kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Amor Fati

Author : Herman Attaqi

Dalam sebuah sesi wawancara dengan jurnalis Australia, Kim Namjoon atau RM, sang leader BTS, –adakah diantara kita yang tak mengenal boyband terkenal dari Korea ini?– mengutip sebuah frase penting dalam kajian filsafat Friedrich Nietzsche. “Nietzsche,” ujar Namjoon, ” salah satu frasanya yang terkenal adalah amor fati, yakni cintai takdirmu. Saya lahir di Korea, dan kamu terlahir di Australia, kita tak kuasa merubah itu, dan kita tak mungkin memiliki kehidupan yang sama. Amor fati tidak bermaksud bahwa kita akan menyerahkan segala sesuatunya pada takdir, pasrah tanpa berbuat apa-apa, tapi yang pertama harus kita lakukan dalam hidup ini adalah menerima hal-hal yang tak mungkin diubah. Cintai takdir kita, dan lingkungan kita, kemudian pikirkan bahwa kita bisa melakukan sesuatu dengan takdir itu, serta mengarahkannya.”

Menarik memang mendapati seorang artis terkenal yang tidak hanya cerdas dalam musikalitas, tapi juga memiliki referensi intelektual yang begitu dalam, dan menjadikan referensi itu sebagai dasar filosofis bagi lirik lagu mereka. Mulai dari Nietzsche, Umberto Eco, George Orwell, Haruki Murakami, bahkan bacaan yang paling berpengaruh dalam sebagian lirik lagu mereka, yakni berasal dari pemikiran pakar psikoanalisis, Carl Gustav Jung. Apa sesungguhnya yang ingin disampaikan oleh BTS lewat lagunya? Atau ganti pertanyaan, apa perlunya sih membahas BTS? K̶e̶n̶a̶p̶a̶ ̶t̶i̶d̶a̶k̶ ̶m̶e̶m̶b̶a̶h̶a̶s̶ ̶h̶a̶s̶i̶l̶ ̶p̶u̶t̶u̶s̶a̶n̶ ̶M̶K̶ ̶s̶a̶j̶a̶?̶

Saya mulai dari pidato yang disampaikan (bahkan ditulis sendiri) oleh Namjoon mewakili member BTS lainnya dalam sebuah sidang PBB. Pidato yang dengan sangat jujur harus saya akui memberikan pukulan telak bagi kesadaran diri saya. Saya terdiam cukup lama, terutama ketika Namjoon menyampaikan pertanyaan, “Siapa namamu?” “Apa yang membuatmu bersemangat dan membuat jantungmu berdetak?” “Ceritakanlah kisahmu”. Saya menangkap sebuah ketulusan dari seorang anak muda yang telah manggung di banyak stadion besar dunia, telah menjual jutaan copy album, hingga memiliki penggemar jutaan umat manusia, yang dengan sangat menyentuh mengatakan, “aku hanya pemuda biasa berusia 24 tahun. Hari ini aku adalah aku dengan segala kelemahan dan kesalahanku. Besok aku mungkin sedikit lebih bijak, dan itu tetap masih diriku. Kelemahan dan keburukan ini adalah bagian (yang tak terpisahkan) dari diriku yang sebenarnya. Aku mencintai diriku, mencintai diriku yang sekarang, yang sebelumnya dan aku yang seperti apa pun nantinya di masa yang akan datang.”

BTS speech at the UN I UNICEF

Sebuah pertanyaan juga pernyataan yang kiranya biasa saja. Tapi mampu dijawab dengan lugas oleh Namjoon, tidak hanya lewat pidato, juga karya, bahkan mereka juga mampu memberikan semangat bagi banyak orang untuk bagaimana mencintai diri mereka. Sebab, bagian paling sulit dari mencintai adalah bagaimana terlebih dahulu mencintai diri sendiri. So, #LoveYourSelf everyone.

Kurva kehidupan RM aka Kim Namjoon

Saya masih kesulitan menjawab pertanyaan Namjoon itu. Apakah karena saya tak mengenali diri saya sendiri? Atau begitu tebalnyakah dinding ego dalam diri ini? Apakah karena saya tak punya cukup nyali untuk jujur mengakui siapa saya?

Yang tiba-tiba terngiang dalam ingatan justru seorang gadis kecil, yang saat itu berusia 2 tahun menyanyikan lagu “twinkle.. twinkle little star.. how i wonder what you are.. up above the world so high.. like a diamond in the sky..” Gadis kecil itu sekarang sudah remaja. Tahun ini akan masuk kelas satu SMA. Sebuah usia yang saya ingin dia tak seperti yang diucapkan oleh Namjoon “berhenti memandang langit dan bintang-bintang, berhenti berimajinasi. Dan mulai masuk ke dalam cetakan yang dibuat oleh orang lain.” Saya ingin ia tetap memandang langit. Menatap bintang sebagai berlian yang indah. Atau sebagai rumah tempat kami berkumpul penuh kasih, tanpa amarah dan dendam. Mencetak sejarah hidupnya sendiri.

Saya sadari bahwa sebagai Ayah, saya pernah begitu bodoh mencurigai keasyikannya sebagai fandom K-Pop. Saya begitu sarkastik mengatakan orang seperti Namjoon sebagai manusia plastik, melambai-lambai dan semua stereotypes yang kemudian hari begitu saya sesali. Itu bukanlah cara yang baik menjadi seorang Ayah. Ah, kapan saya menjadi Ayah yang baik? Mungkin sebaiknya saya menjadi ARMY (sebutan untuk penggemar BTS) dan bergabung bersama 26 persen ARMY yang hidup di rentang usia 40 – 50 tahun. Bukan pilihan yang buruk.

Statistik ARMY berdasarkan usia

Saya hanyalah seorang lelaki menjelang tua dan sebentar lagi ringkih. Yang sepanjang hidupnya lebih banyak menghadapi kegagalan daripada pencapaian. Yang kemudian dipaksa oleh realita untuk merangkak (meski tak pernah sudi saya membungkuk) dikalahkan oleh ambisi. Yang menghabiskan hampir seluruh masa mudanya dalam kecemasan dan ketidakjelasan. Namun, saya sedikit beruntung memiliki empat orang anak, termasuk Taqiya, gadis usia dua tahun yang bernyanyi twinkle twinkle little star, yang tahun ini akan memasuki pendidikan SMA-nya. Saya bangga melihat mereka tumbuh sebagaimana anak-anak sebayanya tumbuh. Saya bangga mereka menjadi fandom K-Pop dengan selalu menghasilkan vibe yang positif. Sembari bermimpi jika mereka bisa mencintai ilmu pengetahuan seperti Namjoon. Saya memberanikan diri untuk memimpikan suatu hari nanti, mereka bisa berpidato di hadapan pemimpin dunia, sembari menyampaikan pesan-pesan kemanusiaan, bergandeng tangan dalam persaudaraan sembari berkisah tentang keindahan hidup. Meski, sekali lagi, meski sampai saat ini, saya bukanlah seorang Ayah yang dapat dibanggakan.

Saya, Namjoon, dan kita semua memiliki masa lalu tentu saja. Dan bisa jadi banyak dari masa lalu itu yang ingin kita lupakan, tidak ingin kita kenang. Karena, tak jarang, kita merasa frustasi dan depresi justru ketika mengenang masa lalu yang buruk, hidup yang kalah. Hingga kalimat demi kalimat yang diucapkan Namjoon dalam pidatonya, “aku ingin mendengar suaramu, aku ingin mendengar keyakinanmu” membuat saya terhenyak, apakah saya masih bisa bersuara? Apakah saya masih berhak berkeyakinan?

Orang tua, kata George Suanders (dikutip dari esai Dea Anugrah), “kadang, seperti yang kalian tahu, orang-orang tua bercerita meski tidak ditanya. Dan kadang mereka tetap bercerita walaupun sudah kalian bilang jangan.” Tak ingin saya dicap di belakang saya sebagai orang tua yang payah dan nyinyir. Lebih baik banyak mendengar dan belajar dari anak-anak. Sebab, bukankah Khalil Gibran sendiri telah berpesan bahwa anak-anakmu bukanlah anak-anakmu. Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka terlahir melalui engkau dan bukan darimu. Meskipun mereka ada bersamamu, tapi mereka bukan milikmu.

Biarlah bentangan bumi manusia ini menjadi sekolah bagi mereka. Belajar bersama umat manusia tentang seperti apa merayakan kehidupan yang baik, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Mengambil manfaat dari setiap capaian. Meresapi pelajaran dari kegagalan. Membangun prinsip-prinsip etik bagi kehidupannya sendiri. Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan pernah mencoba jadikan mereka seperti dirimu. Karena hidup tidak berjalan mundur, dan tidak pula berada di masa lalu. (Khalil Gibran)

Friedrich Nietzsche sendiri terkenal dengan filsafat nihilisme. Bagian dari filsafat eksistensialisme, yang memiliki beberapa perbedaan paradigmatik dengan filsuf Prancis seperti Jean Paul Sartre. Pandangan nihilisme pada awalnya sebagai kritik keras atas dogma kristen yang bertentangan dengan capaian perkembangan pemikiran manusia dan perkembangan ilmu pengetahuan. Sehingga nilai-nilai absolut yang diyakini manusia telah runtuh. Maka dengan sangat provokatif, Nietzsche mengatakan bahwa tuhan telah mati, manusia membunuhnya. Hingga terjadi kekosongan (nihil) pada tatanan nilai manusia. Mengatasi nihilisme tidak bisa dengan diam atau bersikap netral, yang disebut juga sebagai nihilisme pasif, yakni sikap saat manusia mengafirmasi runtuhnya makna dan nilai, tapi ia masih terjebak ke dalam kubangan romantisme masa lalu, baik makna maupun nilainya. Sikap yang seharusnya dilakukan adalah melakukan pembalikan nilai-nilai, sembari menerima suatu kenyataan obyektif. Itulah yang disebut sebagai nihilisme aktif. Seperti yang dilakukan oleh Namjoon, terutama dalam pemaknaannya atas kata, amor fati.

Tak perlulah terlalu percaya betul dengan pepatah lebih dulu makan asam garam kehidupan, karena yang paling dibutuhkan di zaman penghabisan ini bukan lagi sekedar banyaknya pengalaman empirikal, karena itu hanya satu variabel saja. Yang juga, mendesak, diperlukan adalah sejauh apa jangkauan informasi, sedalam apa pula pemahaman atas berbagai sindikasi informasi itu. Saya percaya bahwa manusia adalah spesies yang dinamis dan adaptif. Bagaimana mungkin seorang manusia tua ketinggalan zaman bisa sedinamis dan seadaptif kaum milenial yang tumbuh berkembang bersama gadget dan ribuan informasi setiap hari. Manusia dan gadget sudah seperti layaknya body and soul. Saya, kok, merasa di hadapan mereka ini, bukan lagi manusia sejarah, sebutan lebih tepat mungkin sebagai artefak.

Di penghujung tulisan ini, saya ingin mengutip sebuah lirik dari lagu BTS berjudul Outro : Tear, selain itu saya juga amat menikmati lagu Epiphany yang tentu saja, ditulis oleh RM atau Kim Namjoon. Outro : Tear adalah sebuah lagu yang sepintas didengar seperti lagu cinta biasa, namun setelah berulang-ulang dihayati justru terdengar too dark and deep, begitu kelam dan dalam. Saya memahami liriknya sebagai sebuah kebencian dan kecemasan pada sisi asli dirinya sendiri. Sebuah self hate dan terlihat destruktif. Tapi RM menutup lagu itu dengan sebuah pemahaman yang sempurna atas filosofi Nietzsche, amor fati, dengan bagaimana dia menerima takdir sebagai sebuah kenyataan, menerima diri sendiri, tidak mau lagi hidup dengan topeng yang menutupi, dan bagaimana seharusnya sejak dulu ia bisa lebih jujur terhadap dirinya sendiri. Ini aku yang sesungguhnya. Itu kau yang sesungguhnya.

Dan saya tetap saja seorang pengecut yang belum bisa sepenuhnya jujur menceritakan siapa saya. Mungkin tidak sekarang. Barangkali 4,5 tahun, atau kurang dua bulan lagi, atau tidak sama sekali.***

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai