kopi travel blog

jauh berjalan banyak dilihat

Di Atas Segalanya, Orang Mesti Bertahan

Author : Herman Attaqi

Banda Neira, duofolk-pop, dalam lirik lagu Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti memulai dengan kata-kata yang memberi gambaran tentang hidup yang getir, hidup yang kalah.

Jatuh dan tersungkur di tanah aku, berselimut debu sekujur tubuhku, panas dan menyengat, rebah dan berkarat.

Kedalaman lirik lagu ini, serta kesederhanan dan musikalitas yang kuat, seperti membawa kita hanyut diseret arus kesedihan yang dalam dan deras. Entah mengapa saya selalu terpesona oleh kalimat yang mampu menggugah emosi, serta mengiris-iris jiwa, hingga membawa saya turut merasakan suasana yang coba divisualisasikan oleh penulis lirik lewat untaian kata-katanya.

Aldi Novel Adilang, Pemuda 18 tahun asal Sulawesi, yang terombang-ambing selama 49 hari di tengah Samudera Pasifik karena rompong yang ditumpanginya terlepas dari ikatan, disapu badai, dihempas gelombang laut, merasakan betul bagaimana kesakitan, kesusahan, keperihan, dan kesedihan kala ditanggung sendirian. Apa yang ia lakukan? Hanya bertahan dan menunggu pertolongan datang. Di tengah putus asa dan harapan, ia menyambung hidup dengan menangkap ikan, hingga meminum air laut yang disaring dengan menggunakan bajunya. Sampai tanggal 31 Agustus 2018, ia diselamatkan oleh kapal berbendera Panama menuju Jepang di dekat Pulau Guam.

Kisah Aldi, tentu mengingatkan kita dengan Pischine Molitor “Pi” Patel, seorang anak berusia 16 tahun yang diceritakan dalam novel Life of Pi karya Yann Martel. Bagaimana Pi bertahan hidup dalam sekoci bersama seekor Hyena, seekor Zebra yang kakinya patah, seekor Orang Utan Betina dan seekor Harimau Benggala yang satu persatu harus dikorbankan sebagai konsekwensi dari rantai makanan, hingga yang tersisa hanya Pi dan Richard Parker, Sang Harimau Benggala.

Sebagaimana Aldi, dan juga Pi, saya juga meyakini bahwa setiap orang akan menggunakan nalurinya yang paling primitif untuk tetap bertahan hidup dalam keadaan yang paling terpuruk. Secara alamiah, setiap makhluk akan beradaptasi dengan gerak perubahan dunia yang kadang tak terkendali, dengan satu tujuan, yakni agar tetap eksis dalam rantai makanan.

Persis frasa yang selalu dituliskan oleh Ernest Hemingway diakhir surat-suratnya, Il Faut d’Abord Durer, di atas segalanya, orang mesti bertahan.

Saya tentunya menaruh hormat kepada orang-orang seperti Aldi dan juga Pi yang fiktif, tentang keteguhan untuk lebih memilih hidup ketimbang menyerah dan mati. Namun terlintas juga di pikiran saya tentang orang-orang yang hidup berkeluh kesah, meski bernafas dalam tubuh yang sempurna, kaki, tangan, mata, mulut dan otak seharusnya sudah cukup untuk menjalani hidup dengan lebih baik. “Hidup ini sederhana, yang rumit itu hanyalah tafsirannya,” tutur Pramoedya Ananta Toer.

Pada tahun 2013, Telegraph, menulis hasil penelitian yang dilakukan oleh sebuah perusahaan deodoran Sure di Inggris, yang kemudian ditulis kembali oleh Tirto.id dalam sebuah esai yang ditulis Yulaika Ramadhani, bahwa hal yang terpenting dalam hidup adalah memiliki keamanan finansial. Hasil penelitian itu menyebutkan perempuan merasa aman secara finansial di umur 39, berbeda dua tahun dari laki-laki, yakni umur 41 tahun. Yang menarik adalah ada sekitar 43 persen laki-laki menyatakan bahwa menjadi seorang Ayah adalah hal yang membahagiakan dalam hidup mereka.

Problematikanya justru terlihat dalam laporan Bloomberg, yang juga dikutip oleh Tirto.id, bahwa pekerja yang usianya lebih tua cendrung tidak bahagia dalam pekerjaan mereka, dibandingkan rekan mereka yang lebih muda. Satu dari enam pekerja di Inggris yang berusia di atas 35 tahun mengatakan mereka tidak berbahagia. Hampir sepertiga orang berusia di atas 55 tahun mengatakan mereka merasa tidak dihargai, sementara 16 persen mengatakan mereka tidak memiliki teman di tempat kerja.

Namun ada yang tak terungkap dalam hasil penelitian tersebut, apakah sebenarnya faktor yang menyebabkan kebahagiaan itu? Kenapa sebagian orang begitu (terlihat) rapuh?

Badan Pusat Statistik (BPS) dalam laporan tahun 2017 menyatakan Indeks Kebahagiaan orang Indonesia dalam skala 0-100 adalah 70,69. Adapun dilihat dari status perkawinan, Indeks Kebahagiaan penduduk yang belum menikah cendrung lebih tinggi, 71,53, dibandingkan mereka yang berstatus perkawinan yang lain.

Perkawinan, atau hal lain yang terekam maupun tidak dalam berbagai penelitian mungkin menjadi faktor-faktor pemicu ketidakbahagiaan hidup. Erich Fromm memberi penjelasan filosofis terkait problematika manusia modern ini, dengan apa yang dinamakan sebagai alienasi, saat manusia merasa terasing dari dirinya sendiri. Ia mengatakan, di antara banyak bentuk alienasi, yang paling sering muncul adalah alienasi bahasa. Jika saya mengungkapkan perasaan dengan mengatakan, “aku mencintaimu,” kata ini diartikan sebagai indikasi sebuah realitas yang di dalam diri ‘aku’, yakni kekuasaan mencintai yang ‘aku’ miliki. Ketika cinta diucapkan, seolah-olah ‘aku’ merasa bahwa ‘aku’ telah memilikinya, padahal ia baru sebentuk pemikiran tentang cinta.

Dan kita tak bisa menghindari alienasi tanpa berkata-kata. Maka orang harus berhati-hati mengeluarkan kata, karena pada setiap kata yang diucapkan, akan berpotensi menggantikan dirinya dengan sebentuk pengalaman yang hidup. Belum lagi alienasi dalam bentuk lain yang juga diciptakan sendiri oleh manusia, seperti ide, seni, teknologi, pekerjaan dan lain sebagainya yang mengancam manusia teralienasi dari dirinya sendiri. Inilah problem paling pelik manusia modern.

Sejarah, bergerak seperti spiral. Hari senin ini akan pergi, tapi kita akan bertemu kembali senin depan, dan senin depannya lagi. Tapi senin ini sejatinya tak akan pernah sama dengan senin yang lalu atau yang akan datang, meski sama-sama hari senin. Ia berbeda baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Pun, begitu jua dengan kata-kata dalam lirik Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti. Jatuh-tersungkur, panas-menyengat, rebah-berkarat, semua telah dan akan kita temui dan alami dalam perjalanan hidup dengan kuantitas dan kualitas yang tidak sama.

Yang kita butuhkan, bisa jadi, bukanlah bahagia. Cobalah lihat, kurang besar apa tekanan hidup yang dialami (bahkan telah terlewati) oleh Aldi dan Pi? Mungkin kita hanya butuh sesuatu yang primitif yang sudah tertanam di dalam diri kita, yakni bertahan hidup. Untuk tidak mati hari ini.

Dalam pengantar buku Dari Penjara Ke Penjara yang ditulisnya dalam Penjara Ponorogo, September 1947, Tan Malaka mengatakan dengan bersahaja mengapa ia menulis, “maka timbul pikiran untuk menulis, meskipun hanya untuk mengisi waktu saja.” Tan Malaka dengan enteng mengatakan bahwa tugas menulis itu bukanlah sesuatu yang harus dipaksakan sebagai tugas mulia dan megah, cukup dengan mengatakan bahwa menulis hanya sekedar mengisi waktu. Sesederhana itu.

Begitu pula hidup, kata Hemingway, “di atas segalanya, orang mesti bertahan.”

Meski, pada akhirnya, Tan Malaka mati ditembak. Ernest Hemingway mati dengan menembak dirinya sendiri. Tapi mereka telah meninggalkan sebuah pelajaran penting, bagaimana manusia menjalani hidup yang, kadang, terasa amatlah berat untuk ditanggungkan. Tan Malaka tetap berjuang untuk kemerdekaan, bahkan dengan merelakan kemerdekaan dirinya terenggut, untuk sesuatu yang diyakininya sebagai kemerdekaan seratus persen bagi bangsanya. Ernest Hemingway meninggalkan karya, seperti The Old Man and The Sea, yang mengajari kita untuk senantiasa teguh dalam bertahan hidup, meskipun kita tahu bahwa pada akhirnya akan kalah.

Ini senin sore yang teramat cerah. Secangkir kopi saya siapkan sembari menikmati penggalan berikutnya dari lagu Banda Neira yang pada 23 Desember 2016 menyatakan diri bubar sebagai sebuah grup musik. Meski kita tahu pada akhirnya manusia mati, atau grup band kesayanganmu bubar, tapi hidup terlalu indah untuk dimurungkan.

Yang patah tumbuh yang hilang berganti. Yang hancur lebur akan terobati. Yang sia-sia akan jadi makna. Yang terus berulang suatu saat henti. Yang pernah jatuh kan berdiri lagi.***

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai