Author : Herman Attaqi
Media Sosial sepekan periode 14 – 20 Juli 2019
Percakapan warganet pekan ini diwarnai oleh topik yang beragam. Tidak ada lagi satu isu yang sangat dominan, seperti percakapan terkait pilpres di masa kampanye yang lalu. Telah usainya perhelatan politik itu dan, barangkali juga, karena pertemuan Jokowi dan Prabowo pekan lalu berhasil menurunkan tensi politik jadi lebih soft.
Namun, bukan warganet namanya jika tidak memunculkan hal-hal baru sebagai obyek keramaian. Apa sajakah hal-hal baru itu?
Kami memantau beberapa hal, di antaranya heboh soal Salmafina yang memutuskan berpindah agama dari Islam ke Kristen. Kenapa bisa heboh? Kemudian masih tentang Gubernur Jakarta, Anies Baswedan, yang kali ini menyedot perhatian warganet terkait kebijakan Instalasi Bambu Getih Getah karya Joko Avianto. Ada juga berita tentang hasil investigasi TGPF kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan. Terakhir, yang paling heboh sepanjang pekan ini adalah sebuah aplikasi edit foto dari Rusia, yakni #FaceApp yang memiliki fitur mengubah wajah menjadi terlihat tua. Dengan tagar #AgeChallenge, banyak warganet termasuk para artis bahkan juga politisi seperti Sandiaga Uno mengikuti permainan ini. Dan, sekali lagi, bukan warganet namanya, jika tidak mempersoalkan hal-hal apa saja menjadi bahan perdebatan.
Salmafina dan Wartawan
Pada Hari Minggu, 14 Juli 2019, Salmafina, yang juga anak kandung pengacara kondang Sunan Kalijaga dan mantan isteri dari Taqy Malik, seorang Hafidz Al-Quran bersuara merdu, terlihat keluar dari sebuah acara kebaktian, ibadah bagi umat Kristen. Sebagai pemeluk agama Kristen, tentu saja wajar bagi Salmafina untuk mengikuti kebaktian. Tapi hal ini tidak berlaku bagi, beberapa, wartawan yang justru terlihat, seperti unggahan video di akun Instagram @mak_nyinyiir, malah mengejar dan meneriaki Salmafina seperti, seolah-olah, seorang maling yang tertangkap basah. Hal ini sontak menimbulkan kehebohan warganet.
Kami tidak dalam opini apa pun terkait keputusan Salmafina untuk beralih agama, karena hal itu tentu menjadi keputusan pribadinya, apalagi juga hak beragama setiap orang dilindungi oleh konstitusi. Yang disayangkan oleh warganet adalah perlakuan yang diterima oleh Salmafina hingga ia dikejar-kejar, diteriaki serta diburu sambil mengeluarkan kata-kata yang terdengar merendahkan. Tentu ini bukan adab yang baik. Seperti caption @mak_nyinyiir dalam video yang telah ditonton sebanyak 157.422 viewers pada saat tulisan ini dibuat. Unggahan dari akun yang memiliki 458 ribu pengikut itu juga telah dikomentari sebanyak 904 komentar. Salah satu komentar dari warganet adalah dari @wungsu_audy,

Anies Baswedan dan Pergeseran Ruang Perdebatan Politik
Kembali pekan ini Gubernur Jakarta, Anies Baswedan menimbulkan perdebatan yang, sepertinya, tak akan pernah usai, yakni ketika Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membongkar karya seni Instalasi Bambu Getih Getah karya Seniman Joko Avianto. Pembangunan “Patung Bambu” yang menelan biaya sebesar 550 juta rupiah itu pun menuai kecamanan dan sindiran dari kelompok anti-Anies, seperti cuitan dari akun @Dennysiregar7 berikut ini,

Anies kemudian merespon kritik warganet dengan memberikan jawaban melalui akun twitter beliau di @aniesbaswedan,



Dari perdebatan tentang pembongkaran Patung Bambu dengan menggunakan anggaran, yang menurut pengkritik Anies, tidak wajar, topik perdebatan kembali menghangat dengan pernyataan Anies seperti yang diberitakan oleh detik.com,

Lalu dibalas oleh seorang politisi PSI, Tsamara Amany,

Dan juga Permadi Arya, atau lebih dikenal dengan Ustad Abu Janda,

Pernyataan itu pun dibalas kritik oleh seorang aktifis media yang dikenal tidak berpihak kepada kubu politik yang bertarung, dengan akun @roythaniago,

Demikianlah, seolah-olah perdebatan antara cebong dan kampret pada pemilu nasional yang lalu mengalami “urbanisasi” ke Jakarta, serta mendapatkan kanalnya pada satu sosok, yakni Anies Baswedan, sang #Gabener eh #Goodbener eh Gubernur Jakarta.
Novel Baswedan dan Hasil TGPF
Apakah hasil dari kerja Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK, Novel Baswedan? Rabu, 17 Juli 2019, berdasarkan tautan yang banyak dibagikan di postingan media sosial, TGPF bentukan Kapolri melakukan konferensi pers di Gedung Bareskrim Mabes Polri. Hasilnya? Belum diketahui siapa aktor lapangan, apalagi aktor intelektual yang bertanggung jawab terhadap aksi kriminal ini. TGPF ‘hanya’ menemukan motif dibalik kasus ini, yakni ada hubungannya dengan kasus high profile yang sedang ditangani KPK.
Bagaimanakah pernyataan Presiden Jokowi terkait kasus ini? Berikut adalah sebuah utas dari akun twitter @tempodotco sembari melontarkan pernyataan, “jangan sedikit-sedikit ke saya.”

Berikut adalah komentar balasan dari salah seorang warganet,

#FaceApp #AgeChallenge dan Kenyinyiran yang Haqiqi
Pekan ini ditandai dengan viralnya tagar #FaceApp dan #AgeChallenge, yakni sebuah aplikasi editan foto dari Rusia. Aplikasi ini menjadi sangat menarik perhatian warganet karena mampu mengubah tampilan foto saat nanti sudah tua. Tapi, dasar netijen, tetap saja permainan ini menjadi pemicu perdebatan yang heboh dan lucu. Mulai dari kekhawatiran terkait aspek pencurian data privasi, hingga dalil mengharamkan permainan ini. Yah, namanya juga netijen. Akan tetapi, ditengah kontroversinya, #FaceApp tetap jadi sebuah permainan yang menyenangkan, karena terbukti diikuti oleh banyak warganet, bahkan oleh para selebritas tanah air hingga politisi sekelas Sandiaga Uno di akun Instagramnya @sandiuno.
Aplikasi #FaceApp, setidaknya, mampu mencairkan kebekuan konten-konten politik yang selama ini mendominasi jagad media sosial kita. Dan juga mengajak kita sekali-kali melihat seperti apa wujud masa depan, daripada terjebak selalu dalam kubangan kenangan masa lalu yang perih dan menyiksa batin. Bukan begitu, Kawan?
