kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Mengapa Pengetahuan itu Penting?

Author : Herman Attaqi

Setelah menulis Amor Fati dua minggu yang lalu, saya tentunya berharap dapat lebih mencintai takdir hidup ini dengan lebih baik. Bangun pagi dengan segelas kopi dan menjawab pertanyaan, Apa yang Anda pikirkan? Kemudian posting menjadi status facebook pertama. Matahari makin meninggi, kenyataan hidup semakin menghimpit. Kebetulan ada notifikasi sebuah pesan masuk ke email hermanattaqi@gmail.com, sebuah artikel dari Medium Daily Digest, dengan satu pertanyaan cukup bikin mengkerut, “if you learn something for the first time, does that make you knowledgeable?” Kenapa pertanyaan ini mirip dengan isi kepala saya? Setelah menerima takdir hidup, oke, katakanlah kegagalan dan kekalahan, lalu setelah ini apa? Apakah pada saat saya belajar menerima kenyataan dan mencintainya, itu pertanda bahwa saya telah memiliki pengetahuan yang cukup untuk menantang hidup?

David J. Schwartz dalam buku The Magic of Thinking Big mengatakan di sepanjang bukunya bahwa orang hanya butuh percaya untuk sukses, bahkan bila kita benar-benar percaya dapat memindahkan gunung, maka kita dapat memindahkannya. Di halaman awal bukunya, David J. Schwartz menjelaskan bagaimana mekanisme ‘kepercayaan’ bekerja. Kepercayaan, sikap “Saya-positif-saya-dapat,” membangkitkan kekuatan, keterampilan dan energi yang diperlukan untuk berhasil. Jika Anda percaya “Saya-dapat-melakukannya” dan benar-benar percaya, maka “bagaimana melakukannya” pun berkembang secara otomatis.

Sungguh, saya tak ada niatan mau memindahkan gunung, biarlah ia di tempatnya. Maksudnya, apakah saya harus melanjutkan penerimaan atas takdir itu dengan satu kata, percaya? Percaya jika kehidupan akan lebih baik? Satu-satunya yang saya percayai tentang hidup adalah kematian. Saya percaya bahwa manusia pasti mati. Maka, kepercayaan dalam pandangan Scwartz tersebut, bagi saya, hanyalah upaya untuk mendorong kemauan diri untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan. Manusia sukses digambarkan memiliki uang, rumah dan kepemilikan lainnya, hingga ia harus percaya jika ia mampu meraihnya. Manusia berkembang, pikirannya tidak statis, dan ada kemungkinan akan sukses dan gagal. Setelah berada pada tahap sukses atau gagal itu pun manusia masih membutuhkan kepercayaan untuk melanjutkan tahapan hidup selanjutnya. Dan seterusnya. Dan seterusnya.

Sebenarnya saya tak ada masalah dengan konsep kepercayaan itu. Karena saya percaya untuk mendapatkan cita rasa kopi yang pas, seorang barista juga mesti percaya bahwa ia harus mengerti takaran kopi, gula dan derajat didih air tertentu, serta menyeduh dengan teknik yang pas. Saya juga percaya kenapa harus mandi dan gosok gigi secara rutin, minimal gosok gigi dulu jika bangun tidur, agar mulut lebih sehat untuk menyeruput kopi. Seekor biri-biri juga percaya mereka harus makan wortel untuk tetap hidup, dan terlihat menyenangkan, untuk kemudian mati dan manusia bisa dengan nyaman bersujud dengan mencium bulu biri-biri di tikar sajadahnya.

Kepercayaan itu seperti perangkat bawaan dalam diri kita yang harus diingatkan ketika seseorang terlupa. Barangkali manusia bisa semakin relijius ketika ditimpa kemalangan karena mereka memang membutuhkan kepercayaan untuk bisa bertahan. Seperti penumpang pesawat yang mendadak sangat khusyuk berdoa ketika turbulensi, dan kembali ateis, atau minimal sekuler jika sudah landing. Orang-orang tahanan menumbuhkan rasa percaya karena dua hal; karena menyesali perbuatannya atau karena menyesali hukumannya. Itu dua hal yang berbeda. Kepercayaan, tempat orang berlarian memeluk Ibu ketika sedih. Ia ada dalam diri, baik sebagai kesadaran, maupun sebentuk alam bawah sadar.

Mikhail Bakunin, salah seorang pendiri Gerakan Anarkisme, setelah bertahun-tahun hidup dari satu penjara ke penjara yang lain, pada suatu hari menceritakan betapa menyebalkan hidup di dalam penjara, hingga ia pernah meminta saudaranya mengiriminya racun. Namun ia menemukan kelegaan, saban kali muak dengan hidupnya, dengan membayangkan kembali Legenda Prometheus. Dalam Mithologi Yunani, Promotheus adalah seorang Titan yang cerdas dan terkenal dengan keahliannya. Suatu hari ia mencuri api Zeus dan memberikannya kepada manusia. Zeus yang murka kemudian menghukum Promotheus dengan mengikatnya pada sebuah batu. Setiap hari seekor burung elang akan datang dan memakan hatinya, tetapi hatinya akan tumbuh kembali dan besoknya dimakan lagi oleh burung elang. Begitu seterusnya sampai ia diselamatkan oleh Heracles, atau yang lebih dikenal dengan Hercules.

Kemudian hari, Franz Kafka, menulis tiga buah cerita alternatif Prometheus ini. Cerita yang dibangun dalam versi Kafka lebih memberikan pemahaman bahwa dunia kehidupan bukanlah tempat bagi hadirnya kepastian, di mana segala sesuatunya menjadi dapat dipahami. Kenisbian (segala sesuatu yang tak pasti) ini rahim dari penderitaan, dan juga kebebasan, yang terkadang begitu asingnya hingga membuat manusia sulit memahami yang nyata, bias atau pun ilusi. Jika Kafka, seperti halnya pemikiran Kierkegaard, mempercayai bahwa kehidupan bukanlah tempat manusia mencari kepastian, aku percaya hal itu juga berlaku pada pertanyaan awal tulisan ini terkait penerimaan. Kepercayaan yang dilandasi oleh suatu ambisi ingin menguasai atau memiliki, justru berpotensi menimbulkan penderitaan baru. Bukankah asal muasal penderitaan itu karena harapan yang tak terwujud? Tugas manusia, sebagaimana problema yang diajukan Kafka, adalah memahami dan memilah hal-hal yang nyata, yang bias, dan yang ilusi.

Ada satu kutipan favorit dari Pramoedya Ananta Toer dalam novel Bumi Manusia, yang dulu seringkali saya kutip, “hidup bisa memberi segala bagi barang siapa yang tahu dan pandai menerima.” Sesungguhnya yang harusnya ditemukan, bukanlah sesuatu setelah kesediaan (kepandaian) menerima, tapi justru menerima adalah konsekwensi dari sebuah pengetahuan. Ada yang ternyata terlewatkan, bahwa “menerima” hanyalah konsekwensi, dan yang paling penting, dan lebih dulu, dari itu adalah pengetahuan yang mendasarinya.

Jika Bakunin terpesona dengan Hegelianisme, saya untuk saat ini jatuh hati pada kata-kata terkenal Hegel, “Segala sesuatu yang ada bersifat rasional.” Saya sekarang tak yakin bahwa dengan kepercayaan (sikap percaya), manusia bisa memindahkan gunung, tetapi pengetahuan mampu memberi manusia pemahaman akan kalimat “bahkan bila kita benar-benar percaya dapat memindahkan gunung, maka kita dapat memindahkannya” hanyalah sebentuk ilusi yang tak nyata.***

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai