kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

A Halu Story (Part 6) : Taqiya Meet Jonatan Christie

Author : Taqiya Herman

Hari sudah petang. Aku duduk di taman sambil meremas selembar kertas berisi hasil ulangan matematika. Tergugu di sana hingga tak sadar ada seseorang yang berjalan menghampiri. Nilaiku jelek lagi. Matematika ini adalah pelajaran yang susah untuk dicintai, meski aku telah berusaha menaklukkannya dengan belajar lebih keras. Tetap saja, ia tak bisa membuatku bahagia.

“Halo, kenapa menangis di sini? Kau tidak pulang? Hari sudah sangat sore lho..” Terdengar suara bariton khas pria dewasa. Lalu dengan mata bengkak, aku mendongak. Kemudian tampaklah seorang pria tengah berdiri condong menghalangi senja. Menyebabkan jingganya sedikit tertutupi. Namun, bisa jadi ini karena mataku yang bengkak. Pria itu memakai baju olahraga yang sudah basah semua oleh keringat. Dia juga menggenggam sebuah raket.

“Ah, ta tak apa Kak” aku tergagap. Pria itu tersenyum sambil menatap kertas lusuh di tanganku. “Aku juga pernah sepertimu.” Ia memulai. “Aku kalah tiga pertandingan berturut-turut.” Pria itu kemudian duduk di sampingku. Aku memandang tak percaya. “Yang benar saja?” Pikirku.

“Tapi kau tahu kenapa Tuhan tak membiarkan aku menang dalam tiga pertandingan itu?”

“Bukan, Tuhan tak biarkan aku menang bukan karena Ia tidak mengindahkan aku. Tapi Tuhan menyuruhku agar berusaha lebih keras lagi. Agar tetap fokus. Karena nanti akan ada kemenangan yang lebih indah dan gemilang.” Ia berhenti sejenak. “Dan memang benar. Setelah kekalahan beruntun itu, setelah aku kembali lagi berjuang mati-matian membela Indonesia di lapangan bulutangkis, akhirnya kemenangan itu datang. Seluruh Asia menjadi saksi ketika aku mendapat medali emas.” Pria itu tersenyum hingga memperlihatkan lesung pipinya. Manis dan memang sangat tampan.

“Aku tahu, kau pasti sudah belajar mati-matian untuk ulangan itu walau kau tak mahir matematika bukan?” Tanyanya. Aku mengangguk kecil. Tetap tak berani bersuara. Hanya ingin memastikan aku bisa mendengar kata-katanya selanjutnya. Tiba-tiba aku melihat senja yang cerah dari senyuman itu.

“Kau harus berani. Jaga hatimu agar tak terjamah ketakutan. Sungguh sia-sia kepintaranmu jika dirimu dikendalikan oleh rasa takut akan kegagalan.” Tangannya menepuk pundakku. Dia berdiri dan menarik paksa agar aku berdiri juga.

“Pulanglah sekarang. Mamamu pasti mencarimu” Bujuknya. “Tidak mau. Bagaimana jika aku dimarahi lagi?”
Jujur, saat ini aku masih takut pulang. Aku selalu takut pulang jika kegagalan ikut serta bersamaku. “Takkan ada yang berani memarahi gadis secantik kau!” Ucapnya. Kali ini dengan membalikkan tubuhku. Menyuruh pulang.

Batinku bergejolak hebat. Jiwa kebaperanku pun bergejolak. Tapi diri terus berusaha agar tak berteriak norak di hadapan JoJo yang memang tampan tak terkirakan lagi. Ahh, memang sungguh baik dirimu Tuhan. Aku mendongak ke langit. Sungguh, sekali lagi, ini senja yang indah.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai