Author : Steven Gambardella
Pada tahun 1765, Denis Diderot, seorang Penulis Prancis, mendapatkan sebuah jubah baru untuk mengganti jubah kesayangannya yang sudah lusuh. Akan tetapi jubah baru itu justru jadi masalah, karena tiba-tiba saja barang miliknya yang lain malah kelihatan jadi aneh ketika disandingkan dengan jubah barunya itu. Niat yang awalnya ingin terlihat elegan, malah menimbulkan ketidakserasian.
Diderot juga mengganti kursi jeraminya dengan kursi kulit dari Maroko. Ia pun menukar meja tulisnya dengan yang lebih mahal dan juga mengganti hiasan dinding rumahnya. Semua itu kemudian menjebaknya ke dalam lilitan hutang. “Saya dulunya adalah Tuan bagi apa yang saya pakai,” tulis Diderot, “tapi sekarang malah jadi budak bagi semua yang baru saya beli.”
Perbedaan Antara Keinginan dan Kebutuhan
Mengapa kebutuhan manusia cendrung lebih sedikit bila dibandingkan dengan keinginannya yang tampak lebih beragam? Sebab kebutuhan itu sudah bawaan dari diri kita, sedangkan keinginan lebih kepada adanya motif sosial di dalamnya.
Jika saya menginginkan sesuatu, saya menjadi semakin tidak bebas. Karena keputusan saya itu didorong oleh hasrat, bukan karena kebutuhan yang harus dipenuhi. Kita baru bisa bebas ketika tidak terlalu menginginkan sesuatu, ketika kita tidak mempunyai banyak pilihan. Semakin sedikit yang kita ingini, semakin bebaslah kita.
Agak absurd memang. Kebebasan, tentunya, berhubungan dengan pilihan. Namun itu adalah kebebasan dalam makna yang lain. Karena bagaimanapun juga, manusia bisa saja diperbudak oleh sesuatu yang bersifat materi maupun immateri.
Kebebasan itu juga relatif dan tidak absolut. Pikiran manusia bisa jadi semacam penjara justru bagi orang yang memiliki kekayaan, tapi sebaliknya bisa jadi sebentuk kemerdekaan bagi orang yang kurang berada. Dan tentu saja, kita membutuhkan penjelasan bagaimana hubungan sebab akibat dari hal tersebut.
Kehendak Bebas dan Determinisme
Sejarah filsafat ditandai dengan perdebatan yang tak pernah selesai tentang ide bahwa jika di alam raya ini berlaku hukum sebab akibat, lalu bagaimana mungkin kita bisa memiliki kehendak bebas?
Tentu saja, jika segala sesuatu diatur dalam hubungan sebab akibat, maka manusia juga termasuk dalam aturan itu. Itu berarti semua yang kita lakukan — bahkan yang akan terjadi — diatur oleh sebab yang berada di luar kendali kita. Faktanya, apakah kita memang tidak bisa mengendalikan apapun?
Ada tiga pandangan filsafat yang terkait hal ini;
Hard Determinism adalah pandangan yang meyakini bahwa kehendak bebas itu sesuatu yang tidak mungkin. Bahkan kaum determinis yang paling radikal percaya jika tindakan dan pikiran manusia telah tercatat jauh sebelum manusia ada.
Libertarianism (hampir sama sebenarnya dengan Political Libertarianism) adalah paham atau ide bahwa manusia memiliki kehendak bebas. Pilihan kita dalam hidup bisa saja dipengaruhi (influenced by), bukan ditentukan sepenuhnya (determined by), oleh faktor eksternal. Libertarianisme meyakini bahwa kita bertanggung jawab penuh atas tindakan-tindakan kita.
Compatibilism menerima ide tentang hubungan sebab akibat yang terjadi karena determinisme alam raya. Namun paham ini juga mencoba membangun rekonsiliasi antara ide tentang kehendak bebas dengan yang menerima (meyakini) paham determinisme. Karenanya, Compatibilism, disebut juga sebagai “soft determinism”.
Sebagian besar Kaum Stoa berada pada paham compatibilsm, sebagian lagi menjadi sangat deterministis, tetapi tidak ada yang meyakini paham Libertarianisme. Alasannya sederhana, karena kaum Stoa adalah para Panteis, yakni mereka yang percaya bahwa Tuhan adalah manifestasi dari alam raya. Jika Tuhan ada di sana (alam raya), itu artinya alam raya ini pasti ada Yang Mengatur, makanya tidak ada tempat bagi kehendak bebas di alam yang merupakan manifes Tuhan Yang Maha Sempurna.
Kaum Stoa memahami alam raya ini sebagai sebuah ilmu (logos) istimewa (tidak ada istilah yang tepat untuk menggambarkan atau pun memaknainya dengan logika yang paling pas) yang meliputi semua hal, termasuk juga kehidupan manusia, serta dijalankan dengan begitu sempurna.
Alam semesta ini bisa jadi terlihat cacat atau tidak sempurna, tapi sejatinya hal itu disebabkan oleh pemahaman kita yang tidak utuh. Kenapa? Karena kita hanya kepingan kecil saja dari keseluruhan semesta ini. Sebagai kepingan, kita tak akan mungkin berdiri sendiri dengan bebas di alam raya ini tanpa adanya hubungan yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya.
Masalah Dalam Kehendak Bebas
Masalah dalam kehendak bebas adalah ketidaktepatan logikanya. Untuk mengendalikan takdir secara penuh, kamu harus bisa menjadi penyebab bagi dirimu sendiri. Bagaimana mungkin?
Nietzsche, dalam kritiknya pada teori kehendak bebas, yang juga mirip dengan pemikiran Baron Von Munchausen mengatakan ide kehendak bebas itu seperti menarik orang yang tenggelam dengan sehelai rambut.
Mesti ada sebuah sebab bagi “Saya” yang membuat “Saya” berpikir bahwa saya seorang yang bebas. Namun sebab itu bermakna bahwa saya tidak sepenuhnya bebas karena sebab itu sendiri berada di luar kehendak saya. Bahkan jika saya adalah “sebab” bagi diri saya sendiri, yakni sesuatu yang telah harus ada sebagai sebab pertama, itu juga berarti “sebab” bagi diri saya. Dan kita bisa tarik mundur terus mencari sebab awal yang, tentunya, tak terbatas itu hingga saya sepenuhnya menyadari tidak akan pernah bisa menjadi seorang yang bebas.
Banyak pengikut Kristiani percaya dengan kehendak bebas. Jika kamu melakukan dosa, kamu akan masuk neraka dan seandainya kamu melakukan kebaikan, maka kamu akan masuk ke dalam surga. Demikanlah pentingnya kehendak bebas sebagai dasar bagi pengadilan di hari akhirat nanti.
Tapi justru di sinilah kontradiksinya, ketika kehendak bebas manusia ditentukan dari kekuatan supernatural atau Tuhan. Yang muncul kemudian adalah soal tanggung jawab dan, bahkan, dosa. Jika hidup ditentukan oleh sebab akibat yang datang dari faktor luar, tentunya kita tidak bisa mengukur setiap tindakan yang kita lakukan.
Jawaban dari ajaran Kristen atas masalah ini adalah (keterkaitan) Tuhan dan jiwa manusia. Dosa adalah konsekwensi yang tak terhindari dari kehendak bebas manusia. Sementara itu, filsuf Materialis menolak soal dosa ini. Jika kita menerima determinisme, itu berarti juga bahwa kita menerima kesimpulan semua orang tidak punya dosa, bahkan jika mereka melakukan tindakan kriminal sekalipun.
Stoikisme dan Determinisme
Chrysippus adalah seorang filsuf Stoa yang paling terkenal di masanya. Ia kurang begitu dikenali oleh generasi sekarang karena banyak karya tulisnya hilang. Kita bisa mengetahui pemikirannya justru dari para penulis, seperti Cicero.
Chrysippus menjadi Kepala Sekolah Stoa untuk orang Athena sekitar tahun 230 SM dan dipercaya sebagai filsuf Stoa yang cerdas dan produktif. Ia juga yang merumuskan dasar filsafat Stoisisme yang kita kenal sekarang dengan rumusan doktrin Zeno of Citiumnya, sebagai karya orisinilnya.
Stoisisme sebagai filsafat yang masih baru ketika itu, tentunya mendapatkan tantangan dari sekolah lain di Athena. Notably the Academy, sekolah yang didirikan oleh Plato, dan Skeptics, sekolah yang mengembangkan pemikiran yang berbasis keragu-raguan, mempertanyakan pandangan kaum Stoa.
Sekolah Kaum Stoa ini berasal dari, yang awalnya, sekolah Kaum Sinis, sebuah aliran filsafat yang pertama sekali memusatkan perhatiannya pada Etika. Kaum Stoa sering ditantang berdebat dalam soal-soal kehendak bebas karena konsepsi panteistik mereka sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.
Dalam mempertahankan paham Stoisisme, Chrysippus menyusun sebuah sistem filsafat yang terbagi menjadi tiga bagian: logika, etika dan fisika. Hingga di bawah kepemimpinannya, Stoisisme menjadi sistem pemikiran yang sangat mapan. Seperti penjelasan Chrysippus tentang takdir yang berada dalam tiga bagian pokok dari pemikiran Stoisisme tersebut. Ia membedakan takdir yang disebabkan oleh faktor internal (mental) dan faktor eksternal (fisik). Ia menggunakan metafora sebuah silinder sebagai ilustrasi dari poin pemikirannya. Jika kita dorong sebuah silinder di atas permukaan yang datar, ia pasti akan menggelinding. Dorongan itulah yang menjadi sebab menggelindingnya silinder. Meskipun bentuk permukaan silinder — sebagai sebuah instrinsik properti — yang membuatnya bisa menggelinding. Jika kita dorong sebuah kubus, umpamanya, ia tak akan bisa menggelinding, karena secara alami kubus bukanlah benda yang bisa digelindingkan.
Sekarang pembahasannya kita naikkan lagi dengan contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Katakanlah saya “menyuap” seorang sipir untuk menemui seorang kawan di dalam penjara. Segepok uang tunai yang saya persiapkan — sebagai sebab eksternal — tidak akan jadi ‘sebab penting’ penyuapan itu akan berhasil. Faktor terpenting berhasil tidaknya penyuapan itu adalah tinggi rendahnya nilai moral sang sipir. Seperti permukaan silinder yang membuatnya bisa menggelinding, sipir penjara juga memiliki pikiran dalam dirinya untuk memutuskan tindakan yang akan dilakukannya. Tindakan kita ditentukan oleh sebab-sebab eksternal dan internal yang jelimet. Namun, meskipun ada perbedaan antara penyebab internal dan eksternal, kaum Stoa percaya bahwa tindakan kita tetap tergantung pada diri kita. Chrysippus menjelaskan mengenai ‘keputusan’ itu sebagai sebab primer dari tindakan kita.
Tanggung Jawab
Kaum Stoa menghindari penggunaan frasa “kehendak bebas” dalam konteks takdir. Apakah sang sipir mau menerima suap atau tidak, terserah dia saja, tapi hal ini bukanlah sebuah pilihan yang bebas. Pilihan sipir itu ditentukan oleh pikiran internalnya. Kita memiliki karakter yang merupakan kombinasi dari sebab internal dan eksternal yang kompleks yang kemudian membentuk watak.
Kita bukanlah makhluk yang tak berkarakter, yang bereaksi karena pengaruh eksternal dan tindakannya bisa diprediksi sepenuhnya seperti sebuah silinder. Kita juga tidak bisa membuat pilihan spontan tanpa pengaruh eksternal. Sederhananya kita tidak akan bisa eksis tanpa alasan-alasan di atas.
Bagi kaum Stoa, pertimbangan etis adalah sesuatu yang semua orang bisa mengendalikannya. Epictetus, salah seorang filsuf Stoa, menyebutnya dengan prohairesis. Prohairesis itu turunan dari karakter. Tapi ini baru separuh jalan menuju apa yang disebut sebagai tanggung jawab. Jika karakter itu telah tertanam dalam diri kita, bahkan menjadi ‘sebab’, kita pun masih bisa berargumentasi bahwa kita tetap tidak punya kontrol penuh atas pertimbangan kita.
Jika sipir penjara tidak memiliki kontrol penuh atas ‘penyuapan’ tersebut, bagaimana dia bisa secara moral dikatakan tercela karena menerima suap? Hal inilah yang membingungkan bagi Chrysippus. Cicero mengatakan jika Chrysippus berusaha untuk “mengambil jalan” tengah antara kehendak bebas dan determinisme serta “menyelinap masuk ke dalam kesulitan dalam menemukan konsepsi yang pasti tentang takdir.”
Dalam perspektif saya (penulis), ide Chrysippus bisa diterima. Kita terlalu mudah keliru melihat bahwa “kehendak” adalah satu kesatuan yang utuh, sementara pada saat yang sama, ia adalah kumpulan dari banyak hal dari berbagai tingkatan “kebebasan”.
“Kehendak” atau “karakter” adalah determinan, akan tetapi determinasinya bisa lebih atau kurang. Kita bertanggung jawab dengan lebih besar atau lebih kecil dari tindakan-tindakan kita, tapi tak akan pernah sepenuhnya bertanggung jawab.
Inilah bentuk keistimewaan alami manusia sebagai hewan sosial. Wajarlah kiranya di mata hukum, anak-anak dan orang sakit mental tidak dikenai tanggung jawab apapun. Kita seharusnya berpikir bahwa “kehendak bebas” baik itu kebebasan dalam arti yang sempit ataupun luas, tergantung dari perkembangan karakter manusianya. Refleksi (perenungan) sangat penting dalam hal ini dengan tujuan untuk mengolah kebajikan. Pengalaman hidup memberikan banyak ruang untuk merefleksikan diri agar kita bisa meraih hidup yang lebih baik.
Kesalahan yang dilakukan seorang pendosa sebaiknya dilihat berdasarkan dari bagaimana perkembangan karakternya, alasan yang meringankan harusnya dijadikan sebagai bahan pertimbangan di dalam menentukan hukuman.
Seneca, seorang Filsuf Stoa dan Senator Romawi, mengatakan bahwa hukuman seharusnya tentang mengkoreksi, bukan menghukum. Hukuman itu biasanya lebih menitikberatkan kepada kesalahan, sebaliknya koreksi bisa menjadi semacam pencerahan bagi penjahat atas kejahatan yang dilakukannya, dan hal ini menekankan kepada pengembangan karakter.
Derajat kebebasan yang kita miliki (beserta tanggung jawabnya) dalam setiap situasi, tergantung atas dua hal: seberapa besar cakupan pilihan yang tersedia, dan bagaimana kemampuan kita mengolah pilihan-pilihan tersebut. Kaum Stoa lebih memfokuskan perhatiannya pada poin kedua.
Standar Ganda Dalam Kebebasan
Tujuan dari Stoisisme adalah kebajikan (virtue), yakni bagaimana menjalani kehidupan yang selaras dengan alam. Segala sesuatu di alam semesta ini memiliki orientasi, atau apa yang disebut oleh Kaum Stoa dengan istilah oikeiosis. Oikeiosis dari alam semesta (atau Tuhan) yang disusun bagi umat manusia adalah sesuatu yang rasional, yang tidak dimiliki oleh makhluk ciptaan lainnya.
Berkeinginan (to want) adalah hasrat, sedangkan berkebutuhan (to need) adalah keperluan. Hasrat bersumber dari faktor eksternal, sedangkan keperluan bersumber dari faktor internal. Contohnya, jika saya haus, segelas air putih akan cukup untuk melepaskan dahaga saya. Sebotol air kemasan yang mahal, meski bisa memuaskan dahaga saya, sebenarnya tidak begitu diperlukan.
Apa yang memotifasi saya untuk minum dari air yang mahal? Ini bukanlah kebutuhan internal, tapi telah menjadi hasrat yang disebabkan oleh faktor eksternal. Bisa jadi disebabkan oleh hasrat untuk memikat seseorang, atau karena cara marketing air tersebut telah membuat saya berpikir jika saya meminum air itu akan membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik.
Ada sebuah dimensi yang emosional dalam keinginan, seperti ketidakpuasan ketika sesuatu itu tidak bisa diraih. Emosi (atau Pasion sebagaimana istilah Kaum Stoa) adalah dasar sebuah pertimbangan yang buruk, atau apa yang disebut juga oleh kaum Stoa sebagai apatheia, yakni memaknai kebebasan dari pasion.
Dalam diskursusnya, sebagaimana yang dicatat oleh Arrian, Epictetus mengatakan tentang makna dari keinginan, yakni “kebebasan tidaklah dalam rangka memenuhi hasrat, tapi menghilangkannya.”
Kebebasan adalah pemenuhan kebutuhan diri secara rasional. Hasrat atas kekayaan, seks, menjadi terkenal dan kemewahan didorong oleh sebab dari luar diri — keinginan tak akan pernah cukup untuk memuaskan hasrat manusia. Keinginan akan sangat sulit untuk dilawan, ketika pasion justru yang berkuasa atas diri kita. Yang harus selalu diingat adalah bahwasanya kita bisa memiliki kontrol atas emosi-emosi kita.
Marcus Aurelius menulis dalam Meditasinya, “kamu memiliki kekuasaan atas pikiranmu, bukan oleh kejadian yang terjadi di luar dirimu. Sadarilah hal ini dan kamu akan temukan kekuatanmu.”
Kaum Stoa berpendapat bahwa jika kita semakin rasional, maka kita akan lebih bebas. Pilihan yang rasional itu sejatinya akan sangat mudah karena kita hanya punya satu pilihan, yakni pilihan yang didasarkan atas kebutuhan.
Kebebasan, karenanya, adalah sebuah standar ganda. Kebebasan adalah pilihan, akan tetapi untuk menjadi benar-benar bebas, kita harus menghindari pilihan. Inilah alasan kita hidup dalam kebajikan (virtue), yakni menghilangkan keinginan dan menjadi sebebas mungkin. Tidak akan ada banyak pilihan ketika kita tidak berkeinginan, dan berkeinginan bukanlah pilihan seorang yang rasional.
Terima kasih telah membaca. Saya berharap Anda belajar hal baru.
____
Diterjemahkan oleh Herman Attaqi dari esai berjudul Chrysippus: Freedom of the Mind
The Stoic Difference Between “Need” and “Want”. Sumber asli bisa dibaca di sini
*) Penerjemahan ini murni untuk kepentingan pribadi dan bukan untuk tujuan komersil.
