Author : Herman Attaqi
Langit seharian mendung, namun udaranya kering dan menyengat. Keringat meleleh, lengket di sepanjang kening, leher, lipatan dada dan perut, lalu menggenang di lobang pusar. Kau selalu mengira sabun cair Lifebuoy itu bisa menyebabkan lengket-lengket jika diterpa terik matahari. “Sabun sialan, menang iklan doang. Goblok!”
Namun, siang ini adalah hari di mana kau akan memberikan hadiah ulang tahun hubungan percintaan dengan kekasihmu. Keringat yang lengket bukanlah hal yang sia-sia untuk ditanggungkan tentu saja. Sejak semalam begadang menyelesaikan sebuah puisi sebagai bukan kejutan. Kenapa hanya puisi? Karena, selain kemiskinan, hanya itu yang bisa kau beri. Sebuah puisi yang sekali lagi ingin kau baca dengan cermat.
kau bukanlah sekuntum mawar
kita pernah bercerita, tentang teori cahaya dari buku-buku einstein yang kau bawa. dan kulihat matamu adalah jendela cakrawala yang jauh, di sepanjang jalan yang tak lelah kita tempuh. berpuluh peluh. bergenang kenang, tentang bulir-bulir embun di pucuk mentari. “bukankah itu rumah impian kita?”
aku ingin kembali pada masa dulu yang tak berjarak. sebagaimana empedocles berkata pada kekasihnya di sicilia. sembari duduk di sebuah bangku tinggi di atas tanah yang merekah. “aku tak yakin jika semua hal bisa berubah.” dan bulir-bulir embun itu juga tak lagi tampak, tapi tak pula hilang, karena beningnya menyatu cahaya. pada mata. pada batin kita.
kau bukanlah sekuntum mawar, mekar dan layu. aku juga bukan kayu, kokoh dan terbakar. kita adalah air, angin, api dan juga tanah. yang tak berubah tapi merubah, kepada azali. lebih terang dari cahaya, dan lebih temaram dari senja.
—
Pak Tua Chan, satu-satunya, kawanmu yang tersisa, bercerita tentang isterinya yang sudah 8 tahun ini hanya terbaring dan lemah karena komplikasi penyakit di tubuhnya. “Sebenarnya sudah tak tertolong lagi Bung. Tapi kematian seperti Menunggu Godot, justru tak pernah sampai ke rumah kami. Aku pun kadang berpikir, kenapa bukan aku saja yang mati?”
Dia mengambil sebatang rokok Surya dan menawarkan padamu, “mari merokok dulu, Bung. Apa kau pikir hanya kebahagiaan saja yang berhak dirayakan? Dengan sebatang rokok ini, kita juga bisa mengkhayal tentang kehilangan seseorang dengan sebuah senyuman.” Kau pun memantik korek dan menghisap dalam-dalam rokokmu sembari berkata, “aku tau kau sedang menghiburku Pak Tua. Aku baik-baik saja. Aku tak pernah kecewa dengannya meski tak pernah datang mengunjungiku, bahkan di hari ulang tahun hubungan kami. Aku cuma menyesali satu hal, dia tak sempat menerima puisiku.”
Kau pun meminta Pak Tua membacakan sebuah puisi yang baru saja kau tulis, “ini puisi yang baru. Tolong bacakan buatku. Aku ingin meresapi kata-katanya.” Pak Tua senang diminta membaca puisi, karena dulu ia adalah seorang penyair yang gagal. “Inilah saatnya menunjukkan eksistensiku yang sebenarnya,” pikirnya.
sampai aku
sampai aku terbiasa dengan kesunyian. dari lalu lalang degup jantung. hidup adalah refleksi gerak ritmis yang konstan. karena ia berulang datang dan hilang.
sampai aku tabah menanti kereta terakhir. di antara masinis dan pedagang yang letih, aku berdiri bersandar pada ingatan yang jauh.
sampai aku berhenti di stasiun terjauh. bertemu dengan hidup yang jemu. kerumunan kekasih dan sopir taksi yang bernyanyi.
sampai aku menjelma menjadi rel yang diam. berhenti bicara tentang laku profan, tanpa mengerti jika hidup adalah memberi jalan bagi yang tak ingin kembali.
—
Ponselmu berdering. Ini senja yang ke sekian dan cangkir kopi yang entah ke berapa. Secangkir kopi dan kau, ibarat Dante dan hari kiamat, atau bisa juga seperti tukang parkir dan pluit, selalu setia bersama dalam hubungan yang absurd. Panggilan masuk dari, Rosita, kakak perempuanmu, “halo, Dik. Sidang perceraianmu baru saja selesai. Kau telah dinyatakan sebagai duda. Aku tak tahu harus mengucapkan apa dan bagaimana. Aku cuma ingin menangis saja. Semoga kau tabah.”
Masih ada waktu 30 menit menjelang magrib pikirmu. “Baiklah, Kak. Aku baik-baik saja. Nanti aku buatkan sebuah puisi, tolong diposting di beranda facebookmu saja.”
Semenit menjelang azan magrib, Kak Rosita memposting sebuah puisi yang baru saja kau tulis.
senja telah usai
aku menulis puisi
tapi tidak tentang rindu
karena isi hati telah pergi
pada satu bait yang lalu
di tepi senja kulihat nelayan
melempar sauh tanda pulang dari jauh
usai sudah kembara berjalan
saatnya sajadah dihampar bersimpuh
jika semua peluh kau balas keluh
tak mengapa jua hati takkan iba
ayah menitipkan aku pada laut yang angkuh
hingga serapahmu hanya buih kujumpa
senja hanya ingatan sepenggal
sebentar saja bertukar gulita
siapa menabur luka menabung sesal
menuba hidup mengubur cinta
—
Ini senja yang cerah. Secerah pantat wajan yang baru dilumuri abu gosok. Tak seperti biasanya senja yang selalu murung, kali ini wajahmu lebih terang. Seterang pantat wajan. Apa karena abu gosoknya terbuat dari parutan sabun Lux? Wangi sabun Lux sepertinya lebih cocok buatmu. Kau menyukai bau parfumnya yang lebih lembut, yang membangkitkan ketenangan dan kesejukan. Seperti halnya kenangan, selalu diciptakan agar orang-orang bisa mengingat hal baik pada masa lalu. Hidup yang teramat berat, bisa lebih ringan dilewati dengan kenangan. Kau pun sepertinya sudah jauh lebih baik.
Ini senja yang indah. Tak mungkin lagi kau selamanya gundah. Harus ada yang berubah. Setidaknya kau bisa lebih berdamai dengan semua hal, termasuk kesepian, terutama perihal kepergian kekasihmu.
kepergianmu kekasih
kepergianmu dari hidupku cukup sudah sebagai bukti bahwa kita tak seharusnya bersama. hal yang paling baik buatku saat ini adalah menemukan satu alasan tepat untuk tetap menjadi sejatinya diriku.
aku melihat semua kenyataan ini bagai sebuah renjana di segenggam angan yang biasa kutanak. kapan-kapan kau datang, akan kuhidangkan sepiring berdua.
rindu itu, kekasih, seperti halnya kita. ia bisa tumbuh dewasa, dari kepergian yang diikhlaskan.
sebab itulah aku tak perlu memaksamu pulang. apa saja yang terasa bersama –meski adanya hanya di dalam hati– itu sudah layak disebut rumah, tempat luka dan tawa menetap. aku mungkin terlalu percaya diri bahwa kau masih berpikir sama denganku, padahal tidak.
tahukah kau, kekasih? aku masih menyimpan rapi setiap kejadian itu di ambang sadarku. lalu, acap kali rindu mendesaknya keluar. sebab, mencintaimu adalah jejak yang tak muncul tiba-tiba. bagaimana bisa aku mudah lupa?
dari semua ini, aku belajar satu hal; sebagai mana halnya perpisahan, barangkali kesedihan adalah cara Tuhan menjagaku dari kebahagiaan yang menghancurkan. itulah sebabnya kita tidak ditakdirkan tetap bersama, meski aku telah dengan sungguh-sungguh mencintaimu.
Seekor burung camar hinggap di sebelahmu. Bulunya putih keabu-abuan. Memiliki paruh yang runcing dan panjang. Sedangkan ekornya bercangap mirip garpu. Ia mengepakkan sayapnya yang panjang dan berujung runcing itu sambil berkata, “aku ingin mengajakmu ke ujung senja, tempat pertemuan laut dan langit. Ayo, naiklah ke punggungku.” Kau pun mengikuti ajakan burung camar, lalu terbang ke angkasa. Jauh dan tinggi. Samar-samar kau dengarkan teriakan burung camar, “bahwa hal yang paling sia-sia adalah mengharapkan kesempurnaan dari yang tak sempurna.”
Kau pun tersenyum, bukan karena bahagia, tapi sudah tak ada lagi air mata yang hendak ditumpahkan.

