Sewaktu kanak-kanak, Husin, yang lebih akrab disapa Uchien, bercita-cita jadi Tentara atau Polisi. Sekarang justru berkecimpung dalam dunia kesenian. Dengan latar belakang pendidikan pascasarjana Program Studi Pengkajian Seni Teater tamat tahun 2016 di Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, Sumatera Barat, tentu saja ia sangat kompeten untuk aktif di dunia ini, baik sebagai praktisi maupun akademisi. Di luar urusan Teater, Ia juga melibatkan diri di beberapa komunitas seni dan budaya, khususnya di Pekanbaru. Terakhir, ia turut men-support kemunculan beberapa Grup Band Indie asal Pekanbaru, di antaranya, Jendela Kayu yang mengusung genre folk dan Haru Bisu yang mengusung genre post–rock atau alternative. Bahkan, ia menjadi bintang video clip pada single berjudul PUSAKA dari Haru Bisu. Seputar aktifitas mereka bisa disimak melalui akun Instagram @ucinatauacan @jendelakayu_official @harubisu.
Berikut adalah wawancara Herman Attaqi bersama Husin a.k.a. Uchien.

Hai, Bung Uchien. Apa saja aktifitas yang sedang digeluti sekarang?
Hai, juga Bung. Sejauh ini yang aku lakukan lebih cendrung lintas komunitas, meskipun aku punya kelompok Teater Lorong, tapi juga singgah di beberapa komunitas, di antaranya Riau Beraksi (Studio Seni Peran), Rumah Suku Seni (Komunitas Seni), Lab. Teater UIR (UKM Seni UIR), Rumah Budaya Sikukeluang, juga terlibat supporting beberapa Band Indie Pekanbaru, dan aktif di kegiatan diskusi lintas disiplin. Semua itu dipenuhi sesempat-sempatnya waktu. Selain itu, aku juga aktif mengajar sebagai dosen luar biasa atau dosen tidak tetap di FKIP Sendratasik UIR.
Dari begitu banyak aktifitas, sebenarnya cita-cita Bung waktu kecil apa?
Seperti anak laki-laki pada umumnya, profesi yang baik itu kalo ndak Tentara, ya, Polisi. Kita ndak pernah diberi tahu bahwa profesi yang lain itu juga baik, misalnya jadi Petani atau Seniman.
Kenapa gak jadi masuk Tentara atau Polisi?
Ya, cita-cita waktu kecil itu kan harus dijawab dengan cepat. Tanpa diiringi dengan pendampingan dan perhatian menuju cita-cita yang telah terucap. Apalagi kondisi ekonomi orang tua, tak mungkin rasanya menuju cita-cita, sehingga dia hanya disimpan sebagai angan-angan yang sulit untuk diraih.
Jadi, dari sekian banyak aktifitas Bung sekarang ini, Bung ingin disebut sebagai apa? Dan apa sebenarnya yang ingin Bung lakoni secara lebih serius?
Supporter kesenian ajalah ndak? hahaha.. Yang dilakoni serius itu, ya, bergiat di kesenian.
Oke, mari kita namai seorang Uchien sebagai Seniman saja kalo begitu.
Silahkan. Biar Bung saja yang memberikannya.
Ini pertanyaan serius, tapi boleh jadi gak serius amat sih. Bung belajar di Sumatera Barat dan sebagian besar aktifitas di Riau. Apa yg membedakan kedua daerah ini dalam dunia Kesenian?
Lebih kurang sama, tidak ada perbedaan yang mencolok. Karena barangkali dia masih berada di pulau yang sama, bersebelahan pula. Kalaupun ada, paling tipikal seniman atau kelompoknya masing-masing.
Apakah ini jawaban paling aman?
Alhamdulillah, bisa dipahami hehe..
Gak usah dijawab gapapa, tapi menurut Bung, bagaimana kondisi berkesenian di Riau? Apakah ada semacam senioritas begitu? Secara kan Bung masih muda nih? Dan bagaimana Bung memahami dinamika yang terjadi?
Berkesenian di Riau sudah sangat bergeliat dan cukup produktif. Karena pegiat keseniannya sudah beragam dan punya banyak pilihan artistik yang digagas, mulai dari yang berbayar (profesional) hingga kolektifan (sosial). Soal senioritas, itu kan cuma beda usia saja. Untuk yang lebih tua sudah mau menerima, atau bahkan menurutku sudah harus mau menerima segala pembaharuan yang diusung oleh yang lebih muda, karena zaman berubah dan terus bergerak.
Sebagai orang teater, baik sebagai pelaku maupun akademisi, bagaimana Bung melihat teater sebagai medium penceritaan di tengah maraknya budaya populer dan media sosial yang membuat orang cendrung lebih mencari hal-hal yang ringkas dan gak ribet?
Teater itu masih banyak yang minat bahkan menggandrunginya. Karena teater itu sudah disadari sebagai medium untuk belajar banyak hal, terutama untuk pengembangan dan pendewasaan diri. Justru teater itu sendiri, lebih bisa bersikap fleksibel, bisa bergerak sesuai zamannya. Kita bisa lihat perubahan itu hingga kini.
Sebagai orang teater, katakanlah milenial, bagaimana Bung melihat kegelisahan generasi sekarang jika dibandingkan dengan generasi WS. Rendra umpamanya?
Sekarang ini, tongkrongan sudah semakin banyak, seiring dengan banyaknya hal yang dibicarakan, ini semua disebabkan revolusi komunikasi yang terus mendesak. Dari banyaknya tongkrongan, melahirkan banyak hal yang dibicarakan, dari situ muncul gagasan-gagasan baru. Ini terbukti dengan banyaknya event yang ditaja oleh banyak anak muda yang cendrung mandiri atau swadaya, dari yang kecil hingga yang besar. Disamping itu juga ada yang bersponsor, baik lembaga pemerintah ataupun swasta.
Cara organisasi dan pengorganisiran zamannya Rendra, Teguh Karya, Arifin C. Noer dan yang lainnya sudah berbeda dengan hari ini. Kalo dulu kita hanya mengenal istilah dalam teater itu mungkin hanya sutradara. Di Bengkel Teater, Rendra yang populer. Di Teater Populer, yang sangat dikenal itu Teguh Karya. Begitu pun Teater Kecil, orang taunya, ya, Arifin C. Noer.
Kalo sekarang sudah berbeda, di dalam kumpulan Teater itu, kita sudah dapat mengenali siapa saja yang berkontribusi di dalamnya. Baik aktor, penata artistik, penata musik, penata lighting, ataupun sutradara. Hal ini lah yang kemudian mendorong upaya untuk saling berkolaborasi dari setiap kelompok, kumpulan atau komunitas yang ada.
Siapa seniman yang Bung idolakan, atau yang paling berpengaruh dalam konsep berkesenian Bung? Selain Rhoma Irama tentunya.
Sungguh terlalu. Bertold Brech, Wiji Thukul, dan Kurt Cobain.
Kenapa Kurt Cobain Bung? Kenapa kita sama?
Kesamaan itu lah yang mempertemukan kita hahay.. Barangkali karena kebetulan saja ketika Kurt Cobain dengan Nirvana sedang booming, kita sedang berada pada periode pencarian jati diri. Dan Kurt Cobain ada di situ, memberikan pelajaran tentang kebebasan dalam berekspresi.
Ah, Bung bisa saja, tapi benar juga sih. Setiap masa tentu berbeda kondisi materilnya, tergantung proses dialektika sejarahnya kalau menurut Mbah Karl Marx. Aku jadi pengen nanya tentang fenomena K-Pop, bagaimana menurut Bung?
Wow, K-Pop itu tidak bisa dipungkiri adalah sebuah contoh keberhasilan dalam membangun Budaya (dalam hal ini, Budaya Pop). Kita bisa saksikan bagaimana K-Pop mempengaruhi gaya hidup anak muda. Ia sebuah keniscayaan. Itu semua dirancang dan benar-benar dipersiapkan, bahkan didukung oleh pemerintah mereka. Sekarang mereka tengah menikmati hasil dari itu semua.
Artis Korea favoritku Kim Namjoon, Leader BTS. Bung siapa?
Jisoo Black Pink. Ini jawaban untuk kebutuhan pertanyaan yang cukup mendesak. Biar dikira juga mengikuti budaya K-Pop, biar terkesan kekinian.
Wow, keren Bung. Balik lagi ke soal Teater, dari sekian banyak pementasan yang pernah terlibat di dalamnya, manakah yg paling berkesan? Sebagai apa? Kenapa?
Segala yang pernah dilakoni, sangat berkesan. Ada sih beberapa lakon yang cukup menantang. Dulu di zaman kuliahan pernah memerankan Tokoh Oedipus dalam Oedipus Di Colonus karya Sophocles, matakuliah Penyutradaraan Teater Klasik. Sampai di jadwal ujian, aku belum juga hapal naskah. Sutradara (mohon maaf aku lupa siapa), akhirnya mendapatkan solusi untuk menempatkan seorang pembisik di belakang panggung yang tertutup layar. Celakanya, aku tidak bisa mendengar dengan jelas suara si pembisik itu, maka terjadilah improvisasi yang tidak berketentuan, dan menyebabkan pertunjukan itu jadi gagal.
Justru yang paling berkesan adalah kegagalan ya Bung?
Ya, itu.
Jika kelak di masa depan cuma tersisa dua bidang profesi, yakni Tukang Kipas Sate dan Marketing Perumahan, kira-kira Bung akan memilih sebagai apa?
Aku pilih Tukang Kipas Sate dulu, biar bisa beli rumah. Setelah rumah dah punya, baru jadi Marketing perumahan, ngajakin orang tuk punya rumah.
Sebagai seniman, apa nasehat yang akan Bung berikan, khusus tentang bagaimana membangun keluarga yg sakinah, mawaddah, warahmah?
Panggung itu adalah rumah. Skenario ada di aku yang memainkan dramatik pertunjukan ke arah yang lebih baik. Karena di dalamnya ada hati manusia yang harus dikelola dan dijaga. Semoga sampai tua, mati bersama. Amin Ya Robbal Alamin.
Kok, aku bisa ngomong gitu ya? hehe..
Dugaanku, karena Bung mencintai keluarga.
Amin.
Dunia tak boleh dicintai dengan terlalu, kecuali keluarga. Bukan begitu Bung?
Sepakat untuk sepakat, karena dengan keluarga kita selalu bersama.
Terakhir, apa impian besar yg harus dituntaskan menjelang mati?
Waduh, gaswat. Ini pertanyaan yang mendalam, karena pertanyaan ini menyadarkan aku untuk mempersiapkan kematian dengan lebih baik dan barokah. Impianku ingin dunia baru yang berkeadilan bagi semua orang (bolehlah ya). Satu lagi, ingin menyekolahkan anakku, di sekolah yang dia benar-benar merasakan selalu kebahagiaan. Karena menurutku, semestinya lembaga pendidikan itu harus menciptakan kebahagiaan terlebih dahulu. Setelah kebahagiaan, lanjut pada kepedulian pada seluruh makhluk dan ciptaan Tuhan. Karena kalau makhluk dan cipataan Nya terusik, sama saja kita telah menghina Tuhan Sang Pencipta.
SEKIAN

