan bahasa dan imajinasi yang ditularkannya, seperti George Orwell dalam novel 1984 yang mengatakan, “jika ingin menghancurkan satu kebudayaan, hancurkan bahasa dan imajinasi anak-anaknya.” Buku juga yang membentuk struktur bahasa dalam diri saya, sekaligus bagaimana saya bisa membangun dunia di kepala dengan imajinasi. Puthut EA, Kepala Suku mojok.co, di akun twitternya mencuitkan, “setiap orang punya keterbatasan. Bagi seorang penulis, keterbatasan imajinasi, narasi, metafora, sampai diksi adalah keterbatasan yang harus segera diatasi. Ga perlu ikut-ikutan lazimnya netizen bermulut cekak.” Juga Zen Rahmat Sugito, editor at large tirto.id, mengatakan, “yang berbahaya dari menurunnya minat baca adalah meningkatnya minat berkomentar.” Itulah barangkali makna “buku adalah jendela dunia” di dinding ruang kelas saat Sekolah Dasar dulu, yakni memberikan kita sebuah sudut pandang yang terbuka, dari sebelumnya hanya pikiran yang terkurung di balik tembok, meskipun melihat dari jendela barulah melihat dari satu sudut. Namun, setidaknya, kita sudah mulai melihat.
Saat mahasiswa, saya mulai menemukan pengalaman bahwa pilihan buku bacaan bisa menimbulkan pergolakan dan pertentangan yang cukup keras, lalu bergeser ke pertentangan antar organ mahasiswa, terus ke pertentangan paling receh soal kepalan tangan kanan atau kiri, bahkan seorang kawan yang awalnya seorang aktifis mahasiswa islam yang kemudian menjadi aktifis NGO yang isinya orang-orang yang menyukai buku sosialis malah suka mengepalkan kedua tangannya. Saya dengar dari senior jika hal ini disebut sebagai benturan ideologi. Istilah yang kemudian hari membuat seorang mahasiswa imut yang cuma baca bagian cover belakang buku untuk modal berorasi ini bisa menuliskan esai dengan cengengesan.
Saya suka mempelajari filsafat dan semua hal yang berkenaan dengan pemikiran. Maka tak heran, dari pemikiran paling kanan hingga ke kiri saya pelajari, dari buku Ma’aalim fii ath-Thoriq-nya Sayyid Quthb yang menyebabkan nyawanya berakhir di tiang gantungan rezim Mesir waktu itu, hingga buku-buku tentang Materialime, Dialektika dan Historis-nya Karl Marx, semuanya saya baca sebagai sebuah cara untuk melihat dunia dari balik jendela. Saya selalu terpesona membayangkan anak muda seperti Tan Malaka dengan segala keterbatasan akses teknologi dan informasi pada zamannya sudah memiliki pandangan yang sangat luas tentang rakyat dan juga negara. Ia tak lagi melihat dari jendela, tapi bergerak dan bergerilya memandang luasnya cakrawala dunia, dari Sumatera, Jawa, Asia bahkan ke Rusia. Idenya tentang negara telah mengalami lompatan yang sangat jauh dari usianya, dan diperjuangkan dengan segala resiko Dari Penjara ke Penjara hingga berujung kematian. Tan Malaka adalah seorang pembaca, penulis, pemberontak, pejuang, dan juga pahlawan, meski pada sebagian orang, ia juga dianggap kebalikannya dan mesti dihabisi.
Suatu ketika, dengan sedikit becanda, Rahmi Hatta pernah mengatakan bahwa Bung Hatta itu isterinya ada tiga, yakni saya, sajadah, dan buku. Cerita tentang Bung Hatta dan buku agaknya sudah seperti legenda, karena betapa susahnya menyaingi kecintaan si Bung yang zakelijk dan penggila buku level ‘sakit jiwak’ ini. Kalian bisa bayangkan 16 peti buku diangkut kemana pun Bung Hatta pergi, dari Belanda ke Jakarta, lalu ikut ke Boven Digul, dibawa kembali ke Jakarta, ke Banda Neira, dan ke Jakarta lagi. Seandainya seluruh backpacker di dunia ini bersatu, tulis Prima Sulistya dalam esainya, tak kan mampu mengalahkan Bung Hatta seorang diri dalam hal traveling!
Sekali lagi, begitulah buku membentuk pengalaman sebagai dasar empiris seseorang, meski saya pun tak ada soal dengan orang-orang yang tak pernah membaca buku seumur hidupnya. Itu urusannya. Dan mereka juga tak ada persoalan sepertinya tanpa membaca buku, sebagaimana yang dikatakan oleh AS Laksana, “bahkan seumur hidup tidak membaca buku pun tidak menjadi masalah. Banyak orang membuktikan hal itu. Mereka tetap hidup seperti pohon-pohon: tumbuh tinggi, kadang-kadang memperdengarkan bunyi berisik pada saat angin bertiup sangat kencang, dan tidak membaca buku.” Aku pikir setiap orang berhak dan bebas saja memilih untuk hidup sebagai apa, baik sebagai pohon atau pun sebagai bungkus plastik indomie goreng.
Yang paling penting dari perbuatan membaca buku adalah perbuatan yang kita lakukan setelahnya. Apakah seperangkat pengetahuan yang kita peroleh dari membaca itu mampu dijembatani ke dalam gerak kehidupan atau tidak? Jembatan itu lah yang disebut ide dan gagasan. Lalu, bagaimana mematerilkan ide itu, tentu dibutuhkan perjuangan, kerja keras dan juga nyali.
Saya telah membaca beberapa buku, mungkin sudah ribuan. Tapi, saya adalah pembaca yang gagal dalam membangun jembatan setelahnya. Belum ada satu hal pun yang telah saya lakukan dalam usaha dan juang mematerialisasikan segenap pengetahuan yang saya peroleh dan yang bisa saya yakini. Sampai di situ saya berusaha menyembunyikan pertanyaan, “apakah lebih baik saya menjadi pohon saja?”
Banyak orang pernah meyakini suatu hal, lalu kemudian membencinya. Seperti banyak orang berusaha mati-matian ingin mendapatkan sesuatu, kemudian setelah didapatkan, ia tak menginginkannya lagi. Inilah, barangkali, yang membedakan manusia dan pohon. Manusia adalah makhluk dinamis, tumbuh dan bergerak, punya kehendak, serta berubah-ubah. Maka amat wajar sekiranya hari ini kita meyakini A, besok B, lusa C, dan seterusnya. Apakah itu sikap yang plin plan? Itu bukan sikap, tapi pemikiran yang berkembang sesuai informasi dan pengetahuan yang diperoleh. Semua hal itu mestilah diuji dalam dialektika kehidupan. Ide, bukanlah sebuah ide jika tak bergumul dengan kenyataan. Sedang kenyataan seorang manusia saja begitu dinamisnya, apalagi kenyataan ratusan, ribuan, bahkan milyaran umat manusia yang merentang sepanjang ruang dan waktu.
Saya pernah gagal dalam kenyataan, menanggung malu, bahkan menyimpan dendam dan rasa benci pada sesuatu dan beberapa orang. Kegagalan dan kebencian yang mengharuskan saya untuk membaca ulang banyak hal, bahkan saya kembali membaca ulang buku-buku yang telah lama saya pelajari. Ada adagium yang menyatakan, di setiap kegagalan dalam praktek, coba periksa kembali teori-teorinya, bisa jadi kegagalan itu disebabkan oleh teori yang salah dipahami. Paling kurang, saya ingin seperti dalam lirik lagu I Won’t Give Up yang dinyanyikan Jason Mraz, “i had to learn what i got, and what i’m not, and who i am.”
Dulu, saya menyimpan benci dan dendam kepada beberapa orang, bahkan kawan-kawan yang pernah begitu dekat dan saya anggap sebagai saudara sendiri. Saya pun membaca kembali, selain perjalanan hidup, juga buku-buku. Melihat lebih luas tidak hanya lewat satu jendela, bahkan keluar dari ‘ruang kelas’ untuk melihat halaman dunia yang luas. Juga melihat ke dalam diri saya sendiri. Mencoba menerima hidup sebagai suatu kenyataan dan dengan segala baik buruknya.
Saya mengikuti ide, bukan manusia, dan memberontak terhadap kebiasaan untuk mewujudkan prinsip dalam diri seorang manusia, ke dalam diri saya sendiri. Seperti yang dikatakan oleh AS Laksana, “Anda bisa kehilangan apa pun, tapi Anda tak mungkin kehilangan pengetahuan, karena itu satu-satunya pada diri kita yang tidak bisa dirampas oleh siapa pun.”
Apakah saya akan tetap membenci? Tentu saja tidak, meski tak semudah itu. Namun, dari buku-buku lah saya mulai mendewasakan pikiran-pikiran, yang mengajarkan banyak hal bahwa obat dari kebencian adalah belajar memaafkan. Obat dari penyesalan adalah mengakui kesalahan. Saya menemukan dua kata, memaafkan dan mengakui kesalahan, sebagai subyek yang sekarang dan di masa yang akan datang menemani saya belajar untuk menjadi manusia yang lebih berarti. Seperti penggalan puisi Chairil Anwar, “sekali berarti, sudah itu mati…”

