kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Bapak

Author : Pandu Birowo

Beberapa malam kemarin saya menelepon Bapak. Seperti yang sudah-sudah, saya dan Bapak saling bertanya kabar dan ngobrol sana-sini. Bapak juga biasanya akan bercerita ia telah menelepon siapa saja dalam bulan ini dan tentang topik-topik apa saja, serta juga memberi umpan-umpan pertanyaan untuk dipikirkan oleh kami anak-anaknya ini. Saya sendiri kerap dan selalu merasa senang dapat cerita dan siraman-siraman rohani dari beliau.

Bapak, dalam telepon malam itu, menceritakan bahwa dalam tiga bulan ini beliau undur diri sebagai khatib di beberapa mesjid di kecamatan tempat tinggalnya. Katanya, ia tak lagi sanggup berlama-lama berdiri karena urat-urat di kakinya sering tegang tiba-tiba. Selain itu, masih kata Bapak, lidahnya juga sering keseleo saat melafalkan beberapa kata dalam khutbahnya. Bapak mengakui bahwa dirinya mengalami sedikit penurunan kemampuan berkonsentrasi. Hal itu ia sadari dan karenanya telah mengajukan permohonan pensiun kepada para pengurus mesjid dan majelis yang kerap memintanya menjadi khatib dan penceramah. Apalagi, katanya, dalam minggu pertama Ramadan ini, kondisi tubuhnya juga tidak fit.

Bapak, di usianya yang kepala tujuh itu, juga masih menggali lubang-tanam dan menanami pekarangan rumahnya dengan beraneka ragam tanaman. Terakhir, Bapak menanam puluhan batang duku sebagai pengganti pohon durian yang sudah diambil kayunya. Saya sendiri mendukung Bapak untuk pensiun. “Ya, nggak apa-apa, Pak”, kata saya. “Sudah waktunya bapak banyak istirahat dan mengurus pekerjaan di rumah saja. Biarlah yang lebih muda yang menggantikan bapak untuk pekerjaan-pekerjaan sosial semacam itu”, lanjut saya.

Selanjutnya, untuk kesekian kalinya, Bapak mendiskusikan kembali pentingnya akal memandu keimanan –dan bukan sebaliknya. Bapak bercerita bagaimana ia baru saja menggoda dan menggelitik salah satu temannya di majelis pengajian tentang hal itu. Menurut Bapak, akal jauh lebih utama ketimbang iman dan, jika yang satu harus menuntun yang lainnya, Bapak meyakini bahwa akal lebih berkemungkinan menuntun iman ketimbang sebaliknya.

Analogi yang kerap dikemukakan Bapak adalah cerita tentang ‘timbangan kebaikan di akhirat’ nantinya.
“Jika nanti kita ditimbang, pertanyaan pertama bukanlah pertanyaan ‘apakah kamu beriman?’, Ndu; tetapi ‘apakah kamu berakal?’”, kata Bapak. “Jika kamu berakal, maka kamu baru bisa ditimbang mana amal baikmu dan mana amal burukmu. Akan tetapi kalau sudah nyata bahwa jika di dunia ini kamu tidak berakal, kamu pasti tidak akan ditimbang. Pendeknya, kamu akan dibebaskan dari pertanggungan jawab keimanan macam apapun jika kamu tidak berakal”. Oleh karenanya, menurut Bapak, akal sudah pasti berkedudukan di atas iman. “Pertajamlah akalmu ketimbang imanmu. Imanmu akan ngikut aja itu nanti.”, tutupnya tentang topik itu.

Selain topik ‘akal dan iman’ topik ‘akal dan iman’ topik ‘akal dan iman’, topik berikutnya yang diceritakan Bapak adalah ‘kafir yang soleh’ dan ‘muslim yang dzolim’. Bapak menceritakan bahwa majelis pengajiannya pernah membahas itu saat ramai kasus Ahok beberapa tahun lalu. Sampai sekarang keyakinan Bapak tak berubah bahwa ‘kafir yang soleh’ lebih baik ketimbang ‘muslim yang dzolim’. Argumentasi Bapak, yang berlawanan dengan teman-teman di pengajiannya, sederhana saja sebenarnya. Bapak berpendapat bahwa seorang muslim harusnya tidak melakukan tindakan dzolim. Jika ada muslim yang demikian, itu artinya ia sudah tidak “muslim” lagi. Muslim, dalam pengertian Bapak, adalah orang yang menempuh dan memberi jalan keselamatan sebagaimana kata asalnya, “aslama”. Muslim yang baik terutama ditandai oleh kemampuan dan tindakannya memelihara keselamatan bagi lingkungannya.

Selain itu, menyambung pandangannya tadi, Bapak juga berpendapat bahwa seorang kafir yang seumur hidupnya tidak pernah mengucapkan syahadat tapi mampu berbuat kebaikan dan kesolehan sosial adalah manusia yang jauh lebih berharga di matanya. Menurut Bapak lagi, jika orang yang tak bersyahadat itu sudah melakukan kesolehan sosial, itu artinya ia menjalankan prinsip-prinsip keislaman yang ‘rahmatan lil alamin’. Dalam hal ini ia “muslim”, yakni “orang-orang yang mengulurkan keselamatan”. Itulah hakikat ‘islam’ dan ‘aslama’ yang sesungguhnya kata Bapak. Aku termenung-menung sendiri di ujung telepon mendengarkan uraian Bapak itu.

Malam itu Bapak juga bercerita tentang beberapa bacaannya. Ia, dengan kemampuan matanya dan konsentrasinya yang sedang menurun, sedang menekuni buku Jalaludin Rahkmat dan Mun’im Sirri setelah beberapa bulan lalu menamatkan Gus Mus. Hal lain yang cukup mengejutkan saya malam itu adalah Bapak ternyata mengagumi Rocky Gerung. Meskipun di rumah Bapak tak ada televisi –tentang hal ini akan saya ceritakan di lain waktu–, namun Bapak sering menumpang nonton di tetangga sebelah khusus acara ILC dan berita-berita. Di situlah sepertinya Bapak jatuh kagum kepada Rocky Gerung, sosok yang menjawab pertanyaan lawan debatnya dan berargumentasi dengan “thas-thes”, yang artinya sigap, cekatan, dan lugas secara bahasa dan logika.

Tentang Rocky Gerung, Bapak mengingat satu hal yang dikatakannya berulang-ulang kepada saya, yakni perihal senyum Rocky Gerung saat menghadapi cecaran dan pertanyaan-pertanyaan dari lawan debatnya. Menurut Bapak, Rocky bahkan bisa menakar dengan baik argumentasi lawan debatnya. Jika cukup sepadan, ia akan berkomentar cukup panjang dan “thas-thes”. Namun jika tidak sepadan, Rocky hanya akan tersenyum. “Dan senyumnya mematikan, Ndu”, kata Bapak. Begitulah Bapak mengagumi cara berdebat dan logika berpikir seorang Rocky Gerung akhir-akhir ini.

Setelah bercerita tentang Gerung, Bapak lalu mengemukakan pikirannya perihal keutamaan bersyukur ketimbang berdoa. Menurut pengakuan Bapak di usia senjanya ini pemahamannya tentang doa berubah cukup jauh dibandingkan saat ia masih muda dulu. Katanya, di waktu mudanya dulu, ia sering mengucapkan doa secara rutin di tiap selesai solat dan di waktu-waktu tertentu. Bapak juga pernah bercerita betapa ia pernah menangis dalam doanya dan berharap bahwa anak-anaknya bisa kuliah semua. Saat itu, saat di mana Bapak menangis dalam doanya itu adalah saat saya mengabarkan bahwa saya telah lulus SMA. Yang membuat Bapak merasa tak berdaya adalah ke mana dan bagaimana caranya agar saya bisa melanjutkan pendidikan sementara Bapak tak memiliki kemampuan ekonomi yang memadai untuk membiayainya. Kondisi tak berdaya itulah yang membuat Bapak bermohon dan bermohon berulang-ulang hingga menitikkan air mata.

Sekarang, di usianya yang senja ini, Bapak malah jarang berdoa katanya. Bapak baru menemukan bahwa bersyukur jauh lebih utama ketimbang berdoa. Bapak lalu mengutip dalil yang menjelaskan hal itu. Katanya, “bersyukurlah engkau, niscaya akan Ku-tambah nikmat-Ku”, kurang lebih mengutip dalil. Bapak juga menambahkan bahwa dirinya kerap merasa malu untuk berdoa di hari-hari ini.

“Iya, Ndu, seringkali Bapak berdoa selama ini, ada yang terkabul ada juga yang tidak. Tapi yang sering bikin Bapak merenung itu waktu mengetahui bahwa ada banyak rahmat dan karunia yang nggak pernah Bapak minta, eh, malah dilimpahkan ke Bapak.” Saat mengatakan itu warna suaranya berubah saya rasakan. Ada kedalaman yang diucapkan dengan haru dan terbata-bata dalam suara itu.
“Itu sebabnya sekarang kalau habis solat Bapak lebih milih banyak mengucapkan rasa syukur ketimbang berdoa. Kalau menurut Pandu sendiri gimana?”
“Biar ditambah nikmatnya maksudnya, ya, Pak?”, gurau saya sambil memecah keharuan yang barusan lewat.
Kontan Bapak tertawa saat memahami saya yang sedang bergurau saat itu.
“Hehehe.. Mahatahu lah Alloh kalau tentang itu. Mosok Alloh nggak tahu bisik hati hambanya…”, jawab Bapak membalas gurauan saya. Saya sendiri tak memberi jawaban atas pertanyaan Bapak. Saya hanya ingin mendengarkan pikiran-pikiran Bapak malam itu.

Topik selanjutnya saya tak terlalu ingat lagi karena pembicaraan malam itu berlangsung cukup panjang hingga berjam-jam. Tapi saya dapat merasakan keriangan hati Bapak saat saya mengatakan Sang dan Yayi, cucu-cucunya itu, memang sudah menanyakan kapan ke rumah kakeknya di ujung pembicaraan kami malam itu.

Begitulah, sebentar lagi Ramadan akan berakhir dan lebaran akan tiba. Saya sudah tak sabar untuk bisa cepat-cepat pulang ke rumah dan cerita berpanjang-panjang hingga dini hari sambil memijiti tubuh Bapak yang sudah terlihat ringkih di tahun-tahun belakangan ini. Saya benar-benar ingin melewati tahun-tahun yang tersisa dari usianya itu, menemaninya ngobrol, dan menjawab banyak rasa penasarannya tentang perkembangan dunia ilmu pengetahuan semampu saya –hal yang memang sangat ingin ia ketahui karena ia tak pernah mengenyam bagaimana rasanya duduk di bangku kuliah. Semoga tahun-tahun untuk itu cukup panjang sehingga Bapak bisa merasa bersyukur –atau setidaknya tidak merasa menyesal– memiliki saya sebagai anaknya.

Saya rindu, dan semoga saya bisa menemani, Pak…[ptx]

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai