kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Bila Bertemu Jalan Buntu, Carilah Lobang Kelinci

Author : Puan Seruni

Buntu. Hal itulah yang saya rasakan selama dua minggu belakangan. Ide-ide semua menjadi mentok saat dalam proses dikembangkan. Berupaya tidak bergantung pada mood itu gak mudah. Mencipta mood menulis di tengah kesibukan dan rasa letih itu butuh perjuangan, Kapten! Ujung-ujungnya malah tertidur atau tidak konsentrasi sama sekali. Jeda, memang, selalu memiliki cara dalam memberi diri sebuah celah atau ruang, bahkan tempat untuk menikmati apapun tanpa gangguan menjadi endapan inspirasi. Termasuk berimajinasi penuh fantasi, seperti Alice dalam film kanak-kanak Alice’s Adventures in Wonderland yang menemukan titik akhir kebosanannya dengan petualangan unik dan seru.

Sumber foto di pencarian google.

Ah, Alice. Kadang di tengah rapat yang membosankan, saat kecapean atau suasana yang membuat suntuk kapan pun itu, saya suka mengandaikan diri menjadi Alice yang dibuat penasaran dengan kehadiran kelinci berjas yang sekonyong-konyong melesat sambil menggerutu cemas melihat jam bundar berantai di tangannya. Dalam suasana yang menekan mood itu, ingin ada kejutan yang menumbuhkan keberanian saya untuk berani keluar dan menemukan hal-hal baru yang menyegarkan pikiran. Saya ingin masuk ke lobang kelinci yang besar itu, terjun bebas dan jatuh melambat, sehingga bisa sempat-sempatnya mengamati sekeliling, sebuah dimensi yang aneh, dimensi baru dan absurd. Sejauh ini lobang kelinci besar itu saya temukan cuma di meja prasmanan, berbentuk water tank berisi kopi dan teh. Tentu saja dengan sedikit cemilan di sampingnya. Saya bisa menikmati berdiri beberapa saat menghirup aroma kopi di situ, meskipun saya memilih teh dan di beberapa kesempatan, kawasan meja prasmanan itu selalu ramai dan mengharuskan saya berbincang atau segera kembali ke ruangan, sehingga sulit membayangkan diri saya masuk ke dunia ajaib, seperti Alice, sekejap saja.

Begitulah, jika dalam kehidupan nyata, saya begitu ngefans sama Keanu Reeves, maka dalam dunia cerita anak-anak saya begitu menyukai tokoh Alice dalam Alice’s Adventures in Wonderland karya Lewis Carroll. Tokoh Alice itu gambaran anak perempuan yang unik dan berani sebagaimana tokoh Tiana dan Merida dalam animasi Disney yang jadi favorit saya, mereka berbeda dari sekian banyak princess yang ‘seragam’ tampilannya, jauh dari cantik kemayu, hidup di istana megah dan lemah lembut.

Mula mengenal Alice dari buku cerita yang awalnya begitu absurd dan susah sekali bagi saya waktu itu memahami alurnya, terutama deskripsi jalan pemikiran Alice yang ditulis oleh Lewis Caroll dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia tentunya. Tapi lama-kelamaan saya menyukai gaya Carroll menuliskannya. Sehingga sampai saat ini, Alice, bagi saya adalah semesta fantasi dan keberanian. Hal apapun akan dihadapinya tanpa rasa was-was. Membicarakan Alice berarti berbicara tentang dunia yang tidak dipahami banyak orang. Dianggap aneh dan absurd. Menjadi Alice sama dengan menjadi anak perempuan yang bahagia dengan jalan pemikirannya yang polos, penasaran, tulus, baik dan tentu saja jiwanya bebas. Kepolosan dan kemurnian jiwanya sebagai anak-anak, membuat ia selalu punya pemikiran positif meskipun seperti halnya anak-anak lain, ia mudah ngambek dan kesal.

Saat Alice mengikuti kelinci putih berjas yang selalu melihat jam dan berjalan terburu-buru sambil panik mengoceh tentang keterlambatan, kemudian ia ikut masuk ke dalam lobang gelap yang membuatnya masuki dunia yang berbeda. Alice justru bermain-main dengan pemikirannya sendiri. Dia mereka-reka, apakah gerak jatuhnya yang melambat atau lobang jatuhnya yang terlalu dalam, sehingga ia bisa mengamati sekelilingnya, dan melihat begitu banyak benda di sepanjang lobang itu. Semua saling bergerak seperti berada di sebuah jalan. Saat melintasi sebuah lemari, ia meraih sebuah botol yang bertuliskan Selai Jeruk. Setelah tahu botol itu kosong, Alice ingin menjatuhkannya, tapi karena khawatir akan mengenai orang lain di dasar lobang maka ia letakkan kembali pada rak lemari yang ia lewati kemudian. Tak ada kepanikan di situ. Malah Alice sempat-sempatnya memikirkan keselamatan orang lain dan petualangan jatuhnya itu membuatnya semakin berani. Ia bertekad untuk tidak takut jatuh lagi saat naik tangga dan merindukan kucing kesayangannya, Dinah. Sementara dia sendiri tidak tahu apa yang menyambutnya di dasar lobang.

Itu sebabnya saat pertama kali mengetahui bahwa Tim Burton melakukan proses pembuatan film Alice In Wonderland di pertengahan tahun 2009 dan mengajak pasangannya kala itu, Helena Bonham Carter dan juga Johnny Depp, untuk ikut berperan dalan film tersebut, saya begitu antusias dan berharap hasilnya sangat memuaskan dibandingkan versi film Alice lainnya yang pernah saya tonton. Selain ketiganya bagi saya bagaikan soulmate dan film-filmnya menjadi favorit saya (Tim Burton, sutradara dan kreator spesialisasi film-film imajinatif, suram dan misterius. Sedangkan Helena Bonham Carter dan Johnny Depp, adalah aktris dan aktor kesayangan Button, mereka selalu diduetkan untuk spesialisasi peran imajinatif, berkarakter misterius, dingin dengan akting minimalis), saya juga penasaran, apakah cerita Alice yang digarap Burton akan seabsurd cerita bukunya dan film-film dari berbagai versi Alice yang pernah saya tonton selama ini. Ternyata, setelah menonton, saya tidak kecewa. Film Alice garapan Burton sangat-sangat fantastik. Meski tentunya ada beberapa perbedaan dan adaptasi pada beberapa fragmen. Terutama pada karakter tokoh Alice yang diperankan dengan apik oleh Mia Wasikowska.

Bagi yang belum mengetahui atau membaca buku Alice’s Adventures in Wonderland karya Lewis Caroll, mungkin akan merasa aneh dan bingung dengan penggambaran imajinasi Alice dan karakter tokoh dalam film, meskipun cerita dan skenarionya digarap dengan sangat menarik. Melihat Ratu Merah dibuat menjadi kerdil tapi berkepala besar dan kejam. Prajuritnya terbuat dari kartu remi. Rakyatnya terdiri dari hewan dan manusia dengan tampilan fisik yang aneh. Burton mencoba memvisualisasikan pemikiran Lewis Caroll yang penuh analogi dan fantasi dengan cara yang fantastik pula.

Saya jadi membayangkan kecerdasan Lewis Caroll menuliskan Alice sehingga seperti nyata adanya, berbilang dekade tak lekang dari pembicaraan. Alice menjelma bagai dongeng, padahal itu awalnya hanya sebuah buku cerita anak yang absurd. Orang banyak mempertanyakan muatan pesan moralnya, yang dianggap penuh kontroversi. Apa sih yang mau disampaikan Caroll sebenarnya? Masing-masing orang punya pendapat dan analisa. Meskipun Caroll telah menulis di bagian akhir buku, yang diawali sebuah salam hangat bagi seluruh anak-anak pecinta Alice. Dalam tulisan itu Caroll menguraikan sekaligus memberikan tanggapan dan pandangannya atas tulisannya yang penuh imajinasi, di cerita Alice, sebagai sebuah pemikiran dan sudut pandangnya yang berbeda dan luas. Ia begitu menghargai kepolosan dan imajinasi anak-anak. Untuk itu ia menyingkirkan kesedihan dan hal-hal yang mencemaskan untuk dipikirkan anak-anak. Semangat dan optimisme tergambar jelas disitu. Di akhir tulisan ia menutup dengan menandai dirinya sendiri sebagai ‘seorang kawan yang menyayangimu’.

Saya begitu menyukai Alice dan juga Lewis Caroll dari dulu hingga sekarang. Ingin menulis tentangnya kapan-kapan. Satu lagi, cerita Alice ini penuh dengan quotes atau ungkapan-ungkapan bijak dan bermakna dalam. Sangat menyenangkan membacanya meskipun sudah berulang-ulang dibaca. Senyaman berimajinasi menjadi Alice saat jenuh dan kebuntuan melanda. Kira-kira lobang kelinci itu ada di mana sekarang ya? Mumpung hari minggu, siapa tau saya bisa ketemu pria berdasi? (Eit, dah)

Ah ya, di dapur. Saya lupa ada kopi dan makanan di sana. 😂

Sumber foto di pencarian google.
Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai