kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Sindrom Cinderella Complex dan Kebaperan Perempuan se Jagad Raya terhadap Drama Korea

Author : Puan Seruni

‌Kim Young­ Ho, lelaki tampan bertubuh tinggi dan atletis adalah seorang pelatih pribadi untuk bintang Hollywood. Sosoknya menjadi misterius karena ia memang menyembunyikan jati dirinya. Ia tak ingin diketahui keberadaannya oleh keluarga besarnya di Seoul. Meskipun berasal dari keluarga kaya raya, namun Young­ Ho memiliki kenangan buruk di masa kecilnya.

Kang Joo­ Eun perempuan yang pernah menjadi idola di masa remaja di Daegu. Ia memiliki wajah cantik dan sosok yang terus diburu pencari bakat. Tapi, sekarang ia tak lebih dari seorang pengacara berusia 33 tahun, hidupnya penuh beban sebagai tulang punggung keluarga. Sejak ayahnya meninggal, ia menjadi tumpuan ibu dan adiknya. Terutama untuk memodali usaha rumah makan yang dirintis keluarga mereka. Parahnya kini Joo Eun berbadan gemuk dan tak kunjung dilamar. tragisnya, justru ia menerima kenyataan pahit, tepat di hari anniversary ke-13 tahun pertunangan mereka. Lelaki yang menjadi kekasihnya sejak masih SMA di Daegu memutuskan hubungan. Kang Joo Eun yang diketahui memiliki masalah kesehatan serius yang diakibatkan oleh faktor psikis itu, kemudian ditugaskan ke Amerika. Saat perjalanan pulang, Ia pingsan di pesawat dan diselamatkan oleh Kim Young Ho yang berusaha menyembunyikan kepulangannya.

Keduanya mulai mengalami konflik kesalahpahaman. Namun Young Ho akhirnya paham Kang Joo Eun membutuhkannya sebagai pelatih kebugaran sekaligus penyembuh penyakit emosionalnya. Ia melihat sendiri bagaimana sedihnya Joo Eun melihat mantan kekasihnya ternyata sudah memiliki perempuan lain. Young Ho bertekad membantu Joo Eun sukses dengan diet ketat dan latihan kebugaran yang tepat. Kedekatan keduanya kemudian menumbuhkan kepedulian, dan tentu saja, rasa cinta. Apalagi setelah Kang Joo Eun telah berubah menjadi langsing dan terlihat lebih cantik seperti masa saat ia menjadi idola di sekolah dulu. Namun konflik kemudian terjadi, antara perbedaan strata keluarga, perjodohan, persaingan jabatan, kecelakaan mobil yang memperparah kondisi psikis Young Hoo. Keduanya harus terpisah sekian lama, tanpa ada komunikasi. Harapan serta perjuangan Kang Joo Eun menunggu dengan setia pada kekasihnya itu sampai sembuh dan kembali ke Seoul tetap terjaga. Ia rutin menjaga kesehatannya dengan berlatih dan mengikuti saran Kim Young Ho selama ini. Hingga akhir cerita yang manis pun terjadi dan membuat terharu, keduanya kembali bertemu dan Kim Young Ho memutuskan melamar Kang Joo Eun dengan sebuah cincin yang selama ini ada di dalam syal yang dirajut Kim Young Ho khusus buat kekasihnya itu selama masa pemulihan di Amerika.

Kisah cinta Kim Young Ho dan Kang Joo Eun dalam serial Oh My Venus atau Daegu Venus (judul versi Korea) yang diproduksi tahun 2015 lalu sesekali masih saya tonton ulang. Apalagi So Ji Sub (pemeran Kim Young Ho) merupakan aktor Korea favorit saya. Meski dari bilangan usianya sudah termasuk ahjussi dan bukan oppa-oppa lagi, pesona Ji Sub-nim yang cool dan rendah hati bagi saya tetap luar biasa. Setia jadi fansnya sejak nonton Law Firm (2001) dan Something Happen in Bali (2004).

Sampai di usia sekarang ini, yang namanya nonton drama Korea tetap jadi aktivitas saya di kala senggang meskipun tidak semasif dulu. Masa di mana saya bisa nonton one season per malam setelah berburu DVD-nya berjam-jam. Artinya keseluruhan episode ditonton kebut seharian. Bangun pagi dengan segala aktivitasnya, setelah selesai mulai nyalakan DVD atau hasil unduhan di laptop, mulai nonton sampai mata berasa sepet. Tentunya dilakukan pas akhir pekan atau libur di tanggal merah. Tidak hanya dari Korea, saya juga menggemari melodrama Jepang, Tiongkok dan sesekali Thailand. Ada persamaan budaya dan konflik sosial yang menarik untuk disimak di dalamnya, selain wajah-wajah pemainnya yang rupawan dan karakter tokohnya yang menyenangkan. Jalan ceritanya semua seperti K-Drama (sebutan untuk drama Korea), simpel, konfliknya menarik, kemudian alur cerita dan skenarionya bagus, dan tidak membosankan. Episode K-Drama juga tidak seribet sinetron kita dan sepanjang serial India yang mencapai ratusan lebih dengan banyak adegan yang tidak rasional. Satu lagi, tanpa close up sana-sini bergantian menyorot wajah aktornya yang plotot-plototan, sinis-sinisan, bengis-bengisan sambil ngomong dalam hati tapi suaranya terdengar jelas sama penonton, dengan iringan musik yang, niatnya sie, memicu tensi. Jejeeeng, jejeeenng… (gitu aja terus sampe iklan nongol 😅)

Witing tresno jalaran soko kulino, kata orang Jawa. Demikian pun saya terhadap K-Drama ini. Intensitas menonton boleh berkurang, tapi ada banyak hal menarik yang telah diamati dan dituliskan dalam catatan kecil sepanjang menjadi penggemar K-drama. Tak hanya suguhan budaya, karakter, kuliner Korea bahkan tema cerita juga akhirnya menjadi hal yang diperhatikan. Terpikir oleh saya, betapa sebuah ide tentang impian sebagian besar perempuan di dunia ini ternyata masih menjadi peluang yang sangat menjual. Dikemas dalam tontonan yang apik dan pemerannya serba menarik dari segi fisik. Siapa sih yang gak baperan? Disuguhi cerita lelaki kaya, tampan, berperilaku baik, kesepian, mencari jati diri, bertemu dengan gadis yang hidupnya susah, teraniaya, tapi wajahnya cantik dan lucu. Lengkap dengan konflik batin, sosial dan aksi yang menggemaskan. Stereotipe yang amat lazim dijumpai dalam melodrama Asia. Bahkan kita pun latah mengadaptasinya dalam FTV, dengan kenyataan yang tak seindah judulnya yang aneh itu (monggo di Gogling ajah, ga tega saya nulisnya disini 😅)

Semakin ke sini, karakteristik a la Cinderella yang terdapat hampir di semua serial digambarkan jauh lebih beragam, bermartabat, cerdas, unik dan tidak melulu berdarah-darah dalam kesusahan atau kemiskinan. Pokoknya lebih manusiawi. Seperti tokoh Kang Joo Eun yang diperankan Shi Min Ah dalam Oh My Venus yang saya tulis di pembukaan tulisan ini. Tapi tetap saja menunjukkan indikasi bahwa memang sebagian besar perempuan di dunia ini memimpikan hidupnya mengalami keajaiban seperti kisah Cinderella. Sebuah titik balik yang stereotipe. Dipersunting pangeran (gambaran laki-laki ideal sejati, tampan, gagah, baik dan kaya raya) dan semua masalah hidup pun terselesaikan. Happily ever after pokoknya. Gak akan mikir biaya hidup, biaya belanja, makan, uang sekolah anak, apalagi cicilan kulkas dan urusan remeh temeh lainnya. Semua tercukupi lahir dan mungkin batin. Seorang terapis asal Amerika Serikat, Collen Dowling menamakan sindrom ini sebagai Cinderella Complex dalam bukunya yang berjudul The Cinderella Complex.

Singkatnya, Cinderella Complex yang dimaksud Dowling merupakan kajian yang membahas konflik antara karakter kemandirian dan kondisi psikologis wanita. Meski belum bisa dikategorikan secara resmi sebagai kondisi psikologis, namun apa yang diulas Dowling dalam buku tersebut sangat menarik untuk dipelajari.

Ulasannya begitu kompleks sesuai nama sindromnya. Bahwa sebenarnya pemikiran wanita yang ingin hidup seperti Cinderella itu dipengaruhi oleh berbagai faktor. Yang paling utama ternyata adalah pola asuh orang tua pada anak perempuan. Kebanyakan orang tua kurang mendukung dalam mendidik anak perempuannya menjadi mandiri. Rasa khawatir dan pengaruh budaya patriarki membuat anak perempuan dididik lebih terbatas dibandingkan anak laki-laki. Anak perempuan yang memiliki paras dan bentuk fisik yang bagus, tanpa sadar diiming-imingi oleh sebuah stigma bahwa mereka tumbuh besar menjadi perempuan yang bisa memikat laki-laki yang juga rupawan dan memiliki kondisi finansial yang lebih baik. Sehingga secara emosional, banyak akhirnya perempuan keberatan memiliki komitmen dengan kemandirian. Salah satunya ya berharap punya suami berpenghasilan dan berkedudukan tinggi, selain tampan dan gagah tentunya, seperti kisah dongeng dan serial drama Korea.

Tentu sangat disayangkan ya, jika kemudian potensi perempuan tidak berkembang karena hal tersebut. Sayangnya, hal itu berlanjut terus menerus dan turun temurun. Kebahagiaan perempuan dibatasi oleh garis gender, kondisi fisik dan pandangan picik masyarakat yang masih belum bisa membantu perempuan berkembang dari segi isi otaknya. Ah, mendadak saya jadi geregetan sendiri nih 😅

Betapa perempuan saat ini kondisinya meskipun sudah maju, sudah modern dan sebagian sudah mandiri tetap saja masih terkotak-kotak. Antara cantik dan cerdas disebagian besar pandangan masyarakat kita itu masih sangat berbeda. Jika memiliki keduanya juga merupakan suatu hal yang tidak disukai. Dianggap sebagai saingan bahkan jauh dari kata layak sebagai pendamping hidup. Nah serba salah kan? Idealnya sih menurut saya, perempuan harus menjadi lebih berprinsip saat direndahkan dengan anggapan-anggapan seperti itu. Jika berhadapan dengan laki-laki yang takut dengan pendidikan tinggi, mestinya perempuan tersebut juga tidak memilih laki-laki yang takut sama perempuan yang berpendidikan. Iya kan? Tapi, tentu itu bukanlah hal yang mudah. Faktor lingkungan dan budaya lagi-lagi berperan besar mempengaruhi pemikiran perempuan tentang sebuah titik balik yang diharapkan terjadi dalam kehidupannya. Proses yang menurut saya menggelisahkan, karena menuruti gambaran ideal masyarakat yang masih menganggap perempuan ideal itu piawai di dapur, kasur dan sumur, tentulah bertentangan dengan nurani.

Dampaknya mampu menyurutkan potensi diri perempuan termasuk kemandiriannya. Jadi tidak heran jika kemudian banyak perempuan yang potensial menjadi bagian yang menunggu datangnya titik balik hidupnya menjadi Cinderella dalam berbagai versi. Duh, jangan-jangan saya juga termasuk di sana. Soalnya suka menghayal juga bisa punya suami kaya So Ji Sub atau Jang Dong Gun. Eh, lah…😅

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai